
Andi keluar dari ruangan dokter dengan wajah lesu. Ia belum beristirahat sejak sampai ke rumah sakit tadi malam. Ia dan ibunya bergantian untuk menjaga orang yang disayanginya. Ketika ia hampir saja terlelap di kursi jaga, pagi ini seorang suster datang menghampirinya dan ia diminta oleh dokter untuk datang ke ruangannya. Penjelasan dokter cukup rinci. Ia hanya tinggal memberitahu ibunya tentang keadaan ayahnya saat ini.
Ia berjalan dari ruang dokter ke kamar ICU dimana ayahnya berada. Namun ia melihat Om Edward dan Tante Clara sudah berada didepan kamar. Mereka tidak membawa anak mereka yang paling kecil. Semalam pula Cello sudah datang ke rumah sakit. Ia sengaja datang jauh dari Paris untuk menemui ayahnya.
Iapun menghampiri mereka.
"Om, Tante.." panggil Andi.
Mereka berdua menoleh. Clara menghampiri Andi dengan cepat. "Kamu harus istirahat dulu, Andi. Bawa mama kamu juga buat istirahat. Biar kami yang jaga papa kamu." Wajah Clara terlihat cemas ketika melihat Andi. Lingkaran hitam mata Andi terlihat jelas dibalik kacamata yang dipakainya.
"Tante, yang harus istirahat itu mama. Tolong Tante kasih tau mama. Andi masih kuat." jawab Andi. Iapun duduk di kursi dan termenung. Ia memegang tangannya dengan kuat. Ia menoleh pada Tante Clara. "Tante, apa papa pernah tabrakan waktu dulu?"
"Tadi kamu dari ruang dokter? Jadi gimana papa kamu?" tanya Edward.
Clara menggelengkan kepalanya. "Tante gak tau. Mungkin mama kamu yang tau."
"Kalo gitu kita ngobrol sama mama juga Om. Biar aku gak cerita dua kali." jawabnya. Iapun berdiri dan berjalan ke dalam.
Alena terus menatap Dave tanpa pernah berpaling. Ia terus menggenggam tangan suaminya itu sambil sesekali melihat alat yang terpasang di tubuhnya. Ia mengangkat tubuhnya dan berbisik di telinganya. "Bangun sayang, kita pulang.. Biar aku aja yang rawat kamu dirumah. Aku janji akan fokus merawat kamu."
Ketika terdengar pintu terbuka, Alena kembali duduk.
"Ma.." panggil Andi.
Alena membalikkan badannya. Ia melihat Clara dan Edward dibelakang Andi.
"Kenapa?"
"Ma, apa dulu papa pernah tabrakan?" tanya Andi.
"Kamu udah ketemu dokter?" tanya Alena.
Andi hanya mengangguk.
Tabrakan? Ya, Dave pernah kecelakaan yang sangat fatal ketika ia muda dulu. Jika ia tidak ada disana saat itu, mungkin nyawa Dave sudah tidak tertolong lagi. Alena awalnya menduga jika posisi kecelakaan suaminya sama dengan posisi ketika kecelakaan dulu ketika ia masih muda. "Pernah. Trus gimana?"
"Menurut dokter kecelakaan kali ini tepat di kaki papa yang waktu dulu pernah kecelakaan. Karena pernah ada bekas bedah di kaki papa. Untuk sementara papa mengalami kelumpuhan. Butuh waktu lama buat papa sembuh dan bisa jalan lagi."
Alena menitikkan airmata. "Mama gak peduli perlu berapa lama buat papa kamu bisa jalan lagi. Yang penting papa kamu hidup. Ia ada disamping mama dan kamu. Itu cukup buat mama."
Andi memeluk bahu ibunya erat. "Andi yakin mama bisa sembuhin papa. Mama selalu ada buat papa. Mama adalah dokter hebat." bisik Andi.
Alena memeluk Andi dengan erat. Ia tidak mengatakan sesuatu. Hanya isakan yang terdengar.
"Lebih baik kita istirahat dulu ma. Mama belum tidur." bisik Andi.
"Mama gak mau pergi dari sini." jawab Alena.
"Iya kak. Aku anter kakak istirahat dulu." ucap Clara sambil menghampirinya.
Alena menatap tubuh terbaring itu dan berbalik untuk menatap anaknya. "Oke, mama pergi dulu. Kabarin mama secepatnya." ucapnya. Ia pun menghampiri tubuh Dave dan berbisik. Setelah itu, ia berjalan keluar diikuti Clara.
Setelah keduanya pergi, Andi dan Edward menunggu didalam.
"Jadi gimana pekerjaan disini Om?" tanya Andi.
"Dipending sampai waktu yang gak bisa ditentukan." jawab Edward.
"Apa ngaruh om?" tanya Andi cemas.
"Belum." jawab Edward tenang.
"Aku semalem mikirin kerjaan kalian yang disini. Kalo papa kayak gini, pekerjaan kalian gimana."
Calvin menepuk bahu Andi. "Kamu gak usah mikirin apapun. Sekarang yang penting papa kamu sembuh."
Andi pun berdiri. "Om, aku beliin kopi ya. Om tunggu disini sebentar."
Andi keluar dari ruangan untuk membeli kopi di cafe yang berada didepan rumah sakit. Brussel tempat yang nyaman. Tapi jika disuruh memilih, ia lebih senang tinggal di Inggris saja. Suasana di Inggris ia lebih tahu. Ia tidak mengenal Brussel selama ini. Tidak terlalu banyak mobil yang melintas di depan rumah sakit. Ia pun menyebrang untuk sampai di cafe itu.
Beberapa pria berkumpul untuk merayakan perayaan ulangtahun teman wanitanya. Ia tersenyum sekilas. Saat ini ia tidak akan memikirkan wanita terlebih dahulu. Ia hanya akan fokus pada kesembuhan ayahnya dan perusahaan keluarga.
"two cup a hot coffe, please!" ucapnya ketika sudah berada didepan kasir.
Pria muda itu langsung membuatkan kopi dengan cepat. Kurang dari lima belas menit, dua cup kopi sudah ditangan. Iapun membawanya ke dalam rumah sakit.
Ketika berada diluar kamar ayahnya, ia mendengar suara Omnya sedang berbincang. Ia cukup mendengarkan diluar. Awalnya ia tidak mau mendengar. Tapi sepertinya mereka membicarakan tentang perusahaan.
"Berapa cabang di tiap negara?" tanya Calvin.
"Banyak. Kurang lebih lima belas total yang ada di Eropa." jawab Edward.
"Keadaan Dave kayak gini gimana menurut kamu?"
"Sebenernya bisa diundur. Tapi kalo masalah perut mana bisa diundur. Sampai sekarang hotel masih melakukan pengurangan karyawan. Aku udah bilang sama Clara. Dia malah bilang aku harus serahkan pekerjaan disini sama Andi. Andi belum berpengalaman masalah hotel. Gimana dia bisa ngangkat lima belas hotel yang lagi masalah gini?"
Calvin menghela nafas. "Susah ya, kenapa kamu gak percaya sama Andi?"
"Aku bukan gak percaya Vin. Andi belum pernah sekalipun dikasih tanggungjawab besar. Dia baru beberapa bulan megang perusahaan papanya. Kalo dia gegabah, kita harus pikirkan orang-orang yang bekerja di sana." jawab Calvin.
Andi kembali membalikkan badannya dan berjalan ke luar. Demi ayahnya, ia harus membuktikan pada pamannya jika semua dugaannya salah. Iapun mengeluarkan handphonenya dan menghubungi seseorang.