
Andi menatap tajam pria yang memanggil Ojo nya dengan berani. Siapa pria itu? Kenapa wajahnya tidak asing? Sepertinya ia pernah melihatnya tapi dimana? Ia melirik Ojo. Gadis itu tersenyum. Sepertinya mereka sudah saling mengenal. Sejak kapan? Ia memegang tasnya dengan sangat kencang. Jantungnya berdebar dengan kencang.
"Erika? siapa? temen kamu?" tanya Alena sambil melirik Andi.
Erika tersenyum. "Iya Tante. Itu Bumi, tetangga aku. Dia yang sekarang jagain apartemen aku." jawab Erika sambil menatap Bumi yang tengah menghampirinya. Entah berapa jam Bumi menghabiskan waktunya untuk datang ke tempat ini. Hatinya bergetar karena Bumi. Ya, tidak ada yang menggetarkan hatinya seperti ini. Pengorbanan Bumi sebagai seorang public figure ke tempat ini patut diacungi jempol.
"Aku pikir gak akan ketemu kamu. Aku nekat juga datang kesini." ucap Bumi sambil tertawa.
Erika menghampiri Bumi dan ikut tertawa. "Kamu gak ada kerjaan nyusul ke sini."
"Demi kamu apa yang enggak." jawab Bumi sambil tersenyum pada Alena.
Kedua mata Andi membelalak. Pria ini berani-berani menggoda Erika seperti itu. "Udah, lebih baik kita pulang sekarang." ucapnya sambil membuka pintu mobil.
"Sebentar. Mama belum kenalan sama temennya Erika." ucap Alena.
"Terserah." Ketus Andi sambil masuk kedalam mobil. Ia marah pada ibunya. Ia marah pada Ojo. Bukan pada Erika. Ketika ia marah seperti saat ini, ia hanya ingin memanggilnya dengan nama Erika.
Alena tersenyum melihat perubahan Andi. Ia cemburu namun tidak mengaku. Siapa suruh punya pacar, jadi Erika keduluan orang,pikirnya. Iapun menghampiri kembali pria itu.
"Halo Tante.." ucap Bumi ketika Alena menghampirinya.
Alena tersenyum. "Kayaknya gak asing ya?"
"Tante, Bumi ini artis. Dia salah satu host acara televisi yang sekarang lagi booming." ucap Erika
Kedua mata Alena membesar. "Oh ya? Wah, Tante gak nyangka temen kamu ini artis. Pantes Tante kayak pernah lihat tapi Tante lupa."
"Ah bukan artis Tante.. cuma host biasa." jawab Bumi merendah.
"Loh itu bagus. Nah, sekarang mau gimana? Erika mau pulang sama Tante?" tanya Alena.
Erika menatap Bumi. "Kamu bawa mobil?"
Bumi hanya mengangguk pelan.
Erika pun menatap Alena. "Kayaknya aku pulang sama Bumi aja Tante. Dia udah jauh-jauh kesini buat jemput aku."
"Oke kalo gitu, Tante pulang sekarang sama Andi ya, kalian hati-hati di jalan." ucap Alena sambil memegang lengan Erika. Setelah berpamitan, iapun pergi ke mobil.
Andi melirik ibunya. "Ma, panggil Ojo. Kita harus cepet pulang kalo gak mau kemaleman." ucapnya tanpa melihat ibunya.
"Ojo kamu itu gak akan pulang bareng kita. Dia mau pulang sama Bumi." jawab Alena cuek.
"Emangnya kamu pernah bilang mau jemput Erika? Kemarin kamu bilangnya mau jemput mama." jawab Alena sambil melirik Andi.
Andi tidak terima kejadian siang ini. Iapun menyalakan mobil dan menekan klakson dengan sangat kencang didepan kedua orang itu.
"Andi! Kamu apa-apaan sih?" teriak Alena marah.
"Lagian mama juga. Kenapa tadi malah kenalan. Sok cakep jadi orang!" jawab Andi kesal.
"Bukan sok cakep. Tapi emang cakep. Dia itu artis. Kamu aja kalah kalo kamu berfikir cuma kamu pria paling cakep dimuka bumi. Oh ya, ngomong-ngomong namanya Bumi. Bagus ya?"
"Stop ma! Aku muak denger omongan mama soal mereka. Mama gak pikir gimana perasaan aku!" jawab Andi dengan nada masih kesal.
"Yang harus kamu perhatiin itu perasaan pacar kamu! Jane.. Ngerti? Mama tau kamu cemburu, tapi kamu gak bisa berada diantara dua wanita. Mereka punya perasaan. Jane dan Erika sama. Perasaan mereka peka. Cuma kamu yang gak sadar."
Apa benar ia cemburu? pikir Andi. "Aku adil sama keduanya."
Alena langsung mencubit lengan Andi. "Sadar prince! Kamu gak mungkin mau punya selir kan? Mama gak akan pernah mau. Kalo kamu mau Jane, kamu harus lepaskan Erika. Tapi kalo kamu mau mendapatkan Erika, kamu harus lepaskan Jane. Semudah itu.."
"Semudah itu?" tanya Andi.
Alena mengangguk.
Tiba-tiba handphonenya berbunyi.
"Halo.." jawabnya. Ia yakin pasti Jane marah karena ia sudah membatalkan acaranya.
"Kamu dimana?" tanya Jane.
"Aku lagi dijalan mau pulang. Nanti malem gimana?"
Jane tampak berfikir. Ia terdiam sedikit lama. "Malam ini aku gak bisa ketemuan. Aku harus pergi sama mama, sayang."
"Oke, hati-hati. Aku lagi di jalan. Nanti aku telepon lagi. Bye.."
Alena melirik. "Jangan sampai kamu ditinggalin dua wanita sekaligus." ucapnya.
Andi terdiam. Ia mulai fokus dengan tatapannya menatap jalanan. Jika ia tidak membawa ibunya, ia pasti sudah membawa mobilnya dengan kencang.
"Gak akan." jawabnya kemudian