
Andi menyelesaikan pengepakan terakhir barang-barang yang akan dibawanya ke London. Tadi pagi ia sudah mengirimkan beberapa kotak perlengkapannya menggunakan cargo. Kali ini ia hanya membawa beberapa baju ganti dan dokumen yang penting. Perjalanannya ke London memerlukan waktu hampir 17 jam. Ia tidak tahan jika harus menggunakan pakaian yang sama selama waktu itu. Ia menutup tas jinjingnya dan menutup resleting tas ranselnya dengan kuat. Tak lupa ia berikan gembok agar data-data yang dibawanya aman. Ia berdiri untuk melihat kamarnya terakhir kali. Ia tidak tahu. Entah sampai kapan ia berada di London. Target pekerjaan ia dengan tim nya hanya satu tahun. Tapi bisa saja ia merasa betah dan tinggal disana lebih dari satu tahun. Iapun tidak tahu apa yang akan terjadi nanti.
Ia terdiam. Dari sudut matanya, ia dapat melihat ibunya sedang menatapnya dari balik pintu. Iapun menoleh dan tersenyum. Ia menghampiri ibunya dan memeluknya.
“Jangan sedih ma..” ucap Andi.
“Kamu harus sering pulang. Kamu harus sering ngabarin mama. Di London gak ada sanak saudara. Kamu bekerja cuma sama Viar dan beberapa orang dari pihak hotel. Kamu harus bisa jaga diri.” ucap Alena sedih.
Andi tersenyum. “Ma, usia Andi 23 tahun. Mama harus percaya sama aku. Aku akan pulang dengan membawa kebanggaan.”
Alena melepaskan pelukannya. “Kita temuin papa.”
Andi mengangguk.
Mereka berdua melangkah ke kamar ibunya dimana Dave berada. Saat pintu dibuka, Dave sedang menyandarkan punggungnya di tempat tidur. Walaupun kondisi Dave sudah membaik, tapi kakinya belum dapat digerakkan. Ia hanya beraktifitas diatas tempat tidur. Ia menatap kedua orang yang datang menghampirinya.
“Kamu mau pergi sekarang?” tanya Dave.
“Iya pah.”
“Maaf papa gak bisa antar kamu. Kalau kamu mau nanya sesuatu soal pekerjaan kamu disana, jangan lupa telepon papa. Walaupun papa gak bisa jalan, tapi otak papa masih jalan kok” ucap Dave setengah menggodanya. Ia mengatakannya karena melihat awan mendung di wajah istrinya. Semalaman ia tidak bisa tidur memikirkan Andi. Berulang kali ia katakan pada istrinya untuk merelakan mereka berpisah sementara. Tapi tetap saja, istrinya muram. Kedekatannya dengan Andi tidak dapat di urai dengan kata-kata.
Andi menghampiri Dave dan memeluknya sebagai tanda perpisahan. “Jaga kesehatan pah. Jangan sakit lagi. Tunggu Andi pulang bawa kabar bahagia.” ucapnya.
“Harus. Kamu satu-satunya anak yang papa banggakan. Jaga diri kamu baik-baik. Sering kasih kabar sekecil apapun.” ucap Dave.
“Siap..” jawab Andi. Iapun berjalan keluar ditemani ibunya.
Sesampainya di bandara, ia dan Viar sudah ditunggu oleh seseorang. Siapa lagi jika bukan Calvin dan Edward. Mereka berdua menunggu ia dan Viar datang.
“Om..” panggil Andi
Kedua pria dewasa itu menoleh bersamaan.
“Andi, tunggu Om seminggu lagi. Om gak mungkin melepas kamu pertama kali disana. Nanti biar Om yang ajari kamu.” ucap Edward.
“Om banyak pekerjaan disini. Jadi Om tunggu kamu aja. Mungkin kita bisa mulai fokus mulai bulan depan.” jawab Calvin.
Terdengar suara dari pengeras suara memanggilnya untuk masuk ke ruang tunggu terminal.
“Oke Om, kita berdua masuk dulu. Sampai jumpa lagi.” Andi memeluk mereka berdua satu persatu.
Andi dan Viar berjalan ke dalam pintu kaca. Mereka harus melalui pemeriksaan petugas dahulu.
“Kamu udah ngomong sama pacar kamu? Kenapa gak nganter?” goda Andi.
Viar tersenyum. “Nganter sampai parkiran aja.”
“Nangis?” tanya Andi penasaran.
Viar setengah tertawa ketika mendengarnya. “Biasa aja. Iri ya?” goda Viar.
Andi langsung gugup. “Buat apa iri. Penasaran aja.”
Viar tertawa. “Nanti disana kita cari mahasiswi Indonesia. Aku bantuin kamu..” ucap Viar.
Andi langsung menepak bahu Viar. “Gak ada. Fokus dulu kerja..” serunya.
“Jangan terlalu fokus kerja. Kita juga harus ada hiburan..”
“Buat laki-laki yang udah punya pacar gak pantes ngomong gitu..” jawab Andi
“Aku ngomong buat yang gak punya pacar.” goda Viar.
“BR***S*K kamu Viar!” teriak Andi.
Viar langsung berlari setelah Andi hampir melayangkan tangannya di pundaknya. Ia tertawa bisa menggoda atasannya. Bukan hanya atasan, sejak awal Andi memintanya untuk berteman dengannya. Dan inilah yang terjadi. Ia menjadi teman Andi.