
"Jadi Andi mau pulang?" tanya Clara ketika ia sedang berada dirumah Alena sore ini. Ia datang sendirian karena Ardan sudah bisa ia tinggalkan. Ada Cello untuk menjaga rumahnya. Banyak perubahan yang terjadi pada keluarga besarnya. Sejak Andi memegang Eropa, Edward tidak pernah pergi kemanapun. Ia merasa tenang. Dan tadi pagi ia mendengar Andi akan pulang dari Cello. Ada apa gerangan? Kenapa ia tidak tahu? Apakah menjadi seorang ibu rumah tangga membuat seorang Clara melupakan semua urusannya yang lain?
Alena tersenyum dan terlihat antusias. "Akhirnya prince ku pulang. Aku kangen. Aku gak pernah sebahagia ini. Prince, anak kebanggaan aku." ucap Alena dengan mata berbinar.
"Kenapa aku baru tau?" tanya Clara bingung.
"Kamu terlalu sibuk ngurus dua anak laki-laki kamu." jawab Alena.
Clara mengerutkan keningnya. "Dua anak laki-laki? Anak laki-laki aku cuma Ardan aja kak."
"Emangnya Edward gak akan kamu hitung jadi anak kamu? Kelakuannya udah melebihi Ardan." protes Alena cuek.
Clara langsung mengerti arah pembicaraan kakaknya. Ia mendekati kakaknya. "Namanya juga istri yang baik kak. Oh ya, jangan-jangan pulang nanti Andi mau bawa putri Inggris kesini?" goda Clara.
"No!!" teriak Alena.
Clara tertawa. "Apa salahnya? Dia udah cocok buat menikah. Memangnya dia mau kamu tahan buat menikah juga kak? Apa calon menantu kamu harus ngikutin kriteria kamu?"
Alena menghela nafas. "Aku udah menyerah jodohin prince. Saat ini, satu-satunya calon menantu terkuat udah pergi. Aku udah gak pernah ketemu dia lagi. Mau gimana coba?" tanya Alena sambil menatap Sandra. "Gimana aku gak sedih, lima tahun ini aku kehilangan dua anak sekaligus. Mau Andi ataupun Ojo, semuanya tega tinggalin aku. Mereka bahkan jarang kasih kabar. Apalagi Ojo."
Sandra tersenyum penuh arti. Ia mengangkat cangkirnya dan menyesap minumannya pelan. Ia tahu sedang diperhatikan kedua sahabatnya. "Ojo pulang malam ini." jawab Sandra.
Alena langsung berdiri. "Are you sure?" tanya nya bersemangat. Ia langsung memegang tangan Sandra dengan erat.
"Aku harap sih beneran." jawab Sandra sambil tersenyum.
"Ah, kamu emang seneng godain aku. Kamu tau sendiri. Dave udah sembuh. Dia udah selesai terapi. Dave juga udah bisa jalan walaupun masih harus pake tongkat. Seenggaknya aku udah gak terlalu fokus sama dia. Sekarang aku mau mulai fokus sama Andi. Kalo Ojo pulang kan, aku punya kesempatan." jawab Alena senang.
"Aku gak tau kenapa kamu ngebet banget pengen anak aku buat jadi menantu kamu Al. Tapi dengan pengalaman pahit disini lima tahun lalu, apa Ojo udah bisa membuka hatinya? Aku aja gak tau. Ojo itu tipe wanita yang sulit jatuh cinta. Lima tahun tinggal di Jepang, aku gak pernah denger dia dekat dengan laki-laki. Jadi aku gak bisa kasih kamu harapan Al. Lebih baik kamu jangan terlalu berharap. Nanti kalau kamu terluka, aku yang merasa bersalah. Karena Ojo anakku" jawab Sandra.
" Iya kak. Aku setuju sama Kak Sandra. Biarkan semuanya mengalir. Ngomong-ngomong Andi kenapa pulangnya mendadak?" tanya Clara.
"Trus kenapa Ojo mau pulang?" tanya Clara kembali sambil menatap Sandra.
"Aku gak tau alasan dia pulang. Kalo Vino pulang kesini karena dia mau memulai pekerjaan Calvin. Mungkin Ojo cuma nganter Vino. Setelah itu dia pulang lagi ke Jepang." jelas Sandra.
Clara mengangguk. Ia teringat ucapan Cello yang baru saja kembali.
"Kalian mau denger apa yang anak aku bilang soal Andi?"
Baik Alena maupun Sandra langsung menatap Clara. Kejadian seperti ini mirip sekali dengan kejadian beberapa puluh tahun yang lalu. Mereka senang bergosip tentang teman-temannya. Namun kali ini mereka bergosip tentang anak-anak mereka.
"Cello bilang, selama di London Andi jarang pulang ke penthouse. Dia lebih seneng tinggal di kantor." ucap Clara. Ia kemudian menatap Alena. "Kak, please.. nanti kalo dia pulang, bawa dia jalan-jalan. Dia harus melihat dunia lebih luas. Mungkin dulu kita terlalu ngasih dia beban berat."
"Mau sampai kapan kalian ngegosip gini? Setiap hari aku harus jemput Sandra disini. " tanya Calvin yang sudah berada di belakang mereka bertiga.
Sandra dan Alena menoleh ke belakang. Sudah dua tahun Sandra pindah ke komplek yang sama dengan Alena. Rumahnya pun tidak terlalu jauh dari rumah Alena. Setiap sore pasti Sandra menyempatkan diri untuk datang ke rumah Alena. Begitu pula dengan Alena. Mereka saling mengunjungi satu sama lain.
Alena dan Sandra tersenyum.
"Namanya juga ibu-ibu Vin, apalagi yang kita omongin selain anak-anak kita." ucap Alena.
"Kalo gitu aku pulang dulu." ucap Sandra sambil berdiri. Ia berjalan menghampiri suaminya dan menerima uluran tangannya.
Clara berbisik pada Alena. "Mereka masih romantis ya kak. "
"Suami kita juga romantis kok." jawab Alena.
Clara tertawa. "Iya iya, Edward romantisnya harus dipancing. Beda sama suami kamu kak, lagi sakit pun masih romantis-romantis aja"
Alena tidak mendengar ucapan Clara. Ia terlalu senang karena memikirkan kepulangan Erika malam ini.