Love Actually

Love Actually
Episode 99



Suasana fashion show kali ini menyita banyak perhatian. Bagaimana tidak, model yang ditampilkan merupakan model papan atas. Sedangkan suasana dibelakang layar sangat sibuk. Ini adalah pertama kalinya Sherly dan Cilla kembali bertemu untuk sebuah proyek.


"Udah dua bulan kan Sher kita gak ketemu?" tanya Cilla ketika ia masih menunggu untuk didandani.


"I'm busy, Cilla.." jawab Sherly.


"Aku tau. Aku denger kamu baru dapat tawaran jadi brand ambassador produk?"


"Yes. Finally, my dream..."


"Reaksi pacar kamu gimana?"


"Aku sibuk, aku gak ada waktu buat orang itu." jawab Sherly.


"Kalian putus?"


"Nope. Kalo aku putus sama dia, siapa yang sponsorin aku buat hidup disana?"


Cilla menggelengkan kepalanya. "Gila!" ucapnya. Ia menatap Sherly yang nampak cuek dengan jawabannya. Vino adalah adik ipar dari sepupunya. Itu berarti ia masih keluarganya. Bagaimana bisa Sherly mengatakan itu padanya.


Ia yakin jalan Sherly menuju sesuatu seperti sekarang tidak mudah. Tapi ia tidak bisa melupakan apa yang sudah terjadi. Itu memang bukan urusannya. Tapi jika menyangkut keluarganya, itu menjadi urusannya juga. Seseorang cepat sekali berubah. Ia akan menghubungi sepupunya untuk mengatakan keburukan Sherly.


"Kamu berubah, Sher.." ucap Cilla kembali.


"Ini adalah Sherly yang sesungguhnya, sayang.." jawab Sherly dengan senyum nyinyir.


"Ya, aku salah." jawab Cilla sedikit kesal.


Erika terbangun ketika merasakan sorot lampu mengenai wajahnya. Ia membuka matanya. Selama masa kehamilan ini, ia lebih sering tidur. Bahkan ketika suaminya pulang dari kantor, ia tidak dibangunkan. Ia melihat jam dinding. Pukul 2 pagi. Ia bangun untuk mencari suaminya.


"Kamu bangun, Jo?" tanya Andi yang berada di kursi kerjanya.


Erika menoleh. Ternyata suaminya ada dikamar. Ia terlihat sedang mengerjakan sesuatu.


"Lampu nya ganggu kamu tidur ya?" tanya Andi.


Erika menggelengkan kepalanya. Ia bangun dan menghampiri suaminya. "Kamu pulang jam berapa?" tanya Erika dengan menyipitkan matanya.


"Jam 10. Aku liat kamu masih tidur. Aku gak berani bangunin kamu." jawab Andi.


"Maaf. Aku gampang ngantuk. Kamu udah makan?"


"Udah." jawab Andi


"Aku bikinin kamu teh dulu." ucap Erika.


Andi langsung menarik tangan Erika sehingga ia terduduk di pangkuannya. " Gak usah. Udah cukup. Aku udah minum tadi dibuatin sama mama. Gimana hari ini? Aku kangen sama kalian.." bisik Andi sambil memeluknya.


Erika melingkarkan salah satu tangannya. "Aku juga.."


"Aku cinta sama kalian, Jo." bisik Andi.


"Aku tau.." jawab Erika sambil tertawa malu.


"Tadi Vino ketemu sama calon istrinya. Dia cantik sih. Keliatan wajahnya blasteran. Papanya itu katanya ada campuran Jerman. Tapi tadi aku gak ikut. Mama ngirim foto-foto mereka. Jujur aku cemas.." ucapnya.


"Kenapa?"


"Wajah Vino keliatan gak suka. Aku jadi kepikiran." jawab Erika.


"Gak usah kamu pikirin. Mana aku liat foto-fotonya.."


Erika melepaskan tangan yang melingkar leher suaminya. Ia mengambil handphonenya yang terletak tidak jauh dari tempatnya duduk. Ia membuka salah satu foto dan memperlihatkannya pada suaminya. "Ini yang namanya Sierra."


Andi mengangguk. "Tapi aku yakin Vino bakal suka. Siapa yang melewatkan wanita cantik kayak gitu."


"Kamu yakin?"


Andi menganggukkan kepalanya kembali. Ia tersenyum. "Aku yakin seribu persen."


Erika kembali melihat handphonenya. "Loh, ini Cilla lagi live.." seru Erika.


Erika membuka siaran langsung Cilla dan menyapanya. Tiba-tiba siaran itu mati digantikan oleh suara panggilan video.


"Halo!!!!" seru Cilla antusias.


Erika melambaikan tangannya. "Halo Cilla. Kamu lagi dimana? Ada acara?"


"Kak, malam ini aku ada fashion show di Paris. Hampir semua model disini model papan atas. Aku gugup kak..." seru Cilla.


"Ngapain mesti gugup?" tanya Andi.


"Kak Andi, udah gak usah ngomong ya! Aku mau ngobrol sama Kak Erika.." jawab Cilla.


Andi melingkarkan kedua tangannya ke perut Erika. "Oke. Kakak gak akan ikut campur.."


Cilla melihat kakak sepupunya berada tepat dibelakang Erika. Tapi ia menghiraukannya malam ini. "Kak Erika, adik kakak masih punya hubungan sama Sherly?"


Erika mengerutkan keningnya. "Emang kenapa Cil?"


"Emang kenapa?" tanya Erika bingung.


"Minggu depan aku pulang ke rumah. Nanti kita ngobrol banyak kak.. Bye!" seru Cilla.


"Gak jelas." ucap Andi.


Erika menghela nafas. Ia berdiri tapi ditarik oleh suaminya sehingga duduk kembali. "Mau kemana?"


"Aku mau tidur lagi. Aku udah dapet jawabannya." jawab Erika.


Andi ikut menghela nafas. "Punya istri gak peka. Emang kamu pikir setelah ganggu aku disini, aku bakal melepaskan kamu gitu aja?" goda Andi.


Erika tertawa pelan. "Aku gak ganggu kamu kok. Makanya aku mau tidur lagi."


Andi mengangkat tubuh Erika dengan mudah. "Enak aja. Gak ada tidur buat malam ini!" seru Andi sambil melangkah ke tempat tidur.


...***...


Vino membawa mobilnya ke kantornya. Ia baru saja memesan tiket ke Paris untuk bertemu dengan Sherly. Ia melangkah dengan cepat setelah sampai ke kantor. Ia melihat Dimas sedang berdiri didepan ruangannya. Ia tidak dapat menutupi rasa kesalnya hari ini.


Sedangkan Dimas menatap Vino bingung. Ia melihat wajah sahabatnya yang muram.


“Kenapa lagi?”


“Sherly gak mau terima telepon dari aku. Alasannya sibuk. Besok aku terbang ke Paris mumpung dia ada fashion show disana.”


Dimas mengikuti Vino masuk kedalam. “Bukannya dari awal kamu memang mau ke Paris?”


Vino hanya diam. Ia duduk di sofa diikuti Dimas. Perlahan ia membuka bungkus rokok dan mengeluarkan salah satu rokok itu. Ia menyesapnya pelan.


“Vin, gimana kalo dia nerima lamaran kamu saat ini?” tanya Dimas.


Vino langsung menatapnya.


“Tentu saja aku gak akan berfikir dua kali. Aku langsung nikahin dia. Itu yang aku mau dari dulu.”


“Trus Sierra gimana?”


Vino menyesap rokoknya kembali. “Dia udah dapat kompensasinya. Gak akan rugi kok”


Dimas menggeleng tidak setuju. “Aku gak setuju. Undangan udah dicetak. Sebagai pihak wanita, tentu aja mereka akan dirugikan. Kamu gak akan pernah tahu perasaan menanggung malu? Gimana perasaan Sierra ketika dia tahu dia akan batal menikah untuk kedua kalinya? Gimana kalo dia trauma?”


“Itu bukan urusan aku lagi. Lagian mereka udah mendapatkan kompensasinya uang itu. Udahlah dimas, jangan ikut campur. Aku tau kok mana yang baik dan buruk."


“Oh Oke. Sorry. Sebagai sahabat aku pikir kamu terlalu jauh membahas ini. Aku juga harus ingetin soal Sherly. Terakhir kalinya aku bilang kalo Sherly bukan wanita yang cocok sama kamu. " Dimas bangkit dari duduknya dan berjalan keluar. “Aku pulang duluan . Istri aku lagi ulangtahun."


Sierra melihat kalendernya. Hanya tinggal 1 minggu ia akan menikah. Hari ini terakhir kali ia melakukan persiapan. Semuanya telah siap 90%. Tante Firly telah mempersiapkannya dengan rapi. Melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah ibunya dan tante Sandra membuat hatinya nyaman. Hanya saja calon suaminya masih terlihat dingin. Mungkin karena ia baru mengenalnya.


“Sudah mau jadi pengantin saja melamun.” Ujar seseorang dibelakangnya.


Sierra membalikkan wajahnya. Ia terkejut melihat sahabatnya berada dikantornya. “Mili!!”teriak Sierra tanpa sadar. Ia meresponnya dengan memeluk wanita itu.


“Kenapa malah melamun? Bukannya menyambut aku. Aku tadi nunggu kamu di bandara.”


“Kamu gak bilang mau pulang.” Sierra bingung.


“Sebelum pulang aku telepon tante Firly. Mungkin lupa kasih tau kamu. Lagian kamu sudah dihubungi. Mentang-mentang mau nikah” Jawab Mili tanpa melepaskan pelukannya.


Mili dan Sierra telah berteman sejak kuliah. Mereka kuliah dengan jurusan yang sama yaitu fashion designer. Ia memang bercita-cita untuk membuat gaun pengantin sendiri. Tapi harapan tinggal harapan. Sayang, karena ayahnya ia harus memupus cita-citanya itu. Dan sekarang ia menikah pun harus memakai gaun rancangan orang lain.


“Gimana Paris?”tanya Sierra sambil menyesap jusnya. Mereka kini berada disebuah kedai yang tak jauh dari kantor Sierra.


“Kami semua kangen kamu, Sierra. Semua orang tanya kapan kamu kembali? Mereka sempet marah denger kamu dicampakkan laki-laki..” ucap Milli.


Sierra tersenyum tanpa bisa membalas ucapan sahabatnya.


“Kamu bahagia mau menikah?” tanya Milli hati-hati.


Sierra menyesap jusnya kembali. “Tentu aja. Semuanya senang. Mama keliatan bahagia”


“Perasaan kamu?”


“Gak penting. Ketika semua permasalahan teratasi oleh pernikahan ini, aku baik-baik saja.” Jawab Sierra kembali meneguk jusnya.


Mili meremas tangan Sierra. “Aku sedih. Kenapa jadi gini?"


Sierra tersenyum. Ia mengulurkan tangannya pada pundak Mili. "Aku baik-baik aja. gak usah cemas."


"Gimana dengan calon suami kamu? Apa orangnya baik?"


Sierra membalikkan badannya. "Kita belum pernah ngobrol."


Mili membelalakkan matanya. "Gimana bisa?"


"Bisa. Buktinya kami mau menikah. Aku gak peduli soal itu." Jawab Sierra. Jauh didalam hatinya iapun merasa sedih. Pria yang akan menjadi suaminya terlihat tidak peduli. Bagaimana dengan pernikahannya nanti?