Love Actually

Love Actually
Dingin



Pagi ini Erika harus cepat berada dirumah sakit untuk presentasi. Bumi sudah pergi untuk syuting sebuah acara. Ia pergi pukul 3 pagi. Mereka memang tidak tinggal bersama. Tapi Bumi menghubunginya ketika ia berada dijalan tadi. Rasanya aneh ia berpacaran dengan pria itu. Semenjak ia mengenal Bumi, ia tahu rasanya dihargai. Ia tidak pernah mendapatkan hal itu dari Andi. Sejak awal ia tahu jika Andi menganggapnya sama seperti teman-teman lainnya. Perkenalan dengan Bumi banyak menghasilkan tawa. Bumi adalah sosok humoris yang sangat ia butuhkan. Terkadang iapun bingung. Ia tidak pernah berpacaran senelumnya. Ia sering bertanya, pria bagaimana yang bisa mengerti keadaan dirinya? Ternyata ia sangat nyaman berada didekat Bumi.


Ia keluar dari apartemennya dan berjalan menuju lift. Beberapa orang yang sedang berjalan sesekali menatapnya. Tak jarang dari mereka yang saling berbisik. Ia tidak peduli. Mungkin berita di televisi masih beberapa hari yang lalu masih hangat. Ia tidak dapat membayangkan jika media tahu tentang hubungannya dengan Bumi. Ketika keluar dari gedung, ia melihat sekumpulan orang-orang sedang berdiri didepan sebuah mobil. Mereka tampak aneh. Karena penasaran, ia menghampiri salah seorang pria.


"Maaf pa, ada apa?" tanya Erika pada salah seorang pria yang tidak ikut berkerumun.


"Ada mobil bagus yang gak diketahui pemiliknya. Udah dua hari ada disini. Padahal mobilnya bagus dan mahal. Tapi gak sayang, ditinggal gitu aja disini." jawab pria itu.


Erika semakin penasaran, iapun melihat mobil hitam yang terparkir sembarangan itu. Ia mengerutkan keningnya. Padahal kemarin mobil itu ada disana tapi ia tidak terlalu peduli. Ia tidak pernah terpikir apa-apa. Ketika mendekat, sepertinya ia mengenal plat mobil itu. Jenis mobilnya pun ia sendiri seperti tidak asing ketika melihatnya.


"Permisi pa!" ucapnya sambil masuk diantara kerumunan.


Ia terkejut dan yakin apa yang dilihatnya. Itu mobil milik Andi. Hiasan mobilnya masih yang sama. Hiasan mobil yang ia beli sewaktu mereka pergi ka mall waktu itu. Jantungnya semakin berdebar. Kenapa Andi meninggalkan mobilnya begitu saja?


"Ibu kenal?" tanya seorang pria.


"Kayaknya saya kenal pa pemilik mobil ini." ucapnya.


"Nah pas kejadian itu, di daerah sini ada yang kecelakaan. Kejadiannya pukul 12 malam. Orang itu langsung meninggal ditempat." jelas salah satu pria.


Mata Erika terbelalak tak percaya.


Itu bukan Andi. Itu pria lain. Kalau Andi meninggal, gak mungkin Tante Alena gak kasih kabar. Andi masih hidup. Ya, ia yakin. Pikirnya.


Iapun mulai menghubungi ponsel Andi. Nomor yang sempat ia block, ia kembali buka. Ia menghubunginya langsung. Butuh beberapa kali sampai ia mendapatkan jawaban.


"Halo.." jawab Andi.


Syukurlah. Ia bisa bernafas lega. "Halo." jawab Erika.


"Ya, siapa ini?" tanya Andi dingin.


"Ini Erika. Maaf aku ganggu kamu. Apa kamu simpen mobil dekat apartemen aku?"


"Iya. Kenapa?"


"Gak apa-apa sih. Gak akan diambil? Warga disini banyak yang nanya siapa pemiliknya." ucap Erika.


"Ya." jawab Erika.


Andi langsung menutup teleponnya dan menyimpannya di atas meja. Ia menatap handphonenya tanpa berkata apa-apa. Yang lalu biarlah berlalu. Ia akan tetap melanjutkan hidupnya sebagai Prince Andi, apapun yang terjadi. Ia tidak mau mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.


Tiba-tiba pintu diketuk. Sekretaris ayahnya masuk.


"Ada tamu. Mau diterima?" tanyanya.


"Suruh masuk." jawab Andi tanpa menanyakan siapa tamu yang datang.


"Oke."


Tak lama, pintu kembali diketuk. Andi tidak menjawabnya karena pintu sudah terbuka. Ia menatap siapa yang ada didepan pintu. Ia tidak terkejut sedikitpun. Jane ada disana. Ia menatapnya tidak enak.


"Aku ganggu kamu?" tanya Jane gugup.


"Masuk." jawab Andi dingin.


Jane melangkah mendekatinya. Ia tahu Jane gugup. Tubuhnya sedikit bergetar ketika berjalan mendekatinya. Ia bisa melihat itu.


"Aku bersalah sama kamu. Maafin aku." ucapnya tiba-tiba.


Andi langsung menatapnya. "Are you happy?"


Jane mengangguk. "Rico dan aku minta maaf. Dia juga merasa bersalah dan malu buat ketemu kamu. Pertemanan kita terjadi bukan sebentar. Kita semua dekat seperti keluarga."


"Stop. Yang penting kamu dan Rico bahagia. Aku gak perlu yang lain lagi." jawab Andi bijak. "Aku marah?Ya, pria mana yang gak marah kalau mengalami hal ini. Tapi asalkan kalian bahagia, aku gak perlu yang lain lagi."


Wajah Jane langsung berubah menjadi biasa. Ia tidak terlihat tegang. "Padahal aku pikir, aku bakalan dimarahin sama kamu. Aku pikir kamu gak mau ketemu aku. Ternyata kamu baik. Makasih di, kamu mau mengerti."


"Aku tau perasaan gak bisa dibohongi. Untung kita belum lama pacaran. Kalau kita udah lama pacaran, aku mungkin aja gak bisa maafin kamu. Bisa aja aku ajak Rico duel." ucap Andi sambil tersenyum samar.


"Kalo gitu aku pulang dulu. Thank you banget ya!" ucap Jane sambil berdiri. Iapun keluar dari ruangannya dengan cepat.


Semudah itu ia melakukannya? Ya, ia mengakui Jane adalah wanita berani. Ia tidak yakin wanita lain akan mengakui kesalahan didepan mantan pacarnya. Tapi ketika ia mengatakannya pada Jane, ia merasa hatinya lega. Ia kini mengakui, bukan Jane yang membuat hatinya terluka. Tapi wanita itu.