Love Actually

Love Actually
Butuh Alasan



"Siapa? Pacar kamu?" tanya Edo sambil menatap pria yang sedang menatapnya didalam mobil.


Erika menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Bukan! Itu anak salah satu dokter yang ikut bakti sosial disini."


Edo hanya menganggukkan kepalanya.


"Oke. Kalo gitu saya pergi dulu. Nanti kalo butuh apa-apa bisa panggil saya di pos."


"Siap!" ucap Erika sambil mengangkat tangannya. Edo sempat bingung tapi ia membalas uluran tangan Erika.


"Makasih udah bawa saya liat lokasi. Selamat bertugas kembali." ucap Erika sambil tersenyum.


Pria itu tersenyum dan pergi meninggalkan Erika sendiri. Ia berjalan menuju pos jaganya. Walaupun sesekali ia melihat dapur umum. Tempat kesukaannya.


Sepeninggal letnan Edo, Erika melihat kembali mobil Andi yang sedang diparkirkan tak jauh darinya. Ia pun berjalan menghampirinya. Ia masih bingung dengan kedatangan Andi. Apa yang menyebabkan ia datang ke tempat ini? Apakah Tante Alena yang memanggilnya? Atau apakah ia datang untuk menjadi relawan juga?


Andi turun dengan tergesa-gesa. Perjalanan selama empat jam bukan sesuatu yang mudah. Ia lelah tentu saja. Ia harus melewati beberapa desa dengan jalan terjal. Tapi semuanya sesuai rencana. Ia bertemu dengan Ojo nya. Hanya saja ia sedikit kecewa ketika melihat Ojo nya itu dengan pria yang ada di berita.


Iapun melihat Ojo menunggunya dengan dahi mengerut karena panas. Ia berjalan dan tersenyum pada gadis itu. "Hai!" ucapnya.


"Ngapain kamu kesini?" tanya Erika bingung.


"Aku kesini buat melindungi kamu dari godaan media sama laki-laki plontos itu! Aku baik kan?" tanya Andi senang.


Erika mengerutkan keningnya dan hampir saja tersenyum namun dapat ia tahan. "Buat apa? Kita bukan teman. Buat apa juga kamu jauh-jauh kesini cuma untuk alasan itu?"


"Kamu emang suka butuh penjelasan. Aku kesini buat ketemu mama. Jadi jangan ge er." jawabnya berbohong.


"Oh. Oke, kalo gitu aku pergi duluan." jawab Erika sambil membalikkan badannya dan mulai meninggalkan Andi.


Andi menatap kepergian Ojo nya. Wanita cantik itu masih saja ketus seperti terakhir mereka bertemu. Tapi ia tidak akan menyerah. Iapun mulai berjalan mengikuti Ojo dari jauh. Ia melihat beberapa tenda yang terdapat tanda kesehatan. Ia melihat Ojo masuk ke salah satu tenda. Ia melihatnya banyak dokter yang sedang berjaga disana. Pasiennya pun sedikit banyak. Ojo nya terlihat langsung sibuk mencatat sesuatu didepan seorang dokter pria yang usianya tak jauh dari ayahnya. Dan ia juga melihat beberapa orang bertanda pengenal pers berdiri dekat dengan Ojo dan memotretnya.


Kenapa Ojo melakukannya? Sering sekali pertanyaan itu ada di pikirannya. Tiba-tiba mata Ojo menatap matanya. Ia menghela nafas. Apakah Ojo menyukainya sejak awal? Kenapa pikirannya kacau sekarang?


Tapi Ia akan menanyakannya nanti ketika ia sudah tidak sibuk.


Tiba-tiba lengannya dicubit dengan kencang.


"Mau apa kamu kesini, Prince?" tanya Alena. Ketika keluar dari tenda di sampingnya, ia terkejut melihat anaknya sedang berdiri didepan tenda. Ia tidak pernah meminta anaknya untuk datang. Apalagi hari ini Andi harus berada di kantor.


Andi menoleh pada ibunya dan tersenyum. "Sakit ma.. lepasin dulu." ucap Andi sambil memegang tangan ibunya.


Alena melepaskan tangannya. Ia menyimpan tangannya di pinggang. "Jelasin. Ngapain kamu kesini?"


Andi memeluk ibunya. "Aku kangen sama mama."


"Andi!Stop. Mama butuh penjelasan kamu!"


Andi memainkan bibirnya. "Mama sama Ojo sama aja. Kalian berdua butuh alasan. Aku kesini karena tadi pagi aku liat berita soal Ojo, ma.."


Alena mengerutkan keningnya. "Lalu buat apa?"


"Ojo harus dilindungi Andi. Kalau wanita cantik udah masuk media, mereka udah gak akan sama lagi. Banyak yang ngikutin. Banyak yang suka. Kalau Ojo kenapa-kenapa gimana?" jawab Andi serius.


"Kamu serius ngomong gini? Pacar kamu mau di kemanain?"


Andi terdiam. Hari ini saja ia tidak mengingat Jane. Apa mungkin perasaannya pada Jane tidak terlalu besar sekarang karena lamanya ia menyukai gadis itu?


"Mending kamu bantu mama sekarang. Kita mau bagi-bagi bantuan terakhir sebelum pulang besok pagi. Kalo ngomongin pacar kamu, mungkin obrolan kita baru beres besok. Sedangkan waktu kita disini terbatas." ajak Alena sambil menarik tangan Andi.