Love Actually

Love Actually
Episode 81



Jane kembali ke apartemen Jefry dengan perasaan kesal dan marah. Ia melemparkan tas yang dibawanya ke atas sofa. Jefry menatapnya dengan tatapan aneh.


“Kamu tinggalin anak kamu disini demi obsesi kamu. Aku kecewa.” ungkap Jefry jujur. Berulang kali ia mengatakan ketidaksukaannya pada semua tindakan Jane yang dinilainya terlalu berlebihan.


Jane duduk di sofa. “Kenapa harus sahabat dia yang jadi istrinya?” tanya Jane kesal. Ia mengabaikan ucapan Jefry yang jelas-jelas khawatir padanya.


Jefry mengerutkan keningnya. "Kamu temuin Andi?"


Jane tidak menjawabnya. Ia hanya mengeluarkan handphonenya dan sesekali melihat nomor telepon yang tadi Andi berikan padanya.


“Cukup Jane, Andi udah punya istri. Aku nyesel bawa dia nemuin kamu di manchester kalo akhirnya kamu jadi gila gini.”


“Semua demi anakku. Kamu jangan ikut campur urusan aku.”


“Jangan jadikan anak kamu jadi alasan. Bilang aja kalo kamu mau  hidup mewah. "


"AKu gak perlu jawab pertanyaan kamu. Lebih baik jangan ikut campur semua urusan aku. AKu udah dewasa. AKu udah punya anak. Jadi jangan merasa kamu orang paling benar."


Jefry menggenggam tangannya dengan erat. Ia marah. Oke, aku gak akan ikut campur urusan kamu. Terserah..” jawab Jefry sambil berjalan keluar.


Jane menatap kepergian Jefry dengan datar. Iapun bangun dari duduknya untuk melihat keadaan anaknya.


“Sayang, kamu udah tidur ya?” tanya Jane ketika ia membuka pintu kamar dimana anaknya tidur. Ia menghampiri tubuh mungil yang sedang tertidur lelap itu. Tiba-tiba ia merasa ada yang berbeda dari tubuh mungil itu. Ia duduk dan memeriksa tubuh anaknya. Panas sekali. Bibir anaknya mulai membiru. Ia shock dan berlari keluar. Ia mencari Jefry. Ia mulai ketakutan.


“Jefry!” teriak Jane. Ia berlari keluar apartemen tapi tidak menemukan Jefry disana. Ia mencoba menghubunginya pun tidak ada tanggapan. “Jefry!”


Ia berlari kembali ke dalam dan mengangkat anaknya. Ia harus menuju rumah sakit segera.  Seingatnya tadi pagi anaknya tidak apa-apa. Apa yang terjadi pada anaknya?


Andi dan Viar berada di ruangannya ketika ia mendapat video call dari adik mamanya. Ia dan beberapa orang termasuk ayahnya terlihat sedang melakukan meeting. Dan tak terlewat, para pemegang saham pun ada disana. Sore ini ia terlihat sibuk. Untung saja kemarahan istrinya tidak terlalu lama. Jika dalam keadaan ia banyak pekerjaan dan mendapati istrinya masih marah padanya, ia khawatir tidak bisa melanjutkan pekerjaannya hari ini.


“Meeting kali ini membahas tentang apa?” tanya Andi mulai serius.


“Andi.. hasil akhir dari meeting kali ini memutuskan untuk mengembalikan kamu ke kantor pusat di Indonesia.” ucap Clara tenang.


“Termasuk Viar..” ucap Clara. Ia senang melihat wajah Andi terlihat berbeda.


“Baik bu..” jawab Viar senang.


Lima tahun berada jauh dari tempat tinggal kedua orangtuanya membuat mereka harus menahan rindu.


“Jadi kapan kita bisa pulang?” tanya Andi cepat.


“Kami beri waktu 2 bulan sampai semuanya disini siap. Kami sedang menyiapkan kantor tambahan buat kamu dan Viar. Untuk sekarang belum siap 100 persen tapi kalau kalian pulang nanti, tante jamin semuanya sudah selesai.” jawab Clara.


“Oke, makasih Tante buat informasinya.” jawab Andi senang.


Ketika video call ditutup, ia tidak sabar untuk memberitahu istrinya. Ia mendorong Viar keluar ruangannya agar ia bisa menelpon istrinya dengan lebih leluasa. Beberapa nada tersambung tapi belum diangkat oleh istrinya. Ketika telepon ditutup, ia mendapatkan telepon dari nomor tidak dikenal.


“Halo..” ucap Andi.


“Andi, please tolongin aku.” seru seseorang sambil menangis.


Andi melihat layar handphonenya dan kembali menyimpannya di telinga. “Siapa ini?”


“Jane, Andi.. Please, aku bingung harus minta bantuan siapa.” ucapnya sambil menangis.


“Kenapa Jane?” Padahal baru tadi siang ia bertemu di kantor. Tapi sekarang ia menghubunginya. Apakah ada akting dari Jane sore ini?


“Anakku, Andi.. Anakku masuk ICU.” ucap Jane masih dengan tangisannya.


Andi mendengar dengan serius. “Jefry ada disitu?”


“Jefry pergi dari rumah karena marah sama aku. Please, Andi tolongin aku. Kamu bisa ke rumah sakit? Aku gak pegang uang banyak. Please..”


Andi mengambil jasnya dan berjalan keluar tanpa melepaskan teleponnya. “Oke..”