
"Jo, kamu kerja sampe jam berapa?" tanya Davi ketika ia datang ke penthousenya pagi ini.
Sejak Andi memanggilnya Ojo, Davi pun memanggilnya dengan nama yang sama. Awalnya ia menolak nama itu, tapi lama kelamaan ia terbiasa.
"Aku lagi beresin dulu kerjaan. Sebentar lagi." jawab Erika tanpa melihat Davi yang kini sedang membuka foto-foto pernikahan mereka.
"Kalian emang bener-bener serasi, Jo." ucap Davi.
Erika mengangkat wajahnya. "Apa yang serasi?"
Davi menghampirinya sambil membawa album pernikahannya dengan Andi. Erika menghentikan pekerjaannya dan melihat album itu. Ia menerima benda itu dari Davi dan melihatnya. Ia tersenyum mengingat indahnya resepsi pernikahan mereka.
"Kamu kangen suami kamu?" goda Davi.
Erika tersenyum sambil berkata."Iya.."
Tiba-tiba Davi bertepuk tangan dengan kencang. Erika melihatnya sambil mengerutkan keningnya. "Kenapa?"
"Aku cuma godain kamu. Baru beberapa jam pisah sama suami kamu, kamu langsung bilang kangen."
"Kapan aku bilang kangen?" tanya Erika.
"Gak sadar? Aku barusan tanya, kamu kangen suami kamu? Kamu jawab iya." jelas Davi. Iapun menghampiri Erika di kursinya. "Mending kita ke kantor suami kamu. Sekalian aku juga mau ketemu suami aku disana. Gimana kalo kita makan siang barengan?" ucapnya sambil menutup laptopnya. Ia menarik Erika untuk bersiap-siap.
"Dandan yang cantik biar banyak karyawan bule itu yang terpana sama kamu."
Erika pun berdiri. Tidak ada salahnya menuruti instruksi temannya. Lagipula selama menikah, ia belum pernah datang ke kantor Andi. Selama ini ia selalu mengurung diri di penthouse atau pergi berjalan-jalan keluar dengan Davi. Tapi tidak pernah terpikirkan untuk bertemu dengan suaminya di kantor. Karena Davi mendesak, iapun bersiap-siap.
"Bos, jangan lupa nanti sore ada wawancara dari penyidik." ucap Viar ketika ia merapikan berkas yang ada di meja Andi.
Andi menyimpan salah satu tangannya di kepala. Ia berfikir sejak pagi ini. Jika istrinya sudah bosan diberi bunga untuknya, apa lagi yang harus ia berikan? Rasanya ia mendadak bodoh ketika bersama istrinya. Padahal pengalamannya menaklukkan seorang wanita sudah tidak bisa dihitung lagi. Ia melihat handphonenya. Apakah ia harus menghubungi ayahnya kembali? Tapi bagaimana jika ayahnya malah mentertawakan nya?
"Bos.." panggil Viar. Ucapannya tidak didengar padahal ia sudah dua kali memanggilnya. Untuk terakhir kali, ia panggil dengan suara sedikit kencang. "Bos!"
Andi mengangkat wajahnya. Ia menatap Viar. "Apa?"
"Nanti sore ada wawancara sama penyidik." ucap Viar.
"Ya aku tau. Sebenernya mereka mau apa lagi dari kita. Masalah itu udah masuk kepolisian, pelaku udah ditahan, bukti-bukti udah ada, kenapa kita masih harus jadi saksi?" tanya Andi kesal.
"Karena kasus itu mau masuk pengadilan. Jadi ada semacam hasil akhir mereka sebelum sidang. Itu yang aku tau." jawab Viar.
Andi hanya menganggukkan kepalanya.
"Kenapa bos? Kayaknya lagi mikirin sesuatu?"
"Ya. Urusan rumah tangga." jawab Andi.
Viar tertawa mendengar ucapan Andi. Urusan rumah tangga? Sejak kapan bosnya memikirkan urusan rumah tangga?
"Istri kamu kenapa?"
"Gak usah tau." jawab Andi ketus.
"Aku cuma butuh americano buat menenangkan otak aku yang lagi buntu." ucap Andi.
"Oke, kita turun.." ajak Viar. Beberapa menit yang lalu ia mendapatkan kabar jika istri-istri mereka sedang dalam perjalanan menuju kantor.
Ketika mereka baru keluar dari lift, Andi berjalan terlebih dahulu dan diikuti Viar, ada seseorang wanita yang menghampiri mereka. Viar cukup melihat wanita yang terlihat masih cantik itu. Ia tersenyum dan tatapannya hanya pada satu orang. Yaitu bosnya.
"Andi..." panggil seorang wanita.
Andi menghentikan langkahnya. Ia menoleh pada suara yang memanggilnya. Ia terkejut melihat wanita yang dapat merusak keluarganya ada didepannya. Entah mengapa ia mendapatkan firasat seperti itu. Jane ada didepannya seorang diri.
"Jane, lagi apa kamu disini?" tanya Andi.
"Aku lagi liburan semester. Aku penasaran sama kantor kamu. Jadi aku liburan di London."
"Anak kamu gimana?" tanya Andi.
"Ada. Lagi dititip Jefry sebentar."jawab Jane santai.
Anak? Anak siapa? Viar melihat keduanya yang masih terdiam. Tiba-tiba ia melihat lengan wanita itu melingkari lengan Andi. Ia membuka matanya lebih lebar. Jika istrinya melihat ini, tidak pernah terbayang olehnya bagaimana bosnya akan dihukum. Menggelikan tapi kasihan. Sepertinya ia harus mundur. Lagipula istrinya belum datang. Ia melihat bosnya menoleh padanya.
"Aku ke cafe dulu." ucap Andi.
Ia masih melihat wanita itu mengaitkan lengannya pada lengan Andi. Ia mengerutkan keningnya. Bosnya bodoh jika.ia terus diam diperlakukan seperti itu. Lebih baik ia melalui pintu sebelah kanan untuk sampai ke kafetaria.
"Hey!" panggil Erika yang sudah ada dihadapannya.
Viar terkejut dan mundur. "Hai bos, aku pikir siapa.." ucapnya.
"Mana bos kamu? Kenapa kamu sendirian?" tany Erika bingung.
Davi menghampiri Viar dan berdiri disampingnya.
"Bos Andi, emmm.... dia lagi diluar."⁵
"Diluar dimana?" tanya Erika sambil mencari keberadaan Andi.
Viar tersenyum kaku. "Sebenernya mereka lagi minum kopi di cafe sebrang."
"Mereka? Siapa? Klien?" tanya Erika.
"Iya siapa sih?" tanya Davi.
"Lebih baik kita ikutin kesana. Aku takut salah jadi lebih baik liat sendiri." jelas Viar.
Karena penasaran, Erika mengikuti langkah Viar untuk sampai ketempat dimana suaminya berada. Baru beberapa langkah saja ia begitu terkejut melihat sosok suaminya dan seorang wanita ada di coffeshop sebrang kantor mereka.
Viar melihat mimik wajah Erika yang langsung terlihat berbeda.
"Bos, gak apa-apa? Siapa perempuan itu? Bos kenal?" tanya Viar.
"Tentu aja aku kenal. Kalian diem disini biar aku yang nemuin mereka berdua." jawab Erika sambil melangkah dengan percaya diri menghampiri kedua orang yang terlihat sedang berbincang itu.