Love Actually

Love Actually
Episode 80



Davi dan Viar berada tak jauh dari keberadaan seorang wanita yang tampak lantang menatap wanita didepannya. Ia terlihat seperti seorang harimau yang hendak memakan mangsa didepannya.


Tidak pernah Davi melihat sahabatnya sehebat itu. Ia berulang kali mencubit lengan suaminya karena menunggu apa yang akan dilakukan sahabatnya kemudian.


Jane menatap wanita cantik yang berdiri didepannya. Ya, ia ingat siapa wanita ini. Kenapa ia berubah begitu banyak? Seingatnya ketika wanita ini datang ke tempat latihan Andi, penampilan wanita didepannya tidak secantik sekarang. Itu berarti kehidupan setelah menikah dengan Andi menjadi lebih baik. Dan semuanya berawal dari uang.


Ia langsung terfikir untuk tidak melepaskan Andi. Anaknya membutuhkan sosok ayah seperti Andi. Iapun membutuhkan sosok suami seperti Andi.


"Masih inget sama aku?" tanya Erika kembali sambil tersenyum.


"Oh ya, aku inget. Jadi kalian menikah?" tanya Jane.


"Ya, seperti yang kamu liat Jane.." jawab Erika sambil menyimpan jari-jarinya di atas meja. Untung saja ia memakai cincin pernikahan ketika keluar rumah tadi. Ia bisa memamerkannya pada wanita itu.


Jane tersenyum hambar.


Kemudian Erika melirik kembali suaminya yang kini sedang menutup wajahnya dengan salah satu tangannya.


"Kok kamu jadi diem, sayang?" tanya Erika.


Andi bangun dari duduknya. "Aku pesenin minuman kesukaan kamu dulu."


Erika pun ikut berdiri dan menahan lengan Andi. "Gak usah.."


Andipun duduk kembali.


"Oh ya, ada urusan apa kamu ke London?" tanya Erika pada Jane.


"Aku lagi liburan."


"Sendirian?"


"Aku sama anakku."


Erika melihat ke kiri dan ke kanan. "Anak? Mana anak kamu?"


"Aku tinggal sama sepupu aku."


Erika menggelengkan kepalanya. "Kamu ninggalin anak kamu cuma buat ketemu suami aku?" tanya Erika tajam.


Jane menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Enggak. Cuma kebetulan lewat kantornya Andi." jawab Jane. Ia sempat terkejut karena wanita didepannya seperti tahu isi hatinya. Apa yang ia lakukan di kota ini dan bagaimana ia akan bertahan demi mengambil suaminya.


"Sepupu kamu hebat, Jane. Suami kamu kemana?" tanya Erika tajam


Jane terlihat kikuk. " Aku udah cerai sama suami aku."


"Kamu terlalu berfikir yang aneh-aneh. Andi sahabat aku. Wajar kalo aku ketemu dia disini."


"Wajar. Tapi apa Andi masih menganggap kamu sebagai temannya setelah apa yang terjadi sama kalian?" tanya Erika gemas.


"Itu gak masalah buat aku. Yang penting aku sama suami kamu sekarang baik-baik aja." jawab Jane tenang.


Erika tersenyum. Iapun bangun dari duduknya. "Kalo gitu aku pergi dulu. Silahkan menikmati waktu kalian. Sahabat lama harus banyak ngobrol kan?" sindir nya. Ia kemudian menatap Andi sinis. "Aku tunggu penjelasan kamu dirumah." ucapnya sambil berjalan menjauhi mereka.


Andi melihat istrinya sampai keluar dari cafe. Ia kemudian menatap Jane. "Kamu tau kan sekarang siapa istri aku?"


Jane mengangguk. "Ya, dia bukan wanita biasa. Aku gak nyangka kamu bakal menikahi teman kamu sendiri. Emang udah gak ada pilihan?" tanya Jane sambil tertawa.


Andi meminum kopinya. "Pilihan banyak, tapi aku cuma mau Ojo yang jadi istriku." ucap Andi. "Kalo gitu aku pergi dulu. Thank you karena kamu mau mampir. Bisa pulang sendiri kan?"


"Bisa.." jawab Jane kesal.


Erika berada di basement dimana mobil suaminya parkir. Ia menunggu sosoknya muncul diparkiran. Sesekali ia ingin melakukan taruhan. Loh, apa salahnya melakukan taruhan dengan suaminya. Ia menutup matanya dan bergumam. Jika suaminya muncul di parkiran ini, ia akan menganggap suaminya telah mulai jatuh cintanya.


Bayangannya selalu terbayang wanita itu.


"Aku udah yakin kamu ada disini." ucap Andi.


Erika membuka matanya. Ia memiringkan wajahnya karena marah.


"Jangan marah Jo.." ucap Andi sambil memegang bahunya.


"Kalian mesra banget.." ucap Erika tanpa mau melihatnya.


"Mesra? Gak ada mesra sama sekali." elak Andi.


"Kenapa sih kamu masih temuin mantan kamu itu?" tanya Erika marah.


"Aku gak bisa apa-apa, sayang. Dia dateng begitu aja. Aku juga kaget." jawab Andi. "Kamu kalo lagi cemburu lucu banget." goda Andi.


Erika langsung memukul lengan Andi dengan kencang sehingga ia meringis kesakitan. "Aku bukan cemburu. Aku cuma lagi mencoba mempertahankan keluarga."


"Menurut kamu, Jane ancaman?" tanya Andi.


"Ya.." jawab Erika kesal.


Andi langsung memeluk Erika erat. "Aku gak mungkin mau sama Jane. Wanita dalam hidup aku cuma dua orang. Mama dan paling utama adalah kamu. Aku gak akan tergoda sama perempuan lain."