
Cilla sengaja datang jauh-jauh dari Roma menuju Milan hanya untuk menemui Sherly. Ia mendengar dari manajemennya jika Sherly mundur dari semua kontrak iklan dan kontrak kerjanya. Itu aneh. Ia mengenal Sherly cukup lama. Ia yakin ada sesuatu yang membuat Sherly harus melepaskan mimpinya. Ia membuka pintu apartemen Sherly dengan keras sehingga terdengar suara pintu terbanting pada benda dibelakangnya. Ia tidak peduli lagi. Ia merasakan ada sesuatu yang salah dari temannya itu.
"Are you sure?" tanya Cilla marah.
Sherly tersenyum. "Sayangnya aku serius kali ini sayang.."
"Kenapa tiba-tiba kamu mundur dari semua kontrak? Bukannya ini mimpi kamu?" tanya Cilla.
"Mimpi aku? Ya. Tapi aku kesepian Cill! Aku harus kembali dan mengejar kebahagiaan aku." ucap Sherly tanpa melihatnya. Ia masih sibuk mengemas pakaiannya kedalam koper.
Cilla tertawa memaksa. "Kesepian? Setiap saat kamu pesta sama teman-teman kamu, dan sekarang kamu bilang kesepian?"
"Ya, aku kesepian cinta.."
"Jangan bilang kamu mau kembali ke Indonesia gara-gara Vino?" tanya Cilla.
Sherly tertawa. Ia mulai menghampiri Cilla. "Kalo iya gimana?"
"Aku peringatkan kamu, Sher! Kalo sampai kamu mengganggu rumah tangga Vino dan istrinya, kamu berurusan sama aku, Sher!" ancam Cilla sambil menunjuk wajahnya.
Ancaman itu hanyalah ancaman dari mulut Cilla semata. Sesampainya di Indonesia, ia tidak menyangka akan tiba bersamaan dengan kedatangan pesawat lain. Vino. Pria yang paling dicarinya ada didepannya. Ia masih terlihat sama. Masih tetap tampan. Ia terlihat sibuk dengan koper dan tas kertas yang sedang dipegangnya. Ia seorang diri.
Vino menggelengkan kepalanya. Ia mundur seakan Sherly adalah seseorang yang menakutkan. "Nope. I've married now. Sorry."Jawabnya sambil berjalan cepat.
"Vino! You love me, right! Please Vino.." Seru Sherly sambil menangis. Ia bahkan tidak menghiraukan tatapan orang-orang disekitarnya.
Vino menghiraukan teriakan Sherly. Ia hanya ingin cepat menemui Sierra. Dengan setengah berlari ia sampai diparkiran dengan cepat. Vino mencoba menelepon rumah namun tidak diangkat. Iapun memutuskan untuk kekantor Sierra. Masih siang dan ia berharap Sierra ada dikantornya.
Sesampainya disana, Vino masuk kedalam dan mendekati resepsionis.
"Ada yang bisa dibantu?" tanya wanita itu. Wajahnya tidak terlalu cantik. Tapi ia memiliki keterampilan berbicara. Pantas saja Daniel menyimpannya didepan.
"Saya suami Sierra. Sierra masih ada dikantor? Saya telepon tapi hp nya gak aktif"
"Ibu Sierra sudah 2 hari gak kerja, pa."jawab resepsionis itu.
"Kemana?"
Resepsionis itu tersenyum. "Bapak yang seharusnya tahu. Bapak suaminya, bukan?"
Vino mengangguk. "Ya, saya baru aja pulang."
"Saya dengar Ibu Sierra sakit."
"Sakit?"tanya Vino terkejut.
"Ya, soalnya kemarin pa Daniel dan team sudah menengok bu Sierra dirumah sakit."
"Rumah sakit?"tanya Vino semakin terkejut.
Kenapa tidak ada yang memberitahunya? Iapun segera berlari keluar dan membawa mobilnya pergi dari sana. Ia mencoba menghubungi ibunya tapi tidak diangkat. Kemudian ia menghubungi ibu Sierra.
"Halo. "
"Ma, Sierra dimana?"tanya Vino cepat.
"Di rumah sakit Harapan. Ruang anyelir ya Vin." Jawab Firly tenang.
"Kenapa aku gak dikasih tau kalo Sierra sakit?" tanya Vino marah.
"Kamu dateng kesini dulu. Mama tunggu.."
Ia kesal karena tidak ada yang memberitahunya. Jangankan Sierra sakit, mendengarnya masuk rumah sakit saja tak terbendung rasa cemasnya kali ini. Ia salah karena tidak menelponnya ketika berada di Jepang. Kalau tau, ia sudah membatalkan pertemuannya sejak awal.
Mobil itupun masuk kedalam basement rumah sakit. Ia berlari keluar sesampainya disana. Beberapa perawat melihatnya. Ia tidak sabar untuk melihat keadaan Sierra. Ketika keluar lift, ia melihat kedua orangtuanya baru saja keluar dari sebuah kamar.
Sandra menoleh dan terkejut melihat Vino. "Bukannya kamu di jepang?"
"Aku baru pulang. Kenapa gak ada yang kabarin aku kalau sierra masuk rumah sakit?" Tanyanya kesal.
"Sierra yang minta. Dia gak mau mengganggu pekerjaan kamu disana." jawab Sandra.
"Sierra memang gitu. Kadang dia terlalu baik. Dari dulu dia gak pernah mau merepotkan orang lain." ucap Firly ketika keluar dari kamar. Ia mendengar diluar kamarnya suara ribut Vino. Sierra tidak tahu karena ia sedang tidur.
Vino tidak dapat berkata apapun mendengar penjelasan ibunya. "Gimana Sierra sekarang?"
"Istrimu udah cukup baik. Besok bisa langsung pulang. Itupun Sierra yang minta. Katanya dia takut kamu tau kalo dia masuk rumah sakit. Makanya mama pikir kamu baru pulang besok" Ucap Sandra.
"Konyol. Mana ada istri masuk rumah sakit, suaminya gak tau." jawab Vino kesal.
"Masuk sana. Kasian istrimu sendiri. Mama Firly mau pulang. Kasian dari pertama masuk rumah sakit dia sendiri yang menjaga istrimu."
"Iya. Makasih ma udah jaga Sierra." ucap Vino. Perlahan ia membuka pintu kamar tempat Sierra dirawat. Ia melihat Sierra sedang tidur. Vino tidak berani membangunkannya. Wajah Sierra masih pucat. Selang infus masih terpakai ditangannya. Ia memegang lengan Sierra dan mengusapnya lembut. "Kamu memang ya.. bisa aja bikin aku cemas." bisiknya.
Iapun duduk di sofa yang berada dikamar itu. Ia lelah karena baru saja tiba dari jepang. Ia akan menunggu sampai Sierra bangun.
Sierra terbangun karena haus. Ia perlahan menggapai gelas yang ada disampingnya. "Haus?"tanya Vino.
Sierra sedikit terkejut ketika Vino mengambilkan gelas itu padanya. Wajahnya terlihat lelah. "Kamu udah pulang?"
"Ya" jawab Vino sambil membantunya untuk minum.
"Kenapa? Mama kasih tau kamu kalau aku masuk rumah sakit?" tanya Sierra sedikit takut.
Vino menatapnya marah. "Gak ada yang kasih tau aku. Kenapa kamu gak bilang kalau hari itu kamu sakit?"
"Aku pikir aku gak apa-apa."
"Bohong!" Vino duduk disamping ranjang. "Maafin aku, Sierra. Aku pikir kamu sakit karena kecapean gara-gara aku. Aku terlalu membebankan kamu sama pekerjaan di kantor."
"Jangan gitu, Vin. Tugas aku buat bantuin kamu. Sekarang aku baik-baik aja. Besok aku udah pulang kerumah." jawab Sierra sambil tersenyum. Ia membuka gorden jendela kamarnya. Sudah gelap.
Vino kembali ke sofanya. Ia mengangkat kakinya keatas dan merebahkan dirinya di sofa. Sofa itu pendek sehingga seluruh tubuhnya tidak dapat bersandar dengan sempurna.
"Kamu pulang aja Vin. Kamu baru pulang perlu istirahat. Aku bisa sendiri."
Vini menatapnya. "Mana mungkin aku tinggalin kamu sendiri. Suami apa aku ini?"
Sierra menggeserkan badannya. "Kalau gitu, sini! Semalam juga mama tidur sama aku disini." Ia menepuk ranjang disampingnya.
Vino langsung bangun dan berjalan menghampiri Sierra. Ia tidak mungkin melewatkan kesempatan untuk tidur satu ranjang dengan Sierra.
"Biasanya kalau malam begini, suster dan dokter gak ada yang mengawasi. Apalagi besok aku pulang." Ucap Sierra pelan.
Vino ikut berbaring disamping Sierra. Ia menutup kedua matanya. Tangan Sierra yang tidak diinfus menarik lengan Vino untuk terbuka. Vino langsung membuka matanya dan menatap Sierra. Istrinya itu tampak sedang sibuk mengganti posisinya. Iapun berbaring beralaskan lengan Vino. Ia hanya tersenyum.
"Untung kamu datang, Vin" Ucap Sierra sedih.
Vino mengerutkan keningnya. "Kenapa?"
"Sakit itu rasanya gak enak." ucapnya sambil melihat salah satu tangannya yang sedang diinfus.
Vino melihatnya. Ia memegang tangan itu. "Sakit?"
"Aku gak peduli kalau kamu masih punya pacar. Saat ini aku cuma mau kamu sebagai suami aku."
Vino menutup mulut Sierra dengan tangannya "Udah cukup, Sierra. Kita ribut cuma masalah itu terus. Aku jelasin lagi. Sherly itu mantan aku. Dia yang memilih jalan hidupnya dengan ninggalin aku. Kamu harus ingat, sampai kapanpun aku gak akan pernah pergi dari sisi kamu. Kita udah menikah. Status kita sekarang adalah suami istri. Aku gak akan pernah menutupinya. Hadirnya kamu udah buat aku berubah. Banyak yang bilang kalau aku bukan Vino yang dulu lagi. Sejak aku ketemu kamu, aku terlahir sebagai Vino yang baru. Aku berterima kasih sama kamu soal itu." jelasnya. "Dan terakhir, biarin aku tidur karena aku benar-benar lelah."tambah Vino sambil menyimpan kepalanya di tengkuk Sierra.