
Selama membangun kantornya yang baru, Vino menggunakan rumah orangtuanya untuk bekerja. Alasan yang tepat untuk pindah. Lagipula ia menggunakan rumah itu karena dekat dengan lokasi kantornya yang sedang dibangun.
Ia mengerjakan proyek yang akan segera dikerjakan di Jepang. Pekerjaannya dibagi dua dengan Dimas. Dimas telah mengatur biaya operasional dan pembiayaan lain-lain yang berhubungan dengan pembangunan kantornya. Sedangkan ia sendiri mengerjakan pelaksanaanya.
Sudah beberapa hari ini ia tidak pulang kerumah orangtuanya dan memilih tinggal disana karena ia ingin mengerjakan proyek itu dengan rapi dan tanpa kesalahan. Ibunya yang super cerewet namun baik itu sering memintanya untuk pulang, tapi ayahnya lah yang biasa meyakinkan ibunya agar tidak mengkhawatirkan keadaan anaknya. Ia sudah bukan anak kecil lagi.
Terdengar pintu diketuk pelan. Vino hanya cukup menatap Dimas dan pria itu langsung mengerti.
Ia berdiri untuk membuka pintu yang ada dilantai bawah. Sedangkan Vino masih penasaran. Siapakah orang yang malam-malam datang ke rumahnya kali ini.
“Vin..”panggil Dimas.
Vino tidak menolehkan wajahnya. Tapi ia mendengar suara koper sedang didorong. Ia membalikkan badannya untuk melihatnya. Wajah Dimas terlihat tidak bersahabat. Sepertinya ia tahu siapa yang datang. Ia membuka kacamatanya dan berdiri. Seseorang berada dibelakang Dimas. Seorang wanita. Tiba-tiba tubuhnya mulai terlihat ketika Dimas segera pergi dari sana dengan wajah malasnya.
“Halo, Vin.." ucapnya pelan. Suara dan sosok yang paling dirindukannya ada di hadapannya. Cukup lama ia tidak bertemu. Terakhir ia bertemu ketika kakaknya menikah. Perlahan ia berjalan mendekatinya. Kemudian wanita itu memeluknya. “Aku kangen sama kamu” bisik Sherly.
Vino membalas pelukannya. “Kamu pulang?”
“Ya. Aku lagi liburan beberapa hari disini. Lusa aku harus pergi lagi ke Paris untuk pemotretan.” jawab Sherly.
Vino langsung melepaskan pelukannya. “Sampai kapan, Sher?Tinggalin pekerjaan kamu dan menikah sama aku. Aku gak bisa menunggu lagi. Berapapun aku bayar buat mengganti pekerjaan kamu asalkan kamu mau kembali kesini” ungkap Vino sambil menatapnya tulus.
“Maafin aku, Vin. Saat ini aku masih terikat kontrak sama agensi dan brand. Aku gak bisa melepas gitu aja. Apalagi ini cita-citaku sejak kecil. Kamu sabar sedikit lagi..”
“Tapi..”
Sherly mengecup sekilas pipi Vino. “Ayo kita pergi. Aku baru aja turun dari pesawat buat nemuin kamu. Aku lapar.”
"Oke, kita makan sekarang."jawab Vino.
Erika menoleh pada suaminya. "Makasih ya sayang, udah mau anter aku kemanapun. Ini bukan keinginan aku. Ini keinginan baby." ucap Erika manja.
"Sama-sama sayang. Oh, aku lupa. Kemarin waktu Vino ke rumah, dia gak ketemu kita." jawab Andi.
"Justru itu aku sengaja ngajak kamu ke rumah. Lama-lama Vino emang ngeselin." jawab Erika.
"Kamu jangan sebel sama Vino. Nanti bayi kita malah mirip Vino. Bukan mirip aku!" seru Andi.
Erika menoleh pada suaminya. Lama-lama ia tidak mengerti jalan pikiran suaminya. "Kalo gitu aku mau benci sama kamu mulai dari sekarang."
"Eh, jangan! Enak aja.." seru Andi.
"Lagian omongan kamu itu konyol. Kalaupun anak kita nanti mirip sama Vino, itu wajar karena dia omnya. Lama-lama aku bingung sama pikiran kamu." ucap Erika
Andi tersenyum. "Wajar kalo aku jadi konyol. Bayi Yang ada diperut kamu itu bakal jadi penerus keluarga aku. Aku gak mau ada sesuatu sama anak kita."
"Makanya jangan konyol." ucap Erika marah.
Andi tersenyum. Ia mengangkat salah satu tangannya untuk mencubit pipi istrinya. "Jangan marah.. Aku cuma becanda."
Erika menghiraukan ucapan suaminya. Ia tertuju pada dua orang yang baru saja keluar dari gerbang rumahnya.
"Vino mau kemana?" tanyanya pada Andi.
Andi menyipitkan matanya. "Kayaknya itu Sherly.."
Mobil pun berhenti tepat didepan Vino. Erika keluar dengan cepat.
"Vino!" panggil Erika.
Kedua orang itu menoleh pada Erika.
"Mau kemana?" tanya Erika.
"Kak?" jawab Vino. Ia kemudian menoleh pada Sherly dan berbisik. "Tunggu aku di mobil."
Setelah Sherly masuk ke mobil, Vino menghampiri Erika.
"Ngapain kesini?" tanya Vino.
Erika mengangkat tangannya dan mencubit pipi Vino. "Ngapain kesini? Kamu tanya kakak ngapain kesini? Apa gara-gara perempuan itu bikin kamu gak sopan sama kakak?"
Vino melepaskan tangan Erika. "Sherly baru pulang kak. Aku mau anter dia ke hotel."
Andi mulai menghampiri mereka. Ia memegang tangan Erika. "Kenapa?"
Vino menatap Erika. "Oke, sorry kak. Tapi aku sekarang harus anter Sherly dulu. Kakak masuk ke rumah dulu. Ada Dimas di dalem."
"Enggak. Kakak pulang aja. Kakak gak yakin kamu bisa cepet pulang kesini." ucap Erika kesal. Ia berbalik dan menarik lengan suaminya. "Kita pulang!"
Vino hanya menatap kepergian keduanya. Kemudian ia kembali ke mobil untuk menghampiri Sherly.
Mereka berdua menikmati malam bersama disebuah restoran paling mahal. Vino dan Sherly adalah pasangan kekasih sejak ia masih berada di Jepang. Selama ini ia selalu berhubungan jarak jauh dan keduanya tidak pernah mempermasalahkan nya. Ketika Sherly liburan ke Jepang, mereka biasa menghabiskan waktu berdua. Namun semenjak Sherly menjadi pemenang ajang model dunia, ia hijrah dan tinggal di Paris. Tapi hubungan mereka masih tetap berjalan sampai satu tahun yang lalu. Sherly semakin sulit dihubungi. Beberapa kali Vino ingin melamarnya setelah pernikahan kakaknya namun ia urungkan terus.
Tangan itu terus digenggamnya seakan ia tidak mau lepas. Entah kenapa kali ini Vino merasa kosong walaupun gadis pujaannya berada disampingnya. Apakah karena ia terlalu lama menunggu?
“Ada apa sayang?”tanya Sherly yang terlihat mengantuk.
“Aku harus pergi sekarang. Kamu tidur dulu. Aku pulang kalo kamu udah tidur..” Bisik Vino.
Ia hanya butuh beberapa menit saja untuk sampai kekantornya. Ia melihat Dimas tertidur dimejanya. “Dim.”panggil Vino dibalik pintu.
“Ya.” Ucap Dimas cepat. Ia berdiri menghampiri Vino.
“Kamu pulang aja. Kasihan istri kamu. Aku masih harus buat gambar.”
“Aku pikir kamu nginap dihotel sekalian.” Nyinyir Dimas. Sudah lama sekali Dimas tidak menyukai Sherly. Menurutnya Sherly adalah gadis yang sombong dan menyebalkan. Sifatnya angkuh. Tidak cocok dengan Vino dan keluarganya yang harmonis. Ia tidak rela sahabatnya jatuh pada wanita yang salah. Jika membicarakan wanita itu tidak akan ada habisnya. Wanita itu hanya manis diawalnya saja.
Vino berjalan menuju mejanya. Tidak ada rasa kantuk dimatanya. Ia melihat kembali sketsanya yang tadi ia buat.
Dimas melihatnya dari pintu keluar. Ia tahu Vino akan seperti itu saat wanita itu kembali. Ia menggelengkan kepalanya dan berjalan pulang. Sedih. Mereka bersahabat sejak sekolah dasar ketika di Jepang dulu. Wajar jika ia merasakannya.
***
Sierra sedang melakukan riset disebuah taman kota untuk pekerjaannya. Ia berada disana bersama salah seorang teman laki-lakinya. Mereka berdua bekerja sama untuk memplanning sebuah pernikahan.
Klien mereka menginginkan pernikahan disebuah taman yang khusus. Untuk itulah team Sierra sengaja berada ditaman kota untuk mencoba peruntungan. Ia menyadari itu adalah sesuatu yang mustahil. Tapi selama belum mencoba ia tidak akan menyerah.
“Ada apa?”tanya Sierra ketika melihat temannya selesai berbincang dengan salah seorang pihak yang berwenang.
“I can’t” ucap Daniel lemas. Sierra langsung tahu jawabannya.
“Gak apa-apa niel, kita bisa cari lagi.” Jawab Sierra memberinya semangat.
“Ayo kita pergi. Kenapa ya kalau orang lain yang cari tempat bisa langsung dapat?” Ajak Daniel. "Kayaknya kita harus cari tempat lain. Gimana menurut kamu kalau di bukit?kita bisa kesana sekarang. Aku tahu ada sebuah taman di bukit yang dimiliki oleh salah seorang arsitek. Rumah orangtuanya berdampingan dengan taman itu. Aku dengar rumah itu sementara dijadikan kantor."
“Gimana orangnya?”
“Aku gak tahu. Waktu itu aku yang pegang pernikahan kakaknya. Tapi aku gak kenal mereka. Yang pasti kita bisa ketemu orang yang bertanggungjawab disana. Sebentar, aku telepon." ucap Daniel. Tidak butuh waktu lama untuk berbincang dengan mereka. Daniel dan Sierra langsung meluncur ketempat berikutnya menggunakan motor kesayangan Daniel.
Baru pertama kali Sierra melihat taman seindah itu. Otaknya langsung berhalusinasi dengan baik. Bagaimana ia meletakkan bunga-bunga disekeliling taman. Karpet merah, makanan, dekorasi dan kue pengantin serta tidak lupa live music.
Pekerjaan yang menantang. Sierra memang tidak digaji tinggi, tapi sekarang ia begitu mencintai pekerjaannya.
Seseorang tiba-tiba keluar dari kantor itu. Pria yang lumayan tampan. Tubuhnya tinggi dan bahunya lebar.
“Hai, Niel!” ucapnya.
“Dim, aku bisa ngobrol sebentar?"tanya Daniel.
"Oke. No problem. Mau dimana?"tanya pria itu.
"Kamu punya ruangan?"
"Ada, kita masuk kedalam. "
Daniel menghampiri Sierra. "Aku ngobrol dulu didepan. Kamu foto-foto lokasi ya, kalau bisa sekalian dibuat planningnya."
"Oke."
Danielpun menghampiri temannya dan meninggalkan Sierra sendiri. "Siapa? Cantik banget."tanya pria itu.
"Sierra. Asistenku. Jangan macam-macam. Dia baru patah hati." Ucap Daniel sambil berjalan masuk kedalam.
Sierra dapat mendengarnya. Ia tidak terlalu merasa sakit karena ucapan itu. Iapun mulai mengeluarkan kamera dan memotret.
Vino menatap gambarnya dengan jelas. Ia merasa lelah dan butuh kopi. Ketika tangannya menyentuh gagang kopi dan mengangkatnya ke mulut, kopinya habis. Ia melihat kekiri dan kekanan, Dimas tidak terlihat. Kemudian samar-samar ia mendengar suara seseorang sedang berbincang. Suara dimas dan pria yang iapun tidak tahu.
Iapun berjalan ke mini bar untuk mengisi kopinya kembali. Diluar terasa sangat sejuk. Awan terlihat biru. Vino membuka jendela. Angin segar langsung terasa. Ia melihat seseorang dibawah sana. Seorang gadis yang membelakanginya.
Ia tidak tahu apa yang dilakukan gadis itu. Mungkin ia hanya menatap pemandangan dari atas bukit. Entah mengapa ia terus memperhatikan gadis itu. Ketertarikannya begitu tinggi padahal ia tidak dapat melihat wajahnya. Entah berapa lama ia memperhatikannya sampai terasa tepukan dibelakangnya.
"Serius banget." Ucap Dimas sambil melihat kebawah. Gadis itu masih disana." Oh ternyata.."ejeknya
Vino berjalan menjauhinya.
"Dia cantik banget Vin. Namanya Sierra. " ucap Dimas tanpa pergi dari tempat itu. Ia melambaikan tangannya ketika gadis itu menatapnya. "Bulan depan mereka mau sewa taman buat pernikahan."
Vino berhenti dan menatap wanita dengan rambut indah itu. "Mereka mau menikah ditaman samping?"
"Bukan mereka Vin, mereka cuma wedding organizer yang mengatur acara itu. Oh ya, kita bisa pakai mereka juga buat acara meeting dengan customer bulan depan.”jawab Dimas sambil mengikuti Vino dari belakang. “Eh Vin, taman mama kamu masih bisa disewa kan?”
“Iya.”
“Baguslah, aku bisa terus liat gadis itu.” Jawab Dimas sambil tersenyum.
"Kenapa wajah kamu kayak gitu? Kamu inget dim, istri kamu lagi hamil." Ucap Vino mengingatkan. Ia tersenyum karena puas membuat sahabatnya terdiam.
"Kamu juga harus inget, Sherly masih ada disekitar kamu."
Vino langsung terdiam. Senyumnya tiba-tiba menghilang.
"Adil bukan?"Dimas melihat wajah Vino sambil mengejeknya.
Terdengar suara motor mulai meninggalkan rumah nya. Vino kembali duduk dan mulai memakai kacamatanya kembali. Ia menatap serius gambar didepannya. Ia mengangkat tangannya untuk menggambar, tapi ia berfikir kembali. Ia seperti pernah melihat wanita tadi. Tapi dimana?