Love Actually

Love Actually
Kabar buruk



Andi keluar dari ruangan ayahnya sambil membawa berkas yang akan ia kirimkan ke kantor Om Edward. Walaupun ia berada di Eropa saat ini, ia bisa menyerahkan pada salah satu asistennya. Ketika ia sedang berada di lift, ia bertemu dengan salah satu asisten Om nya.


"Saya baru mau kesana." ucap Andi.


Pria yang bernama Viar itu tersenyum. Pria itu memiliki usia yang tidak jauh darinya. Ia lebih tua tiga tahun darinya. Penampilannya cukup menarik. Tubuhnya tinggi proporsional. Kacamata kotak membingkai wajahnya dengan sempurna. "Saya gak enak pa. Lebih baik saya yang ambil dokumen. Sekalian saya mau membahas penjualan kamar hotel bulan kemarin. Kata Pa Edward dan Ibu Clara, saya laporan ke bapak."


"Oke. Kita ngobrol di lobby." jawab Andi. Kali ini Tante nya aneh. Kenapa ia dilibatkan dalam urusan hotel dan resort milik keluarganya? Iapun menghubungi Tante kesayangannya itu.


"Ya, Prince!" panggil Clara.


Andi sempat terkejut mendengar panggilan yang biasa digunakan oleh kedua orang itu. "Tante Clara?" tanyanya.


"Iya. Kenapa? Cepet pulang. Kita udah masakin makanan enak buat kamu." ucap Clara.


"Bentar. Tante ada di rumah?"


"Iya. Tante nginep dirumah kamu sekarang. Makanya cepet pulang." ucap Clara.


"Aku mau nanya dulu. Ini ada asisten Om Edward disini. Bilangnya mau laporan soal penjualan kamar. Tante gak salah pilih orang kan?" tanya Andi.


"Prince, Tante mau minta tolong ke siapa lagi? Anak kembar Tante perempuan. Mereka terjun di bidang yang bertolak belakang sama pekerjaan keluarga kita. Kalo mau nunggu si bungsu, mungkin masih 20 tahunan lagi." jelas Clara. Padahal ia sengaja menyiapkan Andi. Andi adalah salah satu anak yang hebat. Ia bisa menggantikannya. Sedangkan Clara? Tentu saja akan menyusul suaminya di Eropa. Tanpa sadar ia tersenyum sendiri. Ia harap rencananya berjalan lancar.


"Salary nya double?" tanya Andi hati-hati.


"Jangan bilang salary. Tante kasih sedikit lembaran buat kamu. Gimana?" tanya Clara.


"Oke. Deal!" jawab Andi cepat. Ia sudah mengerti apa yang dimaksud Tantenya dengan lembaran itu. Iapun menatap pria didepannya. "Kita ke lobby dulu." ucapnya.


Andi membaca sekaligus mendengarkan apa yang dikatakan pria itu ketika mereka berada di lobby. Grafik penjualan yang ia baca tidak terlalu membuatnya pusing. Ia langsung mengerti sejak pertama kali dijelaskan.


"Kalo saya lihat, kayaknya ada kesalahan manajemen manusia. Gimana bisa pegawai banyak yang disimpan di beberapa bagian yang gak produktif?" tanya Andi kesal.


Pria didepannya gugup. "Menurut personalia, semuanya sudah diatur dari awal. Bahkan Pa Edward gak bisa berbuat banyak. Beliau menurut ucapan personalia.


Andi mengerutkan keningnya. "Nanti saya yang bilang." ucapnya kesal. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. "Kalo boleh saya tahu, papa saya sama Om saya ada urusan apa ke Eropa. Mereka gak ke satu negara aja kan?"


Pria didepannya mengangguk. "Masalah yang sama. Penjualan kamar menurun drastis. PHK besar-besaran dimulai. Maaf Pa Andi, tapi saya pikir semuanya gak akan bisa selesai cepat. Perlu banyak perbaikan."


Andi menyandarkan punggungnya. "Viar. Aku panggil nama aja, gimana?"


"Gak masalah Pa!" jawab pria itu.


"Andi. Panggil saya Andi. Kalo boleh saya tahu, kamu di bagian apa kerja disana?"


Andi mengerutkan keningnya. "Administrasi? Seharusnya kamu ada di bagian manajemen. Kamu lulusan mana?"


"Saya lulusan perguruan tinggi negeri. Jurusan manajemen."


"Nilai kamu paling tinggi apa?" tanya Andi serius.


"Risk management." jawab Viar


"Oke. Cocok!" seru Andi. Ia langsung berdiri. "Aku udah ngerti laporannya. Lebih baik kamu pulang sekarang." ucap Andi. Namun baru saja melangkah, ia kembali membalikkan tubuhnya. "Oh ya Viar, kayaknya kita bisa jadi temen." ucapnya sambil melanjutkan kembali jalannya.


Andi pulang ke rumah dengan cepat. Sesampainya di pintu, ia disambut oleh sepupu kesayangannya yang sudah berdiri. Tapi ia terlhat habis menangis. Matanya masih basah. Bibir dan hidungnya merah.


"Hai, boy! Why are you crying, baby?" seru Andi sambil memeluk sepupunya dan membawanya kedalam gendongannya.


"Ardan not boy, Andi!" seru Clara sambil menyimpan tangannya di pinggang.


"What's problem, Tante? Dia boy kan?" tanya Andi sambil menghampirinya.


"Keponakan Tante makin ganteng. Apa kabar Prince? Kenapa gak pernah kerumah?" tanya Clara sambil memeluk Andi


"Aku gak akan cerita karena aku yakin mama udah cerita semuanya sama Tante." jawab Andi sambil melepaskan pelukan Clara.


Clara tertawa. "Kamu memang pinter. Trus gimana selanjutnya?"


"Tante, dengerin ucapan aku. Aku, Prince Andi, sementara akan rehat dulu nyari princess. Aku mau fokus kerja sambil nunggu lembaran demi lembaran dari Tante." bisik Andi sambil tertawa.


Clara hanya menggelengkan kepalanya. Ia membawa Ardan pergi ke kamarnya. Clara pun memutuskan untuk mengikuti Andi ke kamarnya. Ia menghampiri Andi yang sedang duduk di kursi kerjanya tanpa melepaskan Ardan. Clara duduk disalah satu sofa yang tidak jauh dari jangkauannya.


"Mau cerita?" tanya Clara


Andi menggelengkan kepalanya. "Semuanya udah terjadi. Aku gak mau inget-inget lagi. Please.." ucap Andi.


"Oke. Tante hargai privasi kamu." jawab Clara sambil mengangkat tubuh Ardan dari pelukan Andi. "Tante harus bawa Ardan ke kamar dulu."


Baru saja membuka pintu, mereka mendengar suara teriakan histeris dari lantai bawah. Clara dan Andi saling bertatapan.


"Itu suara mama, Tante.."ucap Andi panik


Andi berlari secepat mungkin untuk melihat ibunya. Ia takut ibunya terjadi sesuatu. Iapun terdiam di tangga ketika melihat ibunya menangis di lantai. Ia menatap Andi. "Papa.." tangisnya.