
Menyerahkan suaminya pada wanita ini? Apakah ia sudah gila?
"Apa maksud kamu?Aku gak ngerti" tanya Erika sambil menatap wanita didepannya dengan tajam. Ia baru kali ini merasakan ancaman luar biasa yang menimpanya. Ia merasa menyedihkan karena harus mengalami hal ini. Jantungnya berdebar dengan kencang.
Jane menghela nafas. "Aku minta suami kamu." ucap nya kemudian.
"Alasan kamu apa minta suami aku?"
Jane menunduk dan memainkan jari-jarinya. Ia terlihat gugup. Berbeda saat ia berakting tadi.
Sedangkan Erika menatapnya marah. Ia menyimpan bayi yang sedang tertidur di pangkuannya itu di sampingnya.
"Masih ada yang belum selesai antara aku sama suami kamu." ucap Jane.
"Apa?"
"Aku gak bisa ngomong sama kamu." ucap Jane.
"Kamu mengada-ngada. Kalo gitu aku minta sama kamu pergi dari sini dan bawa bayi kamu. Bayi ini gak salah apa-apa. Dia gak tau apa yang terjadi sama mamanya." jelas Erika sambil berdiri. "Dan buang mimpi kamu buat merebut Andi dari aku."
"Aku gak akan pulang sebelum kamu mengijinkan aku. Atau seenggaknya jadikan aku yang kedua. Aku mau asalkan aku punya status." ucap Jane.
Erika mengerutkan keningnya. Ia semakin tidak mengerti pada wanita didepannya.
"Jane, aku marah banget sama kamu. Kita sesama wanita. Aku mau tau gimana perasaan kamu kalo jadi aku sekarang."
Erika menatap Jane. Tidak ada perasaan bersalah tapi terlihat kedua matanya mulai berkaca-kaca.
"Aku terpaksa.." ucap Jane kencang. "Aku terpaksa karena cuma Andi yang bisa membahagiakan aku. Aku tau kalo kamu hidup dengan harta berkecukupan. Beda sama aku. Aku harus bekerja sambilan buat menghidupi kehidupan aku sehari-hari. Aku perlu Andi untuk membuat masa depan anak aku cerah."
"Kamu gak malu sama ucapan kamu? Sebagai wanita, aku sedih melihat kamu. Kenapa kamu sekolah jauh-jauh disini kalau kehidupan kamu disini sulit? Kamu mau sebuah pembuktian?" tanya Erika marah.
"Terserah kamu mau ngomong apa sama aku." ucap Jane.
Dibalik pintu, Andi mendengarkan dengan serius apa yang dikatakan oleh Jane. Ia tidak mungkin meninggalkan istrinya seorang diri didalam. Bagaimanapun Jane telah berubah menjadi serigala sejak ia dan Rico berpisah. Itulah yang Rico katakan padanya.
Ya, ia dan Rico saling berhubungan kemarin siang. Ia dan istrinya diminta hati-hati pada Jane. Tapi ia lupa untuk memberitahu istrinya tentang pembicaraan itu. Rico dan Jane berpisah bukan karena kekerasan dalam rumah tangga. Tapi ia berpisah karena perselingkuhan Jane dengan pria beristri yang merupakan salah satu pengacara. Rico pun sempat ragu anak yang diasuh oleh Jane kini adalah anaknya. Untuk itulah ketika Jane meminta hak asuh anak, langsung Rico berikan. Tapi kenapa pernyataan Rico berbeda dengan Jefry?
Apapun itu, ia tidak peduli dengan urusan Jane. Ia lebih mementingkan urusan dalam keluarganya sendiri. Terutama istrinya yang sering membuatnya merasa bersalah jika sedang membahas wanita itu.
Iapun membuka pintu dengan cepat. Ia melihat Erika berjalan menuju kopernya. Ia menarik koper miliknya dan menatap Andi.
"Kalian harus bicara. Selesaikan urusan kalian selama satu jam ini."
Andi menarik lengan Erika. "Kamu mau kemana?" tanyanya shock.
Erika melepaskan tangan Andi dan memeluknya. "Aku pergi duluan ke bandara. Nanti kamu susul aku. Kalo urusan kamu selesai dalam satu jam ini, kita pergi ke Jepang bersama. Aku tunggu kamu di bandara."
"Kamu tunggu aku. Aku pasti beresin semua." bisik Andi.
Erika hanya menatap gedung yang perlahan mulai menghilang dari pandangannya. Ia berharap dan berharap agar Andi dapat menyelesaikan semuanya. Ia menatap tiket pesawat yang akan membawanya ke Jepang.
"Aku marah sama kamu Jane!" ucap Andi cepat.
"Jadi yang kedua aku juga siap. Yang penting status." ucap Jane tanpa malu.
"Harus kamu ingat. Aku gak punya niat dan gak akan pernah mau menduakan istriku sendiri. Mau kamu melakukan apapun di depanku, aku gak akan tetap bergeming. Hati aku cuma milik istriku."
Jane berdiri. "Dari dulu aku suka sama kamu."
"Stop Jane! Jangan bilang kamu suka sama aku. Waktu dulu kamu yang memilih Rico."
"Istri kamu itu gak ada apa-apanya, Andi! Buka mata kamu! Dia sama sekali bukan wanita yang baik buat kamu" seru Jane keras.
Andi mengepalkan tangannya. Ia berdiri dan memegang leher Jane dengan keras. Ia mendorong Jane hingga terpental ke sofa. Tidak ada seorangpun yang pernah menjelekkan istrinya. Wanita ini sudah keterlaluan. Matanya merah karena marah.
"Andi! Andi!"teriak seorang pria yang ia ketahui adalah Jefry menarik tangannya. "Kamu bisa bunuh Jane, lepasin di!"
Jefry terkejut ketika melihat isi handphone nya ada sesuatu yan aneh. Dan ia tahu jika Jane yang melakukannya. Ia sempat kembali ke stasiun tapi tidak menemukan Jane disana. iapun teringat harus kemana ia pergi.
Andi melepaskan jari-jarinya dari leher Jane dan mundur. Sedangkan Jane terbatuk sambil memegang lehernya.
"Jane! Kamu bilang mau pulang naik kereta! Kenapa kesini?"tanya Jefry marah. Ia kemudian menatap Andi. "Ada apa ini?"
"Tanya sendiri sama sepupu kamu. Kenapa dia datang ke sini? Dari mana dia tau rumah aku? Kamu yang bilang?" tanya Andi marah
Jefry menatap marah pada Jane. "Kamu pake handphone aku buat kirim pesan ke Andi tadi malam?"
Jane hanya menunduk.
Jefry menghela nafas. "Jane, sampai kapan kamu mau cari masalah? Aku capek sama kamu. Tolong, sadarlah. Mengejar masa depan bukan seperti ini caranya." jelas Jefry. Ia kemudian menatap Andi. "Maafin aku. Semalem bukan aku yang nanya alamat kamu. Ini akal-akalan Jane."
"It's oke. Bukan kamu yang salah." jawab Andi malas.
Di bandara
Berulang kali ia melihat taxi yang membawa penumpang. Tidak ada sosok Andi. Cuaca yang begitu dingin ini membuatnya terus menggosok badannya. Ia menatap jam tangannya. Hanya tinggal satu jam penerbangan menuju Jepang.
Terdengar panggilan dari arah dalam bandara. Ia terdiam. Penumpang diminta check in terlebih dahulu. Iapun berjalan melewati beberapa pemeriksaan. Berulang kali ia menghubungi suaminya tapi tidak diangkat.
Ada perasaan sakit dalam hatinya. Ia mulai berandai-andai. Beberapa kemungkinan bisa terjadi. Iapun duduk di kursi tunggu yang ada didalam. Ia terus menunggu tapi suaminya tetap tidak terlihat.
Kemudian ia mengangkat kepalanya ketika para penumpang mulai masuk kedalam pesawat. Ia menatap nanar tiket pesawat yang dipegangnya. Matanya mulai buram. Ia hanya bisa menutup wajahnya dan mulai menangis.
Ketika mendengar pesawat mulai take off, tangisannya mulai kencang. Ia berjalan ke kamar mandi dan mulai menangis.
"Kamu jahat, Prince! Ini bulan madu pertama kita!"Isak nya