Love Actually

Love Actually
Pelukan mama



Andi melangkah tanpa tujuan. Ia berjalan dan meninggalkan mobilnya di dekat apartemen Erika. Ia menatap nanar beberapa bangunan disekitarnya. Terdapat sebuah tempat yang berhiaskan lampu-lampu yang sangat terang. Terdengar suara musik bergema dengan keras dari dalam ruangan. Ia menatap jam tangannya. Pukul 11 malam.


Ia tersenyum getir. Ia habiskan beberapa jam untuk berjalan tanpa arah dari apartemen Erika. Beginilah yang dinamakan patah hati. Petualangan terhadap semua gadis cantik berakhir seperti ini. Ini adalah karma baginya.


Tiba-tiba seorang perempuan menariknya masuk. Ia melirik sekilas. Tidak terlalu cantik. Hanya saja dari pakaiannya memperlihatkan jika ia bukan wanita baik-baik.


Ia menarik tangannya dan menatap dingin wanita itu. "Lepas." ucapnya tajam.


Wanita itu langsung melepaskan tangannya dan pergi. Tidak terdengar sumpah serapah wanita itu karena suara musik semakin terdengar kencang.


Sedangkan Andi melanjutkan langkahnya diantara lorong yang gelap. Lampu semakin menyoroti langkahnya. Ia merasa silau tapi ia teruskan berjalan. Sebuah bar baru saja terlihat oleh kedua matanya. Sepertinya dua gelas minuman akan cukup untuknya.


"Pesan racikan yang paling mahal!" ucap Andi sambil duduk di sebuah kursi. Seorang bartender laki-laki langsung mengangguk. Ia melihatnya membuatkan minuman untuknya.


Andi mengambilnya dan meminum pelan. Rasa pahit dan manis langsung terasa. Bisa dikatakan ia bukan penikmat minuman alkohol. Tapi malam ini ia ingin melepaskan rasa sakitnya dengan minuman ini.


Ia meneguk hingga 5 gelas. Tapi anehnya, ia langsung mabuk. Iapun mengeluarkan handphonenya. Ia harus pulang karena ibunya sedang menunggu dirumah. Ia mulai memesan taxi. Rasanya sulit jika ia harus kembali mengambil mobilnya.


Setelah membayar di kasir, iapun berjalan keluar dengan sedikit sempoyongan. Ia menunggu taxi yang dipesannya tiba.


Dirumah, Alena terus menghubungi Andi karena anaknya itu belum pulang. Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Ia tidak tahu dimana Andi bermain. Iapun menunggunya di dalam kamar. Hanya berselang 10 menit, ia mendengar suara mobil berhenti didepan rumahnya. Terdengar suara ketukan pintu di kamarnya.


"Bu, Andi sudah pulang." panggil pembantunya.


Alena pun bangun dari duduknya dan membuka pintu. "Tapi kok suara mobilnya beda?"


"Naik taxi." jawab wanita itu.


Alena langsung berjalan ke ruang tamu dan membuka pintu. Ia melihat Andi sedang membayar taxi nya. Alena sedikit mengerutkan keningnya ketika melihat langkah Andi yang sempoyongan. Ia langsung berjalan dengan cepat dan memegang tangannya.


"Kamu darimana?" tanya Alena cemas.


Andi tersenyum pada ibunya. "Tadi minum sedikit sama temen-temen." jawabnya.


"Trus mobil kamu?"


"Aku tinggal. Gak apa-apa. Aman kok."


Alena menggelengkan kepalanya. "Terakhir ya Andi. Mama gak mau lihat kamu kayak gini lagi."


"Iya ma. Andi ke kamar dulu." jawab Andi sambil melepaskan tangan ibunya.


Alena hanya menatap Andi ketika menaiki tangga. Ia menghela nafas. Ia tidak pernah sekalipun melihat Andi meminum alkohol. Senakal-nakalnya Andi, ia masih ingat kesehatan. Iapun menghampiri pembantunya.


"Bi, tolong bikin minuman hangat buat Andi. Nanti kalo udah siap kasih tau saya."


Andi memeluk lututnya dan menundukkan kepala. Ia mulai terisak pelan. Tapi ia langsung menghapusnya.


"Shitt! Apa-apan sih!" umpatnya menyadari ada airmata di pipinya. Seorang pria dilarang menangis, pikirnya.


Tiba-tiba pintu terbuka. Ia menoleh ke pintu dan melihat ibunya masuk dengan membawa minuman. Ia melihat ibunya menyimpan gelas itu di meja kerjanya.


"Mau cerita sama mama?" tanya Alena tiba-tiba. ia ikut duduk disamping Andi.


"Gak ada apa-apa ma." jawab Andi gugup.


"Mama tau kok kamu lagi error hari ini. Cerita sama mama. Ada apa?" tanya Alena.


Tiba-tiba Andi memeluk Alena dengan erat. "Ma, laki-laki itu gak pantes buat nangis kan?"


"Pantes-pantes aja. Karena laki-laki itu tetep punya perasaan sedih. Walaupun hanya beberapa persen. Kamu lagi sedih? Jadi alasan kamu mabuk-mabuk karena itu? Cerita sama mama sekarang. Mama bisa jaga rahasia kok. Anggap mama sebagai teman kamu, bukan mama kamu." ucap Alena sambil membelai rambut Andi.


"Ma, aku putus sama Jane." ucap Andi dengan nada berat.


"Putus?" tanya Alena terkejut.


"Iya putus. Andi gak nyangka jadi pengganti. Jane adalah pacar Rico sebelumnya."


"Trus gimana?"


"Ya, Andi mundur. Untuk apa Andi bertahan. Dua tahun Andi menunggu sampai Andi main-main sama beberapa temen perempuan di kampus. Padahal alasannya buat Jane cemburu. Tapi ternyata salah karena saat itu Jane udah jadi pacar Rico. Andi gak pernah patah hati ma, kali ini Andi ngerasa sakit hati banget. Kita putus pas Andi lagi sayang banget sama Jane."


"Kamu sadar gak kalo kamu itu dikelilingi wanita. Kamu bisa cari lagi, prince! Erika Ojo misalnya."


Andi terdiam seketika. Bayangan akan senyuman Ojo yang mengembang dibalik pelukan pria itu tetap ia ingat. Ia tidak mungkin lupa. Dadanya terasa sesak. Antara marah dan ingin meninju wajah pria itu.


"Gak ada lagi Erika Ojo di kepala Andi, ma.." ucapnya tajam.


"Loh, kenapa?" tanya Alena sambil melepaskan pelukannya.


"Ojo udah punya pacar. Laki-laki yang tadi siang jemput dia. Aku liat sendiri mereka pelukan." ucap Andi dengan mata nanar.


Alena terkejut. Ya, ia dari awal berharap anak dari sahabatnya akan menjadi menantunya. Ternyata ia salah. Kecewa? Ya, iapun kecewa. Tapi kembali lagi ke sesuatu yang terjadi sebelumnya. Andi pun sempat berpacaran dengan Jane. Ia tidak menyangkalnya. Tapi kemarin siang ia sengaja membatalkan pertemuannya dengan Jane gara-gara menyusulnya ke daerah. Ia ingat Andi pergi setelah menonton berita tentang Erika Ojo. Tapi tunggu.... Ia melihat tatapan nanar Andi yang sedang menatap keluar jendela. Apakah Andi?


"Andi, mama mau tanya sama kamu. Yang menyebabkan kamu patah hati itu putus sama Jane atau kamu liat Erika pelukan sama pria lain?"


Andi hanya menatap Alena tanpa menjawabnya. Ia kembali menunduk.