
"Cepet pulang. Jangan lama-lama di Korea nya." bisik Vino tepat ditelinga Sierra. Malam ini Sierra dan Daniel pergi ke Korea berdua tanpa ditemani oleh Vino. Awalnya Vino memang akan ikut mengantar Sierra, tapi ia terlalu banyak urusan yang harus ia selesaikan. Pekerjaannya banyak. Ia tidak mungkin egois dengan memberikan semua pekerjaannya pada Dimas demi Sierra. Ia hanya bisa memeluk Sierra erat sebelum istrinya itu pergi.
Sierra melepaskan tangan Vino. Ia menatapnya lama. Sangat disayangkan Vino tidak bisa ikut dengannya. Pekerjaannya banyak. Ia tidak mau menjadi seorang istri yang merusak pekerjaan suaminya hanya untuk kesenangannya. "Doakan aku semuanya lancar."
Vino mengangguk. "Banyak kejadian baik datang minggu ini. Aku yakin kamu berhasil. Aku tunggu kamu di rumah dengan hasil yang positif." ucap Vino tulus. Ia kembali memeluk Sierra erat. "Jangan lupa terus kabari aku keadaan kamu disana. Malam ini aku tidur sendiri. Aku pasti kangen sama kamu."
Sierra memegang wajah Vino. Kemudian ia merapikan rambut pria didepannya sambil tersenyum. "Aku gak akan lama kok. Paling lama 4hari. Sesuai planning kita disana."
"Satu hari aja kayak satu tahun. Pokoknya kamu harus sering hubungi aku."ucap Vino.
Sierra tersenyum. Ia berjinjit dan mencium pipi Vino. "Jangan nakal. Sherly ada disekitar kamu.." bisiknya.
"Aku tau. Aku pasti hati-hati." jawab Vino sambil tersenyum.
"Mau sampai kapan kalian berdua mesra-mesra gitu. Ini tempat umum. Gak sadar kalian lagi diliatin sama orang-orang?" tanya Daniel kesal. Sejak dari parkiran tadi, ia tidak pernah melihat Vino pergi sedikitpun dari samping Sierra. Keduanya pun tidak segan-segan memperlihatkan kemesraan mereka didepan umum.
Daniel sedang menjinjing satu tas berisi peralatan yang akan ia bawa ke sana. Ia sengaja tidak menyimpannya di bagasi karena harga isi barang itu sangat mahal. Ia menyimpannya dibawah. Matanya menatap pasangan didepannya dengan kesal. Pria yang sudah menjadi suami Sierra itu setahunya adalah pria yang dingin. Ia ingat ketika ia sedang mengurus pernikahan Erika Ojo, hanya pria didepannya ini yang tidak pernah mau ia atur. Ia tidak mau memakai seragam, ia tidak mau berada dekat dengan orangtua pengantin. Bahkan ia membawa pasangan sendiri yang saat itu terlalu angkuh untuk berada di pernikahan seorang Erika Ojo yang ekslusif. Pria itu dingin pada siapapun termasuk pada kekasihnya saat itu. Tapi pria yang ada didepannya sungguh pria yang berbeda.
Alis Daniel terangkat ketika keduanya sedang menatapnya sambil tersenyum malu. Mereka menghampirinya sambil berpegangan tangan.
"Aku titip Sierra. Aku tau cuaca Korea lagi musim semi. Cuaca disana sedikit dingin. Jangan sampe dia kedinginan. Dia suka alergi kalo kedinginan." ucap Vino.
Terdengar suara panggilan dari pengeras suara. Daniel menatap Sierra. "Terakhir kali kalian mesra-mesraan didepan aku. Aku duluan check in." ucapnya sambil berbalik. Ia berjalan menuju ruang check in bandara.
"Aku pergi." ucap Sierra pelan.
Vino memeluknya untuk terakhir kali. "Cepet pulang. Aku tunggu kamu dirumah."
Sierra mengangguk. Ia pun berjalan menuju ruang check in. Ia menoleh ke belakang, Vino sedang melambaikan tangan padanya. Entah kenapa ada perasaan sedih kali ini. Ia membalas lambaian tangan Vino. Ia hanya berharap satu hal dengan kepergiannya kali ini. Sherly tidak menggoda suaminya ketika ia tidak ada. Iapun berharap mudah-mudahan Vino tidak berubah ketika ia kembali nanti. Ia membalikkan badannya kembali dan menunduk. Ia menghapus airmata yang sudah menumpuk di pelupuk matanya.
Seandainya waktu dapat diputar kembali, ia ingin merubah waktu untuk kembali ke masa lalu. Ia ingin merubah semua yang pernah terjadi padanya. Seharusnya ia mengenal Vino jauh lebih lama dari Sherly.
"Udah melamun nya?" suara Daniel mengejutkannya.
Sierra menoleh dan melihat Daniel. "Aku enggak melamun."
"Enggak, cuma sedikit sedih aja."
"Nanti kalo udah nyampe di Korea, kamu langsung hubungi suami kamu." goda Daniel.
Sierra tidak mengindahkan semua ucapan Daniel. Ia berjalan untuk mulai menaiki pesawat.