
Pertandingan itu dilakukan tanpa penonton. Hanya orang-orang tertentu saja yang datang menonton. Beberapa pasangan terlihat menonton latihan mereka. Erika menjadi penasaran, apakah tim basket Andi terkenal? Teringat ketika ia di Jepang dulu. Ia tidak pernah memiliki teman dekat kecuali adiknya yang menyebalkan itu. Untung saja saat itu Vino mau menemaninya kemanapun. Oh ya, iapun teringat ketika ayahnya sekolah dulu, ia adalah kapten tim basket sekolahnya. Dari cerita ibunya, ia mendengar jika ibunya sering mencuri pandang pada ayahnya hanya untuk melihat ayahnya bermain basket. Jadi baik ayahnya maupun Andi adalah seorang atlet basket? Kebetulan kah?
Suasana yang baru saja ia rasakan hari ini membuatnya berpikir, bisa saja ia kerasan tinggal disini. Ia menunduk sambil mengangkat kedua kakinya. Walaupun ia tidak terlalu menyukai permainan itu, tapi ia sudah ada disini. Jadi ia harus menikmatinya. Ia singkirkan dulu rasa kesalnya pada pria yang sedang berlatih itu.
Erika menatap setiap gerakan Andi dalam bermain basket. Pria itu bukan saja tampan, tapi ia juga jago berolahraga. Beberapa teman-teman yang ikut bermain dengannya memiliki tinggi yang sama. Rata-rata tinggi mereka 185. Andi terlihat sangat friendly. Ia tanpa sadar mengagumi sosoknya. Ia dikelilingi teman-teman yang sangat baik dan mengagumkan. Sekilas Andi menoleh padanya lalu kembali bermain. Erika terdiam tak berkutik. Ia menunduk dan memainkan kedua tangannya. Ia ingat bagaimana pria itu menggodanya ketika di acara itu beberapa bulan yang lalu. Jadi kali inipun pria itu pasti sedang menggodanya.
"Erika!" Panggil wanita disebelahnya.
Erika sedikit terkejut mendengar suara wanita yang sejak tadi menonton bersamanya. ia menoleh pada wanita itu."Ya"
"Kita belum kenalan tadi. Aku Jane." Ucap wanita itu sambil mengulurkan tangannya.
"Ya, aku Erika."
"Sejak kapan kamu kenal sama Andi?"
"Aku gak kenal kok. Orangtua kita aja yang kenal." jawab Erika.
Jane tersenyum. "Aneh, aku baru liat Andi dapet temen kayak kamu. Waktu kuliah dulu, Andi itu dikejar-kejar perempuan. Banyak banget yang suka."
"Termasuk kamu?" Pancing Erika.
Jane tertawa lembut. "Enggak. Aku sama Andi temen kuliah beda satu semester. Waktu itu aku masuk jadi manajer tim mereka. Andi, Rico, Bayu sama Edo satu tim. Aku gak pernah kepikiran buat suka sama salah satu dari mereka karena menurut aku, mereka sama."
"Berarti kamu udah lama kenal sama Andi?"
"Ya begitulah.." jawab Jane.
Teriakan Andi terdengar menggema di dalam ruangan. Terdengar pula jawaban teman-temannya. Mereka bersorak. Suara mereka membuat Erika dan Jane langsung melihat keseruan di lapangan.
"Keren ya mereka! Sering banget aku spechless liat mereka." Ucap Jane.
Erika menatap Jane. Wanita disampingnya jauh dari kata manager. Dandanannya tidak seperti para manajer pada umumnya. Ia tidak terlihat sporty sedikitpun. Pakaian yang ia gunakan merupakan seragam kerjanya. Lalu sepatu yang digunakan merupakan sepatu high heels. "Aku gak percaya kamu mantan manajer mereka. Kalo diliat dari dandanan kamu kayaknya jauh banget dari kata tomboy."
Jane tertawa. "Gak semua manajer itu harus tomboy."
Erika tertawa tanpa sadar. "Kamu tau rahasia Andi?" Tanya Erika hati-hati.
"Aku tau semua!" Jawab Jane bersemangat. Tidak pernah Erika merasa antusias seperti hari ini. Ia pun tertawa senang ketika mendengar Jane mulai bercerita.
"Ojo!"panggil seseorang.
Not again, pikir Erika sambil melihat ke arah suara. Ia melihat Andi berada tak jauh darinya. Butiran keringat memenuhi wajahnya. Wajahnya malah terlihat semakin tampan. Apalagi ia hanya memakai kaos dalam dan celana basketnya. Ia kembali membalikkan badannya.
"Ojooo!" Panggil Andi kembali.
"Apaa?" Jawab Erika marah. Ketika ia menoleh pada Andi, ia terkejut melihat teman-temannya ada disana juga. Iapun menatap Andi."Apa?" Jawabnya dengan sedikit lembut.
"Kita pulang sekarang. Aku anterin kamu." Jawab Andi. Nadanya jauh lebih sopan daripada tadi. Teman-temannya yang sejak tadi berada disampingnya hanya tersenyum melihat tingkah mereka berdua.
Erika pun berdiri dan melihat Jane.
"Jane.. aku pulang dulu." Ucapnya sambil menoleh pada Jane yang masih duduk di tempatnya.
Andi melihat GPS yang ada di handphonenya. Ia belum pernah ke tempat yang tadi disebutkan Om Calvin padanya. Ia melirik pada Erika. Ia benar-benar jadi supir hari ini. Wanita disampingnya terlihat serius menonton video yang ada di handphonenya.
"Ojo! Bantuin aku dong cari alamat rumah kamu. Aku belum pernah ke daerah ini. Tega banget sih nyuruh aku cari tempat."Omel Andi.
"Selama kamu gak panggil aku Ojo, aku bantuin kamu. Siapa suruh manggil nama aku kayak gitu." Jawab Erika santai.
"Seumur hidup, aku belum pernah punya temen yang nyebelin kayak kamu." Ucap Andi kesal.
"Sorry ya, aku bukan temen kamu! Jangan ngaku-ngaku."
"Kalo kamu bukan anak Tante Sandra, amit-amit deh aku mau nganter kamu." Ucapnya.
Erika melirik sekilas. Ia bisa merasakan kekesalan Andi. Ia tersenyum sambil menunduk. Sejak tahu tentang Andi dari Jane, penilaiannya terhadap pria itu berubah seketika. Mendengar pria ini dikelilingi banyak wanita, ia tidak terlalu aneh.
"Jadi nyesel?" Tanya Erika.
Andi melihat Erika cepat dan kembali melihat ke depan. "Kamu mainin aku?" Tanyanya curiga.
Erika menggelengkan kepalanya. "Mana mungkin!"
Andi menghela nafas. Iapun kembali melihat handphonenya. "Harusnya sih udah nyampe. Lagian tempatnya gelap." Pikirnya.
"Didepan belok kanan. Rumah nomor satu." Jawab Erika
Andi mengerutkan keningnya. Wanita disampingnya sengaja membuatnya marah.
Erika tersenyum. "Dari tadi aku liat google maps. Jangan kamu pikir aku diem aja, Andi."
"Aku pikir kamu nonton video." Jawab Andi cemberut.
Ketika mobil memasuki pekarangan rumah, Erika melihat ibunya sedang duduk dikursi yang ada di depan rumah.
Wajahnya yang terlihat semakin cantik membuat Andi tidak bisa untuk tidak menyapanya. Ketika mobil berhenti, ia langsung turun meninggalkan Erika sendirian di mobil. Ia menghampiri sahabat ibunya itu.
"Malam Tante.." panggil Andi.
Sandra berdiri dan menyimpan majalah yang sedang ia pegang. Ia melihat Andi menghampirinya.
"Andi, maafin Tante udah repotin kamu." Seru Sandra.
Andi tersenyum. "Santai aja Tante, aku juga gak ada kerjaan. Cuman maaf soalnya aku bawa Ojo ke tempat latihan dulu."
"Erika, Andi!!!" Teriak Erika.
Andi menoleh pada Erika. "Terserah aku." Jawabnya menyebalkan.
Sandra menepuk bahu Andi. "Maafin Erika. Jangan kapok ya bawa Erika main."
Andi terkekeh. Mana mungkin ia kapok membawa Erika Ojo main. Ia bisa menggunakan Erika untuk membuat wanita-wanita yang sampai kini masih mengejarnya itu patah hati. Lagipula Erika tidak punya pekerjaan disini. Ia bisa meminta ayahnya untuk memasukkan Erika ke perusahaan. Rasanya rencananya bisa terealisasi dengan mudah jika ia mengatakan pada ayahnya pelan-pelan. Mana mungkin ia menolak anak seorang sahabatnya. Erika lulusan jepang. Walaupun ia tidak memiliki pengalaman, tapi ia yakin pelajaran yang ia dapatkan disana sudah lebih dari cukup.