
Erika sudah menggunakan pakaian resminya untuk melakukan interview di rumah sakit yang dahulunya pernah menjadi rumah sakit kebanggaan Tante Alena. Seperti biasa, kali ini ia diantar oleh ibunya. Ia belum mengatakan pada Andi tentang pekerjaan ini. Sejak pagi ia menghubungi pria itu tapi tidak diangkat. Mungkin ia sedang sibuk pagi ini, pikirnya. Pertemanan antara ia dengan Andi belum berlangsung lama. Ia belum bisa menuntut apapun darinya. Tapi, untuk apa ia menceritakan semuanya pada pria itu? Pekerjaannya?
Ia melihat jalanan yang terasa sangat lancar. Ia belum pernah ke daerah ini sebelumnya. Rasanya menyenangkan pergi ke tempat baru. Ia berharap ada kabar baik hari ini.
Mobil Sandra melaju kencang ke rumah sakit. Ia ingat sekali dulu sering datang ke rumah sakit ini untuk menemui Alena. Rasanya memorinya kembali. Ia masih mengingat setiap jalan yang harus ia lalui. Alena belum tahu jika ia dan Erika mendatangi rumah sakit itu. Ia pikir telah melakukan sesuatu yang benar. Jika Alena tahu mereka datang ke rumah sakit, ia khawatir Erika tidak dapat merasakan bagaimana bekerja keras mencari pekerjaan.
Sesampainya dirumah sakit, Erika turun ditemani Sandra. Ia memegang tangan Erika dengan erat.
"Semangat sayang, interview ini bagus buat pengalaman kamu. Dari dulu kamu mau jadi ahli gizi kan? Sekarang saatnya. Mama yakin kamu pasti bisa melewati interview dengan lancar "
"Iya ma. aku masuk dulu." Ucapnya pada Sandra.
Erika masuk ke dalam rumah sakit seorang diri. Dengan bantuan satpam, ia akan bertemu dengan salah satu direktur rumah sakit. Nama dokter itu Ivan. Ia masih terlihat tampan di usianya yang sudah tidak muda itu. Ia melihatnya di balik pintu kaca. Namun ternyata ia harus mengantri untuk melakukan interview. Beberapa orang yang melakukan interview dengannya terlihat memiliki pengalaman. Ia pikir hanya ialah yang muda disini.
Erika merasa gugup. Namun Ia semakin gugup ketika namanya dipanggil. Iapun berdiri dan masuk kedalam.
"Halo.." ucap dokter Ivan yang tadi ia lihat itu. Ia menyapanya dengan sopan.
"Siang dok." Jawab Erika dengan bibir bergetar.
Dokter Ivan mendengarkan semua penjelasan Erika sambil tersenyum. Bahasannya bagus. Tentu saja karena Erika pernah magang di rumah sakit Tokyo. Mungkin karena ini adalah interview pertamanya. Jadi ia merasa gugup. Wajar. Iapun pernah melakukannya ketika muda dulu. Ia menatap CV yang dipegangnya. Gadis didepannya lulus dengan predikat hampir mendekati cumlaude. Lulusan Jepang tidak perlu diragukan lagi. Iapun mengangkat tangannya dan memintanya untuk diam. Ia melihat gadis itu terkejut. Ia hanya tersenyum
"Cukup, Erika. Saya sudah baca beberapa kali CV kamu. Dan kali ini saya yakin, kamu bisa bergabung dengan rumah sakit ini. Kamu siap bekerja besok?". Tanya Dokter Ivan.
"Besok dok?" Jawab Erika cepat.
"Ya, karena ini terdesak. Dengan pengalaman kamu magang di rumah sakit Tokyo, seharusnya kamu bisa menangani gizi rumah sakit ini dengan cepat. Saya gak butuh pegawai dengan pengalaman tahunan. Saya cukup mendapatkan pegawai seperti kamu."
"Bisa dok." Jawab Erika senang.
"Kalo gitu, sampai jumpa besok." ucap Dokter Ivan sambil mengulurkan tangannya.
"Thank you, dok!" Jawab Erika sambil membalas jabatan tangan pria itu.
Erika keluar dengan perasaan berbunga-bunga. Ternyata semudah itu ia melakukannya. Perlahan keberuntungan ada ditangannya. Ia berlari untuk segera sampai ke mobil ibunya. Ketika sampai didepan rumah sakit, ibunya sudah berdiri diluar mobil dengan wajah cemas. Erika berlari untuk sampai kepada ibunya
"Ma! Aku berhasil!" Seru Erika sambil memeluk Sandra dengan erat.
"Besok aku mulai kerja ma!"Jawab Erika sambil tertawa.
"Selamat sayang, kita harus rayakan malam ini." Seru Sandra. Ia kemudian menghubungi Calvin untuk cepat memberitahu kabar bahagia ini. Ia menunggu Calvin mengangkat teleponnya.
"Gimana hasilnya?" Tanya Calvin ketika ia mengangkat teleponnya.
"Diterima! Besok langsung kerja." Jawab Sandra senang.
"Kalo gitu sekarang kita ketemu di restoran biasa. Sekalian makan siang." Ucap Calvin.
"On the way......." Jawab Sandra bersemangat.
Erika mengeluarkan handphonenya. Kabar baik ini ada seseorang yang harus mengetahuinya. Ia tersenyum senang dan mulai mencari no telp Andi. Tiba-tiba ia urungkan untuk menghubungi Andi. Ia tidak mau mengganggunya. Lebih baik Andi tahu sendiri.
Andi berlari menuju restoran tempat ia dan Jane bertemu siang ini. Ia masih merasakan mimpi sejak semalam. Ia tidak menyangka akan semudah itu mengajak Jane pergi keluar. Namun kali ini berbeda. Ia menemui Jane untuk pekerjaan. Kebetulan Jane banyak pekerjaan. Jadi ia sendiri yang datang menemui Jane.
"Jane!" panggil Andi.
Jane menoleh ke arah suara. Ia tersenyum. "Udah makan?"
Andi pun duduk dan menyimpan handphonenya dimeja. "Belum."
"Ya udah aku pesenin ya. Kamu mau makan apa?" jawab Jane.
"Bebas."
Selagi Jane memesan makanan, Andi mengeluarkan beberapa dokumen untuk dijelaskan padanya. Ia menyimpannya di meja. Beberapa saat yang lalu ia meminta sekretaris ayahnya untuk membantunya membuat beberapa planning.
Ia melihat Jane mendengarkan penjelasan pelayan. Selagi mnunggu, ia teringat pada sahabatnya yang belum ia hubungi. Iapun mengeluarkan handphonenya dan menghubunginya.
"Jadi sampai mana kita?" tanya Jane yang kini sedang menatapnya.
Andi menyimpan handphonenya di meja dan membatalkan panggilannya. Ketika melihat Jane, ia masih mengingat Erika Ojo. Ia terdiam dan kembali fokus pada dokumen yang ia jelaskan. Dua wanita ini memiliki kepribadian berbeda.