
"Kamu cantik, Sierra. Aku bisa jamin suami kamu gak akan menyesal karena menikah sama kamu." Ujar Mili yang sejak semalam terus berada disampingnya. Semalaman Mili mendengarkan setiap cerita yang Sierra katakan. Kenapa ia melakukan pernikahan ini? Bagaimana perasaannya? dan apa yang akan ia lakukan untuk masa depannya. Sayangnya, ia sedikit kecewa ketika Sierra mengatakan tentang masa depan. Ia tidak mau bercerita. Ia hanya ingin melakukan yang terbaik saat ini.
Sierra tertawa. Tidak terlihat perasaan gundah. Apalagi hari ini adalah hari pernikahannya. "Aku memang udah cantik walaupun tanpa gaun pernikahan." candanya.
Mili mengangkat salah satu ujung bibir atasnya. "Aku menyerah kalo kamu udah mulai percaya diri gitu.."
Sierra hanya tertawa.
Tok..tok..tok.. Pintu ruang rias terbuka. Ibunya masuk kedalam ruangan itu dan mengatakan jika semuanya telah siap. Ibunya datang untuk menjemputnya. Semuanya terasa seperti mimpi. Senyuman ibunya cukup bagi Sierra. Ia tidak mau yang lain lagi.
Semua ritual telah dilaksanakan dengan baik. Baik Sierra maupun Vino disebut sebagai pasangan yang paling ideal. Mereka terlihat serasi. Yang satu tampan dan satu cantik. Mereka tidak tahu bagaimana isi hati masing-masing. Vino bisa menutupi kegalauannya. Sierra tahu itu. Tapi pria yang sudah menjadi suaminya itu tidak tahu kegalauan hatinya saat ini. Beberapa saat yang lalu ia bisa tertawa ketika bersama Mili. Tapi ketika sahabatnya itu sudah pergi, ia tidak bisa menutupi kegundahan hatinya. Ia merasa gugup dan cemas.
"Sierra.. perkenalkan ini teman Kak Erika waktu di Jepang, ini Monita dan ini suaminya Yoga." Ucap Erika bersemangat.
Sierra menoleh dan terkejut seketika. Ia bingung. Ia belum mempersiapkan diri untuk bertemu dengan keduanya.
"Mereka dari Jepang. Sengaja ingin melihat Vino menikah." Ucap Sandra yang bahkan tidak tahu jika Sierra masih terkejut.
Mata Sierra nanar. Ia menatap ibunya. Iapun sama terkejut seperti dirinya.
"Kamu sierra bukan?" Tanya Monita ketika ia menjulurkan tangannya.
"Kalian kenal?"tanya Sandra.
"Kami pernah bertemu di Jepang, tante. Tapi sayang Sierra harus pergi. Kita ketemu cuma beberapa menit. Betul kan Yoga?Aku gak nyangka Sierra nikah sama Vino." Monita membalikkan wajahnya kebelakang. Suaminya itu hanya tersenyum.
"Vino, kamu tampan sekali. Kalian berdua serasi."ujar Monita.
Vino tersenyum. "Kami serasi bukan?Kalian ketemu Sierra di Jepang? Wah, ternyata Sierra bisa pergi ke Jepang juga. Aku gak nyangka" Jawab Vino tajam.
Sesaat Sierra terkejut dengan jawaban Vino. Ia melambaikan tangan pada ibunya.
"Ma, aku harus ke toilet. Bantu aku, ma" ucap Sierra pada ibunya.
"Ya, sayang." jawab Firly. Ia menggenggam tangan Sierra dengan erat. Tangannya bergetar hebat "Kamu baik-baik saja?" tanyanya cemas. Mereka mulai berjalan menuju toilet.
Sierra hampir menangis. Ibunya menggelengkan kepalanya. "Jangan. Jangan menangis Sierra. Tunjukkan kalau kamu wanita kuat. Mama mohon."
Sierra mengangguk pelan. Ia menarik napas dan menghembuskannya dengan perlahan.
"Vino udah jadi suami kamu, sayang. Kita gak mungkin mengeluarkan cerita masa lalu disini. Mama tau bagaimana perasaan kamu sekarang. Mama juga sedih. Tapi, kita harus ingat. Tamu diluar sana masih banyak." jelas Firly.
"Kalo boleh tau, ada cerita apa?" tanya seseorang yang tiba-tiba muncul dari arah pintu.
Erika masuk kedalam toilet dan menghampirinya. "Maaf, tapi kayaknya waktu tadi Sierra ketemu sama Monita dan suaminya, keliatan kaget banget. Ada sesuatu yang harus Erika tau? Itu juga kalo boleh. Siapa tau Erika bisa bantu."
Firly tersenyum. Ia memegang tangan Erika. "Kamu memang kakak yang baik. Sierra tadi cuma kaget. Tapi sekarang udah gak apa-apa. Itu semua cuma masa lalu. Gak usah diceritain lagi. Sierra juga udah lupa. Apalagi dia udah menikah sekarang."
"Kalo pun ada yang harus diceritain, tolong cerita sama Erika. Sedikit apapun Erika bisa bantu karena kita udah jadi keluarga sekarang."
Sierra mendekati Erika. "Makasih kak. Aku gak apa-apa sekarang."
Erika tersenyum. "Oke kalo gitu. Oh ya, kalo suatu saat Vino kurang ajar sama kamu, kasih tau kakak. Kakak nanti yang bikin perhitungan." bisik Erika yang dibalas anggukan Erika.
...***...
Dongeng itu sangat indah. Sierra hanya berharap dongeng itu akan terus berjalan seperti ini walaupun ia harus mendapatkan sedikit dongeng yang tidak mengenakkan. Pernikahan mewah layaknya Cinderella, tamu undangan yang luar biasa banyak. Itu semua bagaikan cerita dongeng baginya. Tidak ada yang istimewa.
Vino termenung di kamarnya. Ia teringat pada kejadian beberapa hari yang lalu.
Vino sengaja berdiri didepan lobi hotel untuk mengejutkan Sherly malam itu. Butuh beberapa jam untuk menunggunya. Tapi ia bisa bertahan. Ketika Sherly datang bersama manajernya, ia terkejut melihat Vino. Sherly masih menggunakan pakaian sexy. Mungkin ia baru saja menghadiri sebuah fashion show atau terlibat didalamnya.
"Vino."ucapnya. "Please wait me in my room." Sherly berkata pada manajernya.
Iapun menghampiri Vino. "Ada apa Vin? Apa ini surprise buat aku?"
"Aku terus menghubungi kamu tapi kamu sudah ditelepon. Aku terpaksa datang kesini untuk memutuskan sesuatu."
Sherly tersenyum. "Ya, aku baru pulang dari Yunani untuk pemotretan."
Merekapun duduk di lobi. Tiba-tiba Vino mengangkat tangan Sherly dan menciumnya. "Menikah denganku, Sher. Tinggalkan semua kerjaan kamu. Apapun yang kamu mau akan aku penuhi."
Sherly menggelengkan kepalanya. "Aku gak bisa. Maafin aku."
Vino menarik nafas. "Aku akan menikah beberapa hari ke depan" Ucap Vino akhirnya. "Dan bukan dengan kamu. Aku udah gak bisa nunggu kamu lagi."
Sherly terkejut tapi pada akhirnya ia tersenyum. "Aku ikut bahagia, Vin."
Vino tersenyum kaku. Ini bukan jawaban yang ia inginkan. Tiba-tiba handphone Sherly berbunyi. Ia mengangkatnya. "Yes, five minutes." ucapnya.
Vino berdiri tanpa mengucapkan sepatah katapun lagi. Ia pergi meninggalkan Sherly dengan perasaan kecewa.
Pintu kamar mandi terbuka. Vino tersadar seketika. Ia melihat Sierra baru saja keluar. Ia sudah mandi. Tercium wangi sabun yang ia pakai. Dan satu hal. Ia terlihat malu. Vino berdiri dan menghampirinya. "Tidurlah, besok kita mulai bicara. Aku lelah."
Sierra mengangguk pelan. Iapun berjalan kesamping ranjang disebelah Vino kemudian duduk. Ia melihat suaminya itu telah merebahkan diri dan menutup matanya. Setelah beberapa saat nafas Vino mulai teratur, Sierra berbaring disampingnya dengan sedikit waspada. Sedikit aneh, tapi Vino sudah menjadi suaminya. Sierra tersenyum. Sepertinya suaminya bisa diajak kompromi untuk tidak menyentuhnya sampai ia dan suaminya mempunyai perasaan yang sama. Tanpa sadar iapun mulai tertidur.