
Hanum sudah tiba dirumah aris. Aris membawa hanum masuk dan saat tiba didalam, entah kenapa hanum merasa sedikit familiar dengan rumah itu.
"aneh kenapa aku merasa seperti pernah datang ke rumah ini?" batin hanum.
hanum terkejut saat dia tanpa sadar seakan melihat seorang wanita yang sedang berlarian dengan seorang pria di ruang tamu. mereka berpelukan dengan mesra seakan mereka adalah dua pasangan yang saling mencintai.
"aaaahhhh...." pekik hanum dengan memegangi kepalanya yang terasa sakit.
"hanum kamu tidak apa-apa?" tanya aris dengan khawatir.
"i love you aris" hanum seakan mendengar suara seorang wanita yang menyatakan cinta pada aris.
"aaaaaaaahhhhhh!! kepalaku sakiiittt!!" teriak hanum kesakitan.
"hanum kita kekamar oke.... aku akan panggilkan dokter" ucap aris semakin khawatir.
"mike panggil willy kesini!!" teriak aris.
"baik tuan muda" jawab mike salah satu asisten pribadi aris.
dengan perasaan khawatir aris menggendong hanum kekamar dengan hanum yang sudah tak sadarkan diri karena tidak kuat menahan sakit di kepalanya.
aris membaringkan hanum dengan penuh kasih sayang. membelai dan memandangi wajah hanum yang sedang tidak sadarkan diri.
"maaf membuatmu mengingat hal yang tidak ingin kamu ingat hanum" ucap aris dengan sedih dan mengecup lembut kening hanum.
"aku tidak seharusnya membawa kamu kerumah ini" ucap aris lagi.
"kenapa tidak? bukankah ini yang kamu inginkan?" tanya willy menyela dengan tiba-tiba.
"bukankah sudah kubilang kamu harus mengetuk pintu dulu" jawab aris kesal.
"uppss maaf pintunya terbuka sangat lebar" jawab willy santai.
"periksa dia jangan sampai terlewat sedikit pun. diagnosa nya harus detail. dan... jangan coba-coba untuk menyentuhnya seujung rambut pun" ucap aris memberi peringatan.
"kalau aku tidak menyentuhnya bagaimana aku tahu kekasih kamu ini sakit apa dan bagaimana keadaan nya.. so santai broo aku seorang dokter nggak akan berniat macam-macam pada pasienku" jawab willy menjelaskan dengan kesal.
"baiklah kalau kamu tidak lupa dengan pekerjaan mu" jawab aris.
willy hanya geleng-geleng kepala heran dengan sikap cemburu aris yang sebelumnya tidak pernah dia ketahui.
"jangan memegang tangannya seperti itu" aris memberi peringatan.
"jangan menyentuh kening hanum dengan lembut itu dilarang!!!"
"kenapa lama sekali.... sudah jangan lama-lama periksanya?"
"aku mulai curiga padamu"
willy merasa jengah akhirnya memerintahkan mike untuk mengusir aris keluar dari kamar karena mengganggu.
"mike berani sekali kamu menyeret ku keluar. akan kupotong gajimu" ancam aris.
"tidak apa-apa aku yang akan mengganti gajimu yang di potong" jawab willy.
"maaf tuan muda ini demi kebaikan nona hanum" jawab mike yang sebenarnya senang karena gajinya yang dipotong akan diganti.
aris pun merengek tak mau dibawa keluar karena ingin terus menemani hanum.
"hah... CEO berhati dingin apanya dia seperti anak kecil" ujar willy dengan menyuntikkan vitamin ke tubuh hanum.
"aku tidak percaya dia berhasil menemukan mu hanum" ujar willy berbicara pada hanum yang masih tertidur.
"teruslah berada disisi nya ubahlah dia kembali menjadi aris yang dulu" willy pun mengusap lembut rambut hanum seakan merasa sayang dengan teman lamanya itu.
"berani sekali tangan kotor mu itu menyentuh hanum" ucap aris yang tiba-tiba menerobos masuk dan langsung memelintir keras tangan willy.
"aaahhh... aku hanya bicara sedikit dan merasa rindu pada hanum" jawab willy kesakitan.
"kamu bahkan sampai berani merindukannya?" tanya aris dengan semakin keras memelintir tangan willy.
"hanum itu temanku apa salahnya kalau aku bahkan merindukan teman lama ku" jawab willy dan dengan paksa melepaskan tangannya.
"sudah lah aku pergi saja ohh.. kalau hanum sudah bangun setelah makan berikan dia obat untuk meredakan sakit kepalanya. dan jangan paksa hanum untuk mengingat kenangan-kenangan di masalalu" ucap willy dan segera pergi dari kediaman aris.
setelah willy pergi aris segera pergi ke dapur untuk membuat bubur jagung kesukaan hanum.
"pertama rebus daun pandan, dan jagung manis sampai matang" ucap aris sambil menyiapkan semua bahannya.
aris memasak bubur kesukaan hanum dengan semangat. dia teringat dulu saat hanum sakit dia pernah memasakkan bubur jagung untuk hanum dan hanum memakannya dengan sangat lahap.
Flashback
"enak?" tanya aris pada hanum.
"aku ingin terus makan bubur buatan aris" ucap hanum.
"kalau begitu setiap hari aku akan membuatkan bubur untuk mu" jawab aris.
Flashback End
aris tersenyum mengingat kenangan masalalu nya dengan hanum. 30 menit kemudian bubur yang dimasak aris pun sudah matang dan siap untuk disajikan.
"apa hanum sudah bangun? aku harus melihatnya dulu" gumam aris khawatir.
sementara itu dikamar hanum sudah siuman dan merasa bingung kenapa dia bisa ada dikamar.
"aaahhh kepalaku masih sedikit pusing" gumam hanum.
"ini.... kamar ini kenapa aku merasa sangat familiar" gumam hanum dan berusaha bangun dari tempat tidur.
hanum terus mengikuti ingatan-ingatan yang terus terbayang dikepalanya. dia seakan hafal semua sudut rumah yang baru saja dia tempati. hanum turun tangga dan mendengar suara gaduh di dapur karena penasaran dia pun menuju dapur dan mendapati aris sedang menyiapkan bubur di meja makan.
"apa yang sedang kamu lakukan?" tanya hanum mendekat.
"kamu sudah bangun? aku baru saja mau melihatmu" jawab aris.
"ayo makan kamu belum makan seharian ini" ucap aris dan menuntun hanum untuk duduk.
"bubur jagung? bagaimana kamu tahu aku suka bubur jagung?" hanum pun menyuapkan satu sendok bubur jagung kemulutnya.
lagi-lagi hanum dibuat bingung dengan perasaan familiar ini. bubur jagung yang dibuat aris pun terasa seakan dulu dia sudah pernah memakannya.
"perasaan familiar apa ini? aku dejavu?" batin hanum.
"apa enak?" tanya aris dengan mengusap mulut hanum yang ada sedikit sisa bubur di mulutnya.
"eum... setelah makan bubur buatan kamu aku langsung merasa sehat" jawab hanum.
tanpa sadar dia menjawab dengan jawaban yang sama seperti saat aris menanyakan hal yang sama dulu. itu membuat aris dan juga hanum sama-sama terkejut.
"sepertinya aku pernah mengatakan hal yang sama dulu" gumam hanum.
bayangan-bayangan masalalu saat dirinya makan bubur bersama aris pun kembali teringat. namun dibayangan itu seakan hanya siluet yang bahkan wajahnya pun tak terlihat jelas.
"aahhhh" kepala hanum kembali terasa sakit.
"kamu tidak apa-apa hanum? kepala kamu sakit lagi?" tanya aris khawatir.
"eum" hanum mengangguk lemah.
" mike ambil obat hanum" perintah aris pada mike.
tak lama kemudian mike datang dengan membawa obat untuk hanum.
"ini tuan muda" ucap mike dengan memberikan obat pada aris.
aris segera memberikan obat pada hanum untuk segera diminum.
"sudah?" tanya aris dengan lembut.
"masih sakit" jawab hanum.
"kamu baru saja meminum obatnya tentu saja reaksi nya tidak secepat itu" jawab aris dengan mengusap lembut kepala hanum.
"kenapa aku selalu melihat bayangan-bayangan itu? dan... setiap kali mengingatnya kepalaku selalu sakit" batin hanum.
"apa sebelumnya aku pernah tinggal disini?" tanya hanum penasaran.
aris diam sesaat bingung harus menjawab apa.
"benarkah? tapi... rumah ini sudah dibeli ayahku dari sejak aku masih kecil itu mana mungkin" jawab aris menutupi kebohongan.
"benarkah apa itu hanya sekedar dejavu biasa atau hanya perasaanku saja yang seakan aku pernah tinggal lama disini" batin hanum.
"mau jalan-jalan?" tanya aris mengalihkan pembicaraan.
"ah benar dengan ini jika ada kesempatan aku akan kabur dari pria ini" batin hanum.
"iya aku mau" jawab hanum bersemangat.
"bersiaplah aku akan menunggumu" ucap aris tersenyum hangat.
"oke" jawab hanum dan segera berlari kecil menuju kamar untuk bersiap-siap.
aris terus memandangi hanum dengan tatapan hangat dan sendu.
"pelan-pelan hanum... pelan saja mengingatnya aku tidak akan memaksamu. aku akan terus bersamamu aku tidak akan pernah melepasmu lagi" ucap aris