Love Actually

Love Actually
Lose control



Andi membawa mobilnya dengan kecepatan penuh di jalan raya. Ia menghiraukan peringatan polisi yang terlihat di bahu jalan. Ia kesal, bagaimana bisa ia tidak diberi kesempatan untuk bicara oleh istrinya? Lalu, bagaimana bisa istrinya menyuruhnya untuk kembali pada Jane yang jelas-jelas tidak ia cintai. Ia hanya mencintai Ojo sampai kapanpun. Ia bahkan rela diperbudak oleh perasaan yang tidak menentu. Ia berharap perasaannya menemui timbal balik. Ia berharap suatu hari Ojo akan mencintainya juga. Ia akan sabar dan tidak akan mengatakan perasaannya pada Ojo saat ini hingga waktunya tepat. Namun ia bodoh. Kesalahannya kali ini hanya satu, ia pergi menemui Jane di Manchester tanpa memberitahu Ojo. Ternyata rasa penasaran telah membuat hubungannya dengan Ojo kacau dan berantakan.


Ia bahkan masih marah ketika berada di kantor. Moodnya sangat buruk sampai siang ini. Begitu keluar dari ruang meeting, ia langsung pergi ke kantornya tanpa menunggu penjelasan dari masing-masing departemen. Perasaan kesal dan bersalah tidak mau ia tunjukkan pada semua karyawannya. Jadi lebih baik ia berada didalam ruangannya tanpa diganggu oleh siapapun. Siapa tahu di ruangannya ia akan mendapat pencerahan. Tiba-tiba tanpa peringatan, Viar masuk ke ruangannya tanpa mengetuk terlebih dahulu.


"Kalo masuk ruangan, bisa gak kamu ketuk dulu?" tanya Andi marah.


Viar mengerutkan keningnya. Ia aneh melihat sikap atasannya siang ini. Tidak biasanya ia marah ketika melihatnya langsung masuk ke ruangan. Biasanya ia langsung masuk tanpa mengetuk.


"Kalo gitu aku keluar dulu. Nanti aku ketuk pintu." goda Viar.


"Ssstt.. sini!" ucap Andi.


"Kenapa bos?" tanya Viar. Ia menghampiri Andi dan duduk di sampingnya.


"Aku berantem sama istri." jawab Andi.


"Biasa, bumbu berumah tangga. Aku juga sering sama Davi. Nanti juga baikan."


"Ini tentang wanita lain." ucap Andi.


Viar langsung menoleh pada Andi. "Wanita lain? Kamu punya pacar lagi?"


"Bukan, kemarin aku ke Manchester buat ketemu sama wanita itu. Aku gak bilang sama istri. Aku memang salah pergi kesana. Aku udah minta maaf tapi istriku malah ngomong yang enggak-enggak. Dia bilang aku disuruh balikan. Itu ucapan gila kan?" ucap Andi kesal.


"Manchester? Mau ngapain kamu kesana? Trus siapa wanita itu?"


"Aku ketemu temen yang notabene saudara mantan aku waktu makan siang direstoran. Aku pernah cerita dulu soal manager tim basket yang jadi pacar aku lima tahun lalu. Nah, wanita ini namanya Jane. Si Jane ini sudah bercerai dan sekarang lagi ambil magister di Manchester. Kebetulan aku diajak temen kesana buat liat kondisi Jane. Aku gak punya pikiran apa-apa sama Jane. Aku cuma penasaran dengan kondisi dia yang udah cerai dengan suaminya dan punya anak tapi masih sekolah di luar negeri. Kamu ngerti kan maksud aku?"


Viar menggelengkan kepalanya. "Kamu terlalu perhatian, bos."


"Gini.. Aku jelasin. Aku udah lupain pengkhianatan Jane di masa lalu. Aku udah lupain cara dia sakitin aku. Aku udah gak punya perasaan apa-apa sama dia. Sebagai teman, apa aku salah?" tanya Andi serius.


Viar mengangguk. "Tentu aja salah. Posisi kamu sekarang udah punya istri. Seharusnya kamu bilang sama istrimu soal ini sebelum kamu pergi. Kalo gitu kamu gak menghargai istrimu dong bos!".


"Salah? Aku pikir kesalahan aku cuma aku gak kasih tau Ojo soal pergi ke Manchester."


Viar mengangguk. "Dari niat kamu pergi ke sana juga udah salah. Lebih baik sekarang kamu minta maaf sama istrimu. Minta maaf dari lubuk hati yang paling dalam. Kamu bilang gak akan kamu ulangi lagi."


Andi terdiam. "Aku tadi sempet pecahin gelas gara-gara marah sama Ojo. Ojo kelewatan. Dia malah ngajak pisah. Tapi dia pasti kaget. Kadang aku kalo marah suka gak kontrol sih. Aku salah gak bisa menahan diri."


"Sedahsyat itu?" tanya Viar terkejut.


Andi mengangguk.


"Apa?"


Viar mengangkat jari-jarinya dan menyuruhnya mendekat. Ia langsung berbisik sesuatu.


Erika berjalan-jalan seorang diri disepanjang jalan menuju sebuah cafe yang berada dipusat kota. Sudah satu jam ia melangkahkan kakinya entah kemana. Beberapa kali ia melihat pakaian musim dingin yang terpajang dibeberapa factory outlet. Kota London telah memasuki musim dingin. Hampir setiap toko yang ia lewati, terpasang manequin memakai pakaian hangat. Iapun merapatkan blazer yang dapat menghangatkan tubuhnya.


Cafe itu sudah terlihat olehnya. Sebuah cafe dengan gaya artistik terlihat mempesona. Ia bahkan sempat melupakan kejadian siang ini dirumah karena terpesona pada bangunan ini.


Siang tadi setelah suaminya pergi, ia mulai membersihkan lantai dimana terdapat pecahan kaca karena kekonyolan suaminya. Ia mengatakan apa yang ada didalam hatinya. Untuk apa melanjutkan pernikahan jika yang ada di dalam hati suaminya adalah wanita lain? Tapi ia tidak menyangka suaminya akan semarah itu. Apakah seorang Andi sudah mencintainya? Jantungnya mulai berdebar dengan kencang. Usia pernikahan mereka bisa dikatakan masih sangat muda. Apakah rasa itu akan muncul karena seringnya kebersamaan mereka? Tapi apakah secepat itu? Iapun tidak tahu.


Erika sudah tiba di salah satu cafe artistik itu. Iapun masuk kedalam dan duduk disalah satu sudut ruangan. Setelah ia memesan sesuatu, ia membuka laptopnya. Hanya dengan membuat blog segala permasalahan dapat ia lupakan.


"Let's do this!" ucapnya.


Selang beberapa lama kemudian, handphonenya berbunyi. Ia melihat siapa yang memanggilnya. Untuk pertama kalinya selama ia menikah, ibunya memanggilnya. Biasanya ia yang menghubungi ibunya terlebih dahulu. Tapi kali ini ibunya yang menghubungi.


"Halo ma.." jawab Erika.


"Kok kayak yang males. Kenapa?Udah mulai mual?" goda ibunya.


"Mual kenapa?" tanya Erika bingung.


"Loh, kamu udah periksa ke dokter belum?"


"Aku gak sakit ma. Buat apa ke dokter?"


"Periksa ke dokter, tanya apa kamu udah hamil atau belum?" tanya Sandra.


"Ya ampun mama, aku menikah sama Andi itu baru 2 minggu ma. Jangan buru-buru.." elak Erika.


Terdengar suara handphone beralih. "Halo Ojo, ini mama Alena. Gimana? Udah ada perkembangan?" tanya Alena sibuk.


"Aduh, kalian berdua sama aja ma.. Aku belum hamil titik. Kalaupun aku hamil, aku pasti kabarin kok." jawab Erika kesal.


"Jangan lupa banyak minum vitamin, dan jaga suami kamu." ucap Alena.


"Iya ma.." jawab Erika.


Dan telepon pun ditutup. Ia menatap handphonenya sejenak. Kedua ibunya menghubunginya hanya itu menanyakan hal itu? Ia menggelengkan kepalanya. Hamil? Ia tidak pernah terpikir untuk hamil setelah menikah. Tanpa sadar ia memegang perutnya. Ia membayangkan bagaimana jika ia hamil suatu hari nanti. Ia kembali membayangkan kemarahan suaminya. Rasanya, akan sulit. Mungkin perkataannya tadi ada yang salah. Tapi, sebagai seorang wanita yang selalu menghabiskan waktu berdua dengan Andi, wajar jika ia mengatakan hal itu. Hati wanita lebih sensitif apalagi menyangkut wanita lain.


Ia menghela nafas. Iapun kembali menatap laptopnya untuk mulai bekerja.