
Suara musik khas tradisional menggema syahdu di dalam restoran. Semakin siang semakin ramai orang-orang yang akan makan siang. Tapi tidak dengan salah satu ruangan yang ada di tengah restoran. Ruangan itu tampak hening. Baik Sandra maupun Alena sedang berfikir. Ketika anak mereka belum menikah, mereka berdua yang mendorong keduanya untuk jatuh cinta. Keduanya memang menikah tanpa mereka tahu perasaan keduanya. Dan setelah menikah, mereka berdua ribut mengenai momongan. Rasanya, mereka berdua terlalu ikut campur urusan anak-anak mereka.
“Apa kamu mikir soal mereka?” tanya Alena sambil mengaduk minumannya.
Sandra mengangkat wajahnya. “Kayaknya udah cukup buat kita ikut campur. Lebih baik kita bebasin mereka. Lagian mereka masih pengantin baru. Kita gak bisa paksa mereka, Al.”
Alena mengangguk. “Ya. Mulai sekarang kita membebaskan mereka.”
“Al, gimana kalo kita liburan kesana?” tanya Sandra.
Alena menatap Sandra. Bukan ide buruk. Lagipula ia dan Sandra belum tahu bagaimana kehidupan anaknya disana. “Aku ijin Dave dulu. Gimana?”
“Aku juga ijin Calvin.” jawab Sandra.
Keduanya mulai mengeluarkan handphonenya dan menghubungi suaminya masing-masing. Mereka tidak menyadari ada dua orang yang menghampiri mereka.
“Kak..”
ALena menoleh. Ia melihat Clara dan Cello menghampiri mereka. Mereka tidak menyadari restoran semakin banyak pengunjung. Tapi untungnya ia sudah memesan ruangan VIP sehingga keduanya tidak bisa diganggu. “Clara?”
Clara dan Cello duduk diantara keduanya. Wajah Clara terlihat sedikit kelelahan. Sedangkan Cello langsung melihat menu yang tersedia di meja. Ia akan memesan sesuatu untuk dimakan karena sejak siang ia belum makan.
“Kalian lagi bahas apa?” tanya Clara
“Siapa lagi kalo bukan Andi sama Ojo.”
Clara menggelengkan kepalanya. “Kalian masih ganggu mereka?”
“Kami mau pensiun ganggu mereka. Menurut kamu gimana?” tanya Alena serius.
“Ya, lebih baik kalian lakukan itu. Kasian Andi. Di sana dia lagi diperiksa sama kepolisian.” jawab Clara.
Alena langsung berdiri. “Kenapa? Andi kenapa?” tanyanya shock.
“Tenang kak. Andi gak apa-apa. Di salah satu hotel di Brussel, ada kejadian pembunuhan. Kejadiannya udah dua hari yang lalu. Dan sekarang sedang diusut. Andi cuma dimintai keterangan sebagai pimpinan disana” jawab Clara. “Aku sempet berfikir buat mengembalikan Andi ke sini. Lima tahun ini keadaan Eropa sudah membaik berkat Andi.”
“Maksud kamu, Andi bisa pulang?” tanya Alena senang. Ya, sejak Andi berada di luar negeri lima tahun belakang, ia tidak bisa melihat langsung anaknya. Ia tidak tahu masalah perusahaan karena ia hanya fokus pada pekerjaannya di rumah sakit. Tapi mendengar anaknya bisa pulang, ia senang.
“Ya, kita mau meeting besar minggu depan.Kemungkinan jangka waktu Andi disana dua tahun lagi. Tapi kita lihat nanti setelah meeting”jelas Clara.
“Kenapa Dave gak pernah cerita?”tanya Alena bingung.
“Karena kakak orangnya suka shock duluan. Jadi Kak Dave gak cerita. Aku tau sifat suami kamu kak.” jawab Sandra.
Iapun berjalan ke toilet yang jaraknya tidak jauh dari ruangannya. Ketika berada di wastafel, salah satu pintu kamar mandi terbuka. Sandra refleks melihat cermin didepannya. Tiba-tiba matanya terbuka dengan lebar. Ia tahu siapa wanita yang ada disana. Ia membalikkan badannya ke belakang. Wanita itupun sama-sama terkejut.
“Firly?” tanya Sandra.
“Sandra?” tanya Firly.
Sandra dan Firly langsung berpelukan. Mereka akhirnya bertemu setelah lebih dari 20 tahun berpisah.
“Kamu kemana aja, Firly? Kamu gak ngabarin kita..” ucap Sandra.
“Ceritanya panjang, Sandra..”
Sandra melepaskan pelukannya. “Kamu punya anak berapa?”
“Dua..” jawab Firly sambil tersenyum.
“Kamu menikah juga kita semua gak tau. Kamu jahat.”seru Sandra. “Oh, Alena pasti seneng ketemu kamu disini.”
“Alena?” tanya Firly. Entah bagaimana melukiskan perasaannya saat ini. Bertemu dengan sahabat yang sudah puluhan tahun tidak bertemu rasanya tidak dapat diungkapkan. Rasa bahagia, sedih dan semuanya bercampur menjadi satu.
Pintu ruangan terbuka. Sandra berdiri di pintu dengan wajah senangnya. Ia menatap semua orang yang ada disana.
“Kalian tau aku ketemu siapa disini? Kalian pasti kaget.” ucap Sandra.
Alena mengerutkan keningnya. Ia bingung. Sedangkan Clara tampak berfikir.
“Firly!” seru Sandra sambil menarik lengan Firly untuk masuk kedalam.
Jantung Alena tidak mau berhenti berdetak dengan kencang. Ia terkejut dan rasa sedih mulai menghinggap dadanya. Keadaan Firly sangat berbeda jauh dengan 20 tahun yang lalu. Wajahnya terlihat seperti sedang menahan beban yang begitu berat. Kantung matanya hitam seperti kurang tidur. Tubuhnya kurus seperti kurang makan. Ia menyalahkan dirinya sendiri. Padahal ketika ia muda dulu, Firly yang selalu ada disampingnya.Tapi kenapa ia tidak bisa membantu sekarang ketika ia dan Dave sudah sukses dan melewati puluhan tahun dengan bergelimang harta?
Alena menyimpan kedua tangannya di meja dan menunduk. Ia mulai menangis.
“Yang penting aku ada disini, Al..” ucap Firly ketika menghampirinya. Ia duduk disamping Alena.”Aku yang salah dari awal karena meninggalkan kamu disini. Aku bukan sahabat yang baik.”
“Aku bersalah lihat kamu seperti ini.”isak Alena.
“Aku baik-baik aja, Al. Semuanya udah berlalu. Nanti aku cerita semuanya. Aku memang bukan Firly yang kamu kenal dulu, dmana uang bisa datang kapan aja. Aku gak bisa kayak gitu lagi. Aku sekarang punya tanggung jawab dan kewajiban. Tapi aku masih Firly sahabat kamu. Maafin aku karena udah menghilang.”ucap Firly sambil memegang bahu ALena.
Alena mengangkat kepalanya dan memeluk Firly dengan erat. Hanya Firly yang tahu dan mengerti kegundahan hatinya. Hanya Firly yang sejak dulu membantunya. Namun sejak Firly memutuskan untuk menikah dengan pria itu, ia menghilang tanpa kabar sedikitpun. “Aku kangen sama kamu.”
“Aku juga, Al. Aku pikir kita gak akan ketemu lagi.”jawab Firly.