Love Actually

Love Actually
Episode 109



"Jadi Sierra sakit?" tanya Andi ketika ia sedang makan siang dengan Erika di kantornya.


Erika sengaja datang siang ini untuk memberikan kejutan pada suaminya. Sudah dua hari mereka tinggal di apartemen milik ibunya. Erika membuka beberapa kotak makanan dan memberikannya pada Andi.


"Jangan sibuk kerja. Aku udah bilang kalo yang bawa Sierra ke rumah sakit itu aku sama mama." jawab Erika.


"Ya, aku terlalu sibuk. Papa udah serahin semua kerjaan. Aku jadi kasian sama kamu. Bukannya aku gak perhatian sama kamu, tapi kerjaan aku memang banyak. Kita jadi tinggal di apartemen sementara biar deket ke kantor." ucap Andi sedih.


"Aku tau. Aku sedikit diacuhin sama kamu. Tapi, gak apa-apa. Kalo buat kerjaan gak apa-apa. Asal jangan buat Jane aja." goda Erika.


"Kamu masih inget sama Jane?" tanya Andi sambil menghentikan makannya.


"Tentu aja. Kalo gak ada Jane, kita gak mungkin masih menikah. Kita juga gak akan tau perasaan masing-masing. Kalo bukan karena Jane, kamu gak akan sakit hati trus melamar aku buat menikah sama kamu."


Andi tersenyum. "Jadi kita harus bilang makasih sama Jane?"


"No! Siapa tau Jane sekarang masih cantik. Dibanding aku, sebentar lagi berat badan aku naik. Tangan, paha, kaki semuanya sebentar lagi bengkak. Nanti kamu malah balik lagi sama Jane." jawab Erika sewot.


Andi tertawa mendengar ungkapan kekesalan Erika. "Makanya jangan godain aku. Udah tau aku cuma cinta sama kamu. Mau bentuk badan kamu sebesar gajah pun aku tetep cinta. Yang penting itu Erika Ojo" ucap Andi membuat Erika terdiam malu.


"Orang ketiga itu memang gak bagus buat rumah tangga. Kamu kasih tau Vino. Jangan terjebak sama orang ketiga." ucap Andi tiba-tiba. Erika hanya menatapnya.


Clara tengah meneguk wisky nya perlahan. Ia berada di apartemennya. Ia telah melepaskan semuanya di Paris karena seorang Vino. Ia menyadari bahwa ia begitu mencintai pria itu. Ia harus mencari alasan agar mereka bertemu. Ingin sekali ia melihat sosok wanita yang menjadi istri dari kekasihnya itu. Bagaimanapun ia merasa tidak rela kekasihnya jatuh ke pelukan wanita lain.


Ia mencari tumpukan demi tumpukan surat di atas meja. Ia memang berada di paris dan milan, tapi ada pembantu yang biasa datang ke apartemennya setiap hari. Akhirnya ia menemukan sebuah surat yang membuatnya bisa tersenyum. Surat itu bisa membuat mereka bertemu karena suatu alasan. Ia tersenyum licik.


...***...


Ketika Sierra baru selesai meeting, ia melihat sebuah paket berada di atas mejanya. Ia tahu kalau itu adalah gaun yang akan ia pakai nanti di event besar itu. Event yang dapat membuat perusahaannya menjadi besar. Orang-orang akan penasaran pada siapakah yang membuat pernikahan sempurna itu.


Perlahan ia membuka paket itu. Ia sedikit terkejut dengan warna gaun itu. Tanpa menunggu lama, ia menghubungi sahabatnya.


"Kenapa?paketnya udah nyampe?"tanya Mili sambil tertawa.


"Mili, kamu mainin aku? Aku datang ke acara itu bukan sebagai tamu. Kamu ngerti gak sih?"


"Aku sengaja buat gaun itu biar disana kamu bertemu dengan pangeran. Lagipula di Paris warna kuning sedang trend." Jawab Mili tenang.


"Aku udah nikah, Mili.." ucap Sierra.


"Di pesta itu gak ada suami kamu kan? Itu tandanya kamu masih lajang, sayang..."


Sierra lemas. Ia menyerah. "Oke, aku ngerti arahnya kemana. Aku pinjem gaun punya kamu sehari aja. Nanti aku balikin"


"Itu hadiah dari aku buat ulangtahun kmu bulan depan, Sierra."


Sierra tidak pernah merasa senang dengan hari ulangtahunnya. Ia pun menjawab. "Oke. Thanks friend."


"You're not happy." tanya Mili


"You know me so well."


"Yes. Aku harap kamu bahagia because your husband really handsome."


"Byee!!" teriak Sierra sambil menutup telepon. Ia menatap gaun itu kembali. Itu mengingatkannya pada saat-saat ketika mereka membuat gaun-gaun jenis itu untuk dipamerkan. Ia mendesah. Jika waktu dapat diputar, ia ingin masa itu kembali lagi. Ia ingin bertemu dengan designer-designer dunia tempatnya magang. Ia ingin semuanya terulang kembali.


"Jangan melamun. Aku udah bilang sama suami kamu, besok ada kemungkinan kamu gak akan pulang untuk mempersiapkan acara itu."


Sierra membalikkan badannya kebelakang. Daniel berada dibelakangnya sambil memegang sebuah kertas. Ia memberikannya pada Sierra.


Sierra mengambil kertas itu. "Kapan kamu telepon Vino"


"Dia ada diluar. Katanya tunggu kamu beres."


Sierra mengerutkan keningnya. "Diluar?" Iapun melihat ke jendela. Dan benar saja. Mobil Vino sudah terparkir diluar. Ia melihat jam dinding. Masih pukul 11 siang. "Mau apa Vino kesini?"bisiknya.


"Suami kamu overprotected ya. Istri kerja aja sampai ditungguin kayak gitu." Ujar salah seorang temannya.


Sierra hanya terdiam. Iapun memutuskan untuk menghampiri Vino. "Ada apa?"


Vino tersenyum padanya. Ia melingkarkan tangannya di lengan Sierra. "Ayo kita makan siang."


"Aku masih banyak pekerjaan Vino"


"Ayolah Sierra. Malam ini aku benar-benar sibuk. Besok kamu juga sibuk sampai gak pulang. Kalo suami lain tau istrinya gak pulang mereka pasti larang."


"Tapi ini masih pukul 11"


"Aku bisa nunggu. Kamu inget apa yang dokter bilang? Jangan telat makan.."


Ketika berada di restoran, Vino memesan berbagai makanan.


"Kamu jangan terlalu lelah, sayang" Ucap Vino mengejutkan Sierra. Ia tertawa. "Gak salah kan? Kamu istri aku. Wajar aku panggil sayang."


"Kamu mau apa?Jujur sama aku." Ucap Sierra menghentikan makannya.


Vino menggelengkan kepalanya. "Gak ada apa-apa."


Sierra masih tidak percaya. Ia menatap Vino curiga. Sejak pulang dari rumah sakit, sikap suaminya berbeda. Ia menjadi lebih manis dan romantis. Tidak seperti biasanya. Baginya, hal itu justru membuatnya takut. Ia takut jika suatu hari ia akan kehilangan sikapnya yang manis itu. Ia takut karena sikapnya yang manis itu akan membuatnya terbiasa.


"Jangan berfikir yang bukan-bukan. Aku cuma menikmati pernikahan kita. Aku menikmati hidup berdua dengan kamu."


"Thanks Vin.." Jawab Sierra malu.


"Kamu cantik kalau lagi malu. Pipi kamu merah."


Sierra hanya menunduk tanpa menjawab ucapan Vino


"Jangan terlalu lelah. Aku gak mau kamu sakit. Liat kamu sakit kayak kemarin buat aku merasa bersalah."


"Iya."


"Besok aku mulai lanjutin lagi proyek resort. Terpaksa aku harus kesana dan menginap dua malam. Aku harus tahu bagaimana situasi dan cuaca disana."


"Aku doakan semoga lancar."


"Terimakasih." Bisik Vino sambil menggenggam tangan Sierra. "I'll be missing you."


Sierra menggelengkan kepalanya." Ini cuma 2 malam, Vino. Jangan mengada-ada."


"Kenyataannya begitu. Aku harap kamu mau ikut denganku kesana. Dimas aja bawa istrinya. Masa aku enggak" Seru Vino.


"Jangan-jangan kamu udah mulai cinta sama aku. Tanpa sadar kamu gak mau kehilangan aku?" goda Sierra.


Vino tersenyum. "Kayaknya iya"