Marry me, Brother

Marry me, Brother
Sumpah seorang dokter



Keesokan harinya, Indhi mengantarkan mamy ke kantor polisi untuk bertemu dengan Mariam, namun sayangnya mereka tidak di perbolehkan mengunjungi Mariam karena alasan kondisi kesehatan Mariam. Akhirnya Indhi dan momy memutuskan pergi ke makan Zean.


Indhi memarkirkan mobilnya di sekitar komplek pemakaman cinta pertamanya itu, dengan langkah berat kedua wanita itu menyusuri jejeran batu nisa yang tersusun rapi. Lima menit kemudian mereka tiba di makam milik Zean.


Mamy duduk sambil mengusap batu nisan yang bertuliskan nama putranya, air matanya tak henti-hentinya menetes saat mengingat putranya sudah hampir lima tahun pergi.


"Zean, mamy datang nak. Maafkan mamy baru bisa mengunjungimu. Selama empat tahun ini mamy belajar mengikhlaskanmu dan kali ini mamy benar-benar ikhlas nak," ucapnya dengan air mata berderai.


Indhi yang duduk di sebelah mamy tak kuasa menahan air matanya, sungguh rasa bersalahnya kembali merasuk di dada, seandainya dulu ia menuruti Zean untuk melaporkan penguntit yang mengikutinya selama dua tahun, mungkin Zean masih hidup dan bahagia bersamanya.


"Zean, lihatlah. Mamy datang bersama Indhi. Indhi sudah bahahia sekarang dan mamy juga ikut bahagia karena akhirnya Indhi bisa melanjutkan hidupnya nak. Tenang di sana nak."


Mamy menoleh ke arah Indhi, wanita yang tak lagi muda itu mengusap air mata di wajah Indhi. "Terima kasih karena Indhi sudah merawat makam Zean selama ini. Terima kasih juga karena Indhi akhirnya bisa melanjutkan hidup. Mamy sempat takut kalau Indhi masih terpuruk, namun kini mamy bahagia nak, mamy sangat bahagia karena Indhi telah menemukan kebahagiaan Indhi. Zean pasti sangat bahagia melihatmu bahagia!"


Tak ada yang bisa Indhi ucapkan, wanita hamil itu hanya bisa bersyukur sebesar-besarnya karena keluarga Zean tak pernah menyalahkannya tas insiden yang mengakibatkan Zean meninggal dunia. Suara tangis bergema di komlek pemakaman tersebut, kedua wanita itu saling memeluk dan menguatkan satu sama lain.


.


.


.


Seminggu kemudian, Indhi sedang bertugas di UGD karena tempat itu kekurangan dokter setelah insiden kecelakaan beruntun yang memakan banyak korban. Indhi duduk di lantai setelah semua pasiennya mendapatkan perawatan, dari kejauhan Dita datang menghampiri dan membawakan air minum untuknya.


"Minum dulu, kamu pasti kelelahan," Dita ikut menyusul duduk di lantai dengan kaki yang di luruskan.


"Makasih Dit," Indhi meraih botol mineral tersebut lalu segera menghabiskannya.


"Sepertinya kita kekurangan dokter Ndi, coba kamu bicarakan pada kak Ega untuk menambah Dokter Umum lagi," ucap Dita memberikan saran.


"Iya Dit, nanti aku bicarakan pada kak Ega."


Indhi dan Dita segera bangun, keduanya menghampiri perawat yang mendorong brankar sendirian karena memang saat itu UGD sedang sangat sibuk.


"Apa yang terjadi sus?" tanya Indhi dengan segera.


"Pasien rujukan dari rumah tahanan dok, sepertinya pasien mencoba bunuh diri," jelas perawat tersebut.


Indhi terkejut bukan main saat akan memeriksa pasiennya, tiba-tiba tangannya bergetar melihat wanita tua tak sadarkan diri dengan mulut berbusa dan kulit tubuh yang membiru.


"Dokter, anda tidak papa?" tanya perawat yang bingung melihat Indhi hanya diam dan tak segera mengobati pasiennya.


"Ndi, kamu baik-baik saja kan? Lebih baik kita minta bantuan dari dokter yang lain,"ujar Dita yang tak kalah terkejutnya saat melihat pasien tersebut.


Indhi menoleh ke kana dan ke kiri, matanya yang memerah memperhatikan setiap dokter yang sibuk dengan pekerjaan masing-masing, lalu Indhi kembali menatap pasiennya yang tak berdaya itu.


"Aku seorang dokter. Ingat sumpahmu Ndi, bahkan meskipun seorang penjahat kau tetap harus mengobatinya!"


Indhi tengah berperang dengan dirinya sendiri, di satu sisi ia berharap wanita tua yang tak lain adalah Mariam menikmati kesakitannya lalu mati, namun di sisi lain Indhi tak bisa melakukannya karena ia seorang dokter.


"Sus, siapkan peralatan untuk membersihkan lambungnya. Sepertinya wanita ini over dosis!"


"Baik dok."


"Kamu yakin akan mengobatinya Ndi?" tanya Dita sedikit ragu, ia takut jika Indhi akan bertindak di luar kendali.


"Aku seorang dokter Dit. Aku harus menolongnya terlepas siapa dia," jawab Indhi bijaksana.


"Kamu memang sangat baik Ndi."


BERSAMBUNG...