
"Halo.." jawab Andi ketika ia sedang membereskan meja ayahnya. Ya, ayahnya sudah pergi ke Eropa bersama Om Edward untuk masalah pekerjaan kemarin sore. Untuk sementara ialah yang menggantikan pekerjaan ayahnya disini walaupun sebenarnya iapun terkadang masih bingung. Lalu sekarang ibunya mengganggunya kembali setelah sebelumnya terus mengganggu pekerjaannya. Pertemuannya dengan Jane harus diundur gara-gara ibunya tidak mau ditinggalkan setiap malam. "Apa ma?" tanyanya kembali.
"Prince, jemput mama sekarang." seru Alena.
"Aku lagi sibuk ma. Kenapa enggak sama supir mama aja. Kemana sih dia?" elak Andi.
"Gak ada. Udah mama suruh pulang. Cepetan jemput mama. Nanti alamatnya mama kirim sama kamu. Kamu bisa kan setengah jam kesini?"
"Oke." jawab Andi lemas. Tidak ada yang bisa membantah perkataan ibunya. Lalu handphonenya bergetar. Ia melihat pesan dari ibunya. "Hah! Jauh banget.." serunya. Tanpa berpikir panjang, iapun berlari keluar.
"Jangan gitu sama anak kamu. Kasian!" ucap Sandra sambil menahan tawanya.
"Jujur aku masih kesel. Kalo aku boleh jujur San, aku kecewa sama Andi gara-gara punya pacar. Aku yakin Andi sama Erika berpisah gara-gara perempuan ini."
Sandra menggelengkan kepalanya. "Jangan bilang gitu Al. Lagian keduanya sekarang keliatan lebih bahagia tanpa kamu jodoh-jodohkan."
Alena mengangguk. "Aku doakan Erika dapat laki-laki baik. Kamu jangan bilang ke Andi kalo besok aku sama Erika mau pergi. Aku punya rencana."
"Terserah kamu Al. Aku gak mau ikut-ikut rencana kamu." jawab Alena. Tiba-tiba ia termenung. "Aku inget sama Firly terus. Dimana dia sekarang ya?"
"Aku juga kangen. Seenggaknya kalo dia ada masalah sama suami dan anaknya, kita bisa cari solusi. Aku harap dia dan keluarganya baik-baik aja." jawab Sandra.
"Anaknya mungkin sekarang seumuran anak kamu yang laki-laki." ucap Alena.
Sandra mengangguk. Dari kejauhan ia melihat Andi masuk. "Tuh anak kamu. Cepet banget dateng kesini."
Alena menoleh dan tersenyum. "Kan udah aku ancam."
Andi melihat beberapa wanita seusia ibunya yang berdandan begitu mencolok ketika ia masuk ke sebuah restoran kelas atas. Ia bingung. Sejak kapan ibunya menjadi seorang sosialita? Ia berjalan melewati beberapa wanita muda yang saling berbisik ketika ia melewat. Ia ingin menggoda mereka, tapi ia ingat Jane. Jika memiliki kekasih, ia adalah seorang pria sejati. Ia mengeluarkan handphonenya dan menghubungi ibunya.
Terdengar suara seseorang memanggilnya. Ia mencari ke arah suara. Ternyata ibunya berada di ruangan terbuka dengan seorang temannya. Tunggu, sepertinya ia mengenal teman ibunya.
Ia begitu ingin bertemu Ojo. Perkataannya ketika ditelepon terakhir membuatnya terus bertanya-tanya setiap malam. Jika ia bertemu dengan Ojo sekali saja, ia bisa menanyakan tentang perkataanya itu.
Ia berjalan dengan cepat untuk cepat sampai.
"Eh ada dua wanita cantik disini? Mana gebetannya?" goda Andi sambil duduk disamping Sandra.
"Husss!" seru Sandra.
Andi menoleh pada Sandra dan tersenyum malu. "Eh, Ojo mommy.. gimana kabarnya Ojo, Tante?"
"Dia baik." jawab Sandra sambil tersenyum.
"Dan jauh lebih bahagia tanpa bersahabat sama kamu." jawab Alena tajam.
"Loh, kayak ada yang ikut ngomong. Siapa ya?" goda Andi pada ibunya. Ia melirik sambil tertawa.
Alena melemparkan serbet mejanya pada Andi. "Pantes aja kamu ditinggalin Erika. Kamu itu nyebelin, Andi!"serunya.
Andi tertawa dan menyimpan serbet itu dimeja. "Tante, aku pengen ketemu Ojo. Bisa?"
"Dia lagi sibuk. Nanti kalo dia gak sibuk, Tante pasti bilang kamu." jawab Sandra.
"Iya Tante, aku mohon ya. Ada yang masih mengganjal di hati Andi. Ada yang belum beres antara kita. Andi bingung. Kesalahan Andi apa? sampai-sampai Ojo gak mau lagi temenan sama Andi."
Alena hanya menatap Andi yang memelas kepada Sandra. "Udah. kamu percaya sama Tante Sandra. Nanti kalian ketemu kok. oh ya, hari ini terakhir mana minta dijemput kamu karena besok mama mau ada bakti sosial selama tiga hari. Mulai besok kamu bisa main lagi sama pacar kamu. Tapi, kamu harus siap apapun yang mama butuhkan. "
"Ok Deal! Mulai besok aku bisa pacaran lagi!" ucap Andi sambil mengulurkan tangannya.