
"Beri aku waktu sebentar lagi, aku harusl bertemu Dita dan memutuskan apa yang harus aku lakukan," ucap Indhi dengan ragu.
"Baiklah, aku akan memberimu waktu," jawab Ega dengan raut kecewa, pria itu lalu membungkuk, wajahnya tepat berada di depan perut istrinya. "Nak, ini dady, baik-baik di perut mamy, jangan bikin mamy sakit ya, dady mencintai kalian," ucapnya pada sang jabang bayi.
Ega kembali berdiri normal, di tatapnya wajah yang masih sangat ia rindukan. "Aku pulang, jaga dirimu dan anak kita baik-baik," pamitnya lalu ia berbalik dan melangkahkan kakinya menuju pintu.
Melihat punggung Ega yang semakin jauh membuat Indhi merasa begitu sedih, ia tak tahan lagi untuk tidak melihat wajah suaminya.
"Kak," panggil Indhi tanpa sadar.
Ega menghentikan langkahnya, pria itu berbalik sehingga mereka berdua saling berhadapan, untuk seperkian detik manik mata mereka saling mengunci. Kerinduan, rasa cinta dan ingin memiliki tergambar jelas di kedua bola mata masing-masing. Perasaan mereka tak bisa di bohongi, keduanya melangkahkan kaki untuk saling mendekat dan mengikis jarak di antara mereka. Detik selanjutnya alam bawah sadar mereka yang bekerja, segenap kerinduan mereka curahkan dalam sebuah ciu*man yang hangat dan lembut, namun hal itu tak berangsur lama karena menit selanjutnya ciu*man mereka seolah menuntut, respon alami tubuh mereka menginginkan lebih, keduanya hanyut dalam gairah yang tertahan sejak dua minggu yang lalu.
"Bolehkah?" tanya Ega setelah ciu*man mereka terlepas, sementara Indhi hanya mengangguk dengan kedua tangan melingkar di leher suaminya.
Seperti mendapat angin segar di tengah gurun, Ega tak ingin menyiakan momen yang amat di rindukannya, pria itu segera menyambar bibir sang istri dan melu*matnya dengan rakus, perlahan namun pasti, Ega telah menuntun istrinya lebih dekat dengan ranjang mereka.
"Apa bayi kita akan baik-baik saja?" tanya Ega yang seketika ragu begitu mengingat Indhi sedang hamil.
"Kata Nanda, selama kamu melakukannya dengan hati-hati, dia akan baik-baik saja."
"Aku akan melakukannya dengan pelan."
"Terima kasih sayang," ucap Ega setelah penyatuan mereka selesai, mereka kini berbaring dan saling memeluk, Indhi hanya mengangguk, wajahnya bersembunyi di dada sang suami.
"Kenapa kakak tidak mengeluarkannya di dalam?" tanya Indhi setelah sekian lama diam.
"****** ***** milikku tidak bagus untuk bayi kita," jawab Ega pelan.
"Benarkah, dari mana kakak tau?"
"Aku juga berkonsultasi dengan Dokter Nanda. Katanya meski mengandung protein, benihku sebenarnya tidak memiliki manfaat bagi perkembangan janin. ****** ***** justru akan berbahaya bagi janin. Zat dalam cairan tersebut akan memicu reaksi kontraksi dini sehingga bisa menyebabkan kelahiran prematur atau ancaman keguguran jika usia kehamilan masih muda," jelas Ega panjang lebar.
"Jadi kamu sudah nggak marah lagi kan?" tanya Ega lagi, jemarinya bergerak di punggung Indhi dan seperti menuliskan sesuatu di sana, I LOVE YOU.
"Jangan bicara lagi, aku mau tidur. Jangan bergerak sampai aku bangun!" jawab Indhi dengan cepat, wajahnya kembali bersembunyi di antara dada dan ketiak milik suaminya, aroma keringat sang suami membuat Indhi merasa nyaman, dan bahkan rasa mual yang di rasakannya beberapa hari kemarin seolah hilang hanya karena bau keringat sang suami.
Wanita hamil memang menakjubkan!
BERSAMBUNG...