Love Actually

Love Actually
Episode 98



Vino begitu kesal dan marah ketika pekerjaannya tidak sesuai perkiraannya. Ia tidak bisa konsentrasi. Hatinya begitu marah luar biasa. Pagi tadi ia tidak sengaja mendengar perbincangan kedua orangtuanya. Semalam ia sengaja pulang kerumah karena harus bertemu dengan ayahnya untuk mendiskusikan pekerjaannya.


"Berapa ma?" Tanya Calvin ketika memakai dasinya. Ia sudah bersiap untuk melakukan meeting dengan Vino pagi ini.


"15 milyar pa."


"Sudah dikasihkan ke Firly?"


"Tentu aja. Kalau gak dikasih mana mungkin Sierra akan menjadi menantu kita. Kehilangan berapapun aku bersedia yang penting Vino bisa terlepas dari wanita itu dan menikah ."


Vino mengepalkan tangannya hingga merah. Ia tidak percaya gadis itu melakukannya demi uang 15 miliar. Ia telah dijual oleh orangtuanya.


"Ada apa, Vin? Kayaknya ada sesuatu.."tanya Dimas yang tiba-tiba saja sudah berada dibelakangnya.


"Aku mau nikah." Ucapnya dingin.


Dimas terkejut. Ia kemudian menarik kursi dan duduk disampingnya. "Sherly?"


Vino menggelengkan kepalanya. Sedangkan Dimas mengerutkan keningnya. "Trus sama siapa?"


"Sierra. Kamu masih ingat sama orang yang namanya Sierra?"


"Sierra.. sierra.." ucap Dimas sambil berfikir. Tiba-tiba saja ia teringat pada seseorang. "Sierra wedding organizer itu?"


Vino mengangguk "Ya"


"Kenapa bisa sama Sierra?Kapan kalian kenal? Bukannya kamu gak tertarik waktu itu?"tanya Dimas kembali. Ia bersemangat mendengar sahabatnya akan menikah namun bukan dengan Sherly. Melainkan wanita lain. Tapi ia semakin terkejut ketika mendengar nama wanita yang akan dinikahi sahabatnya.


"Kami dijodohkan. Ibunya gadis itu ternyata sahabat ibuku."


Dimas tertawa dengan sangat senang. "Gak disangka kalian berjodoh. Baru denger aja aku udah seneng. Tapi gimana Sherly? Dia tahu?"


"Aku berencana ke Paris minggu ini buat ketemu dia. Udah hampir 2 minggu dia susah ditelepon."


"Perlu ditemani?"tanya Dimas sedikit menggodanya.


Vino menatap sahabatnya tanpa mengatakan apapun. Ia melihat jam tangannya. Beberapa jam lagi ia harus bertemu dengan gadis itu. Itu adalah untuk pertama kalinya mereka bertemu untuk sebuah pernikahan.


"Aku pergi." Ucap Vino cepat.


...***...


Firly tengah menunggu anaknya yang sedang bersiap-siap. Siapa yang menyangka ia akan menikah dengan cepat. Sierra terlihat cantik memakai dress selutut dipadankan dengan sepatunya yang senada. Ini pertama kalinya Sierra bertemu dengan calon suaminya. Pernah suatu hari ia memaksa Sierra untuk melihat foto calon suaminya. Namun Sierra menolaknya dengan halus. Ia beralasan agar semuanya menjadi kejutan. Padahal sebagai seorang ibu, ia yakin sekali anaknya memiliki alasan lain.


Firly merasa sedih. Ia merasa malu pada Sierra. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan lagi. Ia hanya berharap pada kebahagiaan Sierra. Sudah cukup ia merasakan disakiti oleh pria.


Sierra menatap dirinya di cermin. Apakah ia siap bertemu dengan pria baru disaat ia sedang menyusun hatinya yang terlanjur hancur?


Ia harus tersenyum. Ia harus kembali menjadi Sierra yang seperti dulu. Ia tidak boleh memikirkan yang lain selain pernikahan. Pikirkan ibunya. Tidak ada yang lain.


Ketika ia membuka pintu, ia melihat ibunya sedang melamun.


"Ma.." panggilnya. "Jangan melamun. Ayo kita pergi, tante Sandra mungkin udah nunggu disana." Sierra langsung mengapit lengan ibunya.


"Makanya ma, kita gak boleh mengecewakan Tante Sandra. Mereka udah terlalu baik sama kita."


Sierra membawa mobil peninggalan ayahnya yang terakhir menuju bridal tempat ia akan mencoba pakaian pengantinnya. Jantungnya berdebar dengan kencang. Ia sengaja meminta libur pada Daniel untuk hari ini.


Ketika ia memasuki tempat itu, ia bisa melihat sebuah mobil mewah telah terparkir disana. Ia tahu itu adalah mobil Tante Sandra. Sierra turun terlebih dahulu sebelum membantu ibunya. Pintu bridal itu terbuka. Wajah Sandra yang terlihat bahagia keluar dari sana. Sierra tersenyum. "Selamat sore, Tante."


"Selamat sore mama, bukan tante. " jawab Sandra sambil memeluk Sierra. "Kamu cantik sekali, pasti persiapan untuk bertemu Vino ya?." Tambahnya.


Sierra hanya tersenyum malu.


"Jangan menggoda anakku terus, Sandra. Anakku ini pemalu." Sahut Firly.


"Oke.. ayo kita masuk. Mereka udah nunggu didalam." Jawab Sandra bersemangat sambil masuk kedalam. "Oh ya, kenapa Vino belum sampai juga?"


Sierra tersenyum dan menundukkan wajahnya. Ia merasa lega karena calon suaminya belum sampai. Ia tidak tahu bagaimana ia akan bersikap didepan pria yang belum pernah ditemuinya.


Satu persatu pakaian pengantin dicoba Sierra. Dan hampir semua yang ia pakai dipuji oleh ibunya. Begitu pula calon ibu mertuanya yang terus memujinya. Mereka mengatakan jika ia pantas menggunakan pakaian apapun.


Mobil Vino memasuki bridal. Ia melihat mobil ibunya dan satu mobil biasa. Dari kaca mobil ia dapat melihat ibunya sedang berbincang dengan salah seorang wanita yang ia yakini adalah ibu dari Sierra. Mereka berdua tampak bahagia. Vino menggelengkan kepalanya. Kesal, tentu saja. Apalagi mengingat pembicaraan orangtuanya.


Iapun keluar dari mobilnya dan membanting pintu dengan kencang. Ia berjalan kedalam bridal.


"Vino, kenapa lama banget sih? Sierra udah coba beberapa baju. Tinggal ini yang terakhir. Gaun pengantin internasional." Tanya ibunya dengan nada kesal.


"Banyak pekerjaan ma" Jawab Vino datar. Padahal dalam hatinya ia kesal luar biasa.


"Jangan seperti itu, Sandra. Kasihan anak kamu. dateng kesini malah kamu marahi. Ini kan buat acara besar dia" Ujar Firly.


Vino menatap wanita tua yang masih terlihat cantik itu. Wajahnya benar-benar keibuan. Kesabaran terpancar di wajahnya. Ia tidak percaya jika wanita itu yang menjual anaknya.


"Terimakasih tante. Kita baru bertemu. Perkenalkan, saya Vino."Ucapnya sambil tersenyum hambar. Ia memeluk Firly erat.


"Baru pertama kali ketemu tapi tante bisa melihat kamu bisa membahagiakan Sierra."ucap Firly sambil tersenyum.


Vino tidak menjawab. Ia menatap ibunya dan tersenyum simpul.


"Maaf bu, calon pengantin sudah siap. Tirai akan dibuka."ujar salah seorang pegawai bridal.


Vino berdiri dibelakang kedua orangtuanya yang sedang duduk. Tirai perlahan terbuka. Vino dapat melihat seorang wanita memakai wedding dress berwarna putih. Ia terpesona. Bukan karena wajahnya. Ia belum melihat wajahnya. Ia sudah tahu itu. Ia melihat gaun itu cocok sekali dipakai sierra. Wajah gadis itu menunduk. Mungkin karena malu.


"Sierra, angkat wajah kamu. Kami ingin melihat dandanan dan tiara yang ada di kepala kamu ." Ucap Sandra bersemangat.


Ya, begitu juga denganku. Ucap Vino dalam hati. Seperti apa kamu dibalut dress cantik itu.


Sierra mengangkat wajahnya. Ia terkejut melihat seorang pria yang berada dibelakang orangtuanya. Pria itu sedang menatapnya. Tatapannya tidak bisa diartikan. Ternyata calon suaminya adalah pria yang sangat tampan. Iapun mulai tersadar ketika suara dehaman Sandra.


"Gimana tante?” tanya Sierra.


Sandra mengangguk senang. Ia bahkan meremas genggaman Firly. “Gimana calon istri kamu Vin?”tanya Sandra tanpa menoleh kebelakang.


Sierra tersenyum pada pria itu. Vino hanya menatapnya tanpa mengatakan apapun dengan wajah datar.