
Sierra menarik nafas berat. Ia terlihat berat jika mengingat masa sulit itu. "Aku lulusan fashion dan design di Internasional Fashion Academy dua tahun lalu. Lalu aku melanjutkan sekolah lagi di tahun yang sama untuk ambil jurusan bisnis tapi terpaksa enggak aku lanjutkan karena kasus itu. Cita-cita aku membuat sebuah bisnis pakaian, makanya aku ambil jurusan bisnis. Di kantor, nggak banyak yang tahu kalau aku adalah fashion designer di paris. Waktu aku baru lulus, aku udah dapat penawaran dari sebuah bridal ternama di dunia untuk bekerja ditempatnya. Tapi saat itu sayangnya aku malah melanjutkan sekolah lagi."
"Lalu kenapa berhenti? Ada kasus apa? Apa karena kamu sekolah diluar negeri, mama berhutang?"
Sierra menggelengkan kepalanya. Ia terlihat hampir menangis. "Aku dapat kabar dari mama untuk segera pulang. Bukan pulang kesini. Tapi pulang ke Amerika. Waktu itu aku tinggal disana karena ayah kerja disana. Di paris aku dapat kabar tentang kematian ayah di tempat kerjanya. Ayah bekerja sebagai Engineering disebuah perusahaan di Nevada. Ia melakukan kesalahan karena membuang limbah di sungai yang biasa dipakai oleh warga. Air warga tercemar dan ayah harus mengganti rugi hingga puluhan milyar." jelas Sierra. Wajahnya mulai merah. Ia menutup matanya. "Karena tekanan, akhirnya ayah bunuh diri karena enggak sanggup menambah beban keluarga. Tapi, apakah dengan kematian ayah semuanya berubah? Enggak. Semua dibebankan sama mama. Mama menjual hampir seluruh harta yang kami miliki. Ijazah aku ditarik oleh perusahaan ayah karena aku dapat beasiswa dari sana."
Sierra menyusut airmata nya dengan cepat. Iapun melanjutkan. "Aku gak bisa melanjutkan mimpi aku. Aku memang seorang designer, tapi aku gak bisa mengejar mimpi yang aku mau. Kami kehilangan banyak uang. Belum lagi selesai kasus ayah, kakak aku divonis menderita substance abuse disorder. Kita berdua memutuskan pulang ke Indonesia dan tinggal di rumah yang kita tempati sekarang. Kita berdua pun terpaksa pergi ke Indonesia tanpa kakak. Karena kakak perawatan disana sampai sekarang. Peninggalan dari ayah terakhir adalah mobil tua yang suka mama pakai."
Vino menggelengkan kepalanya. Ia tidak percaya semua yang telah terjadi pada Sierra. Ia memegang stir mobil dengan erat.
"Kalau kamu merasa keberatan dengan uang 15 miliar itu, aku bersedia bercerai sama kamu secepatnya. Aku akan ganti semua uang kalian. Aku udah bilang sebelumnya sama mama kalo aku mau mengganti uang itu."
Vino langsung menoleh. "Gampang banget kamu ngomong perceraian ? Aku gak mau. Gimana dengan masa depan kamu?"ucap Vino marah.
"Aku gak peduli lagi sama masa depan aku. Sejak kematian ayah dan kepergian pria itu, aku udah gak peduli dengan cibiran orang-orang."
"Pria yang ninggalin kamu?"tanya Vino bingung.
"Ya, Yoga. Sahabat kakak Erika." Ucap Sierra kesal.
Alvar terkejut. "Siapa?"
"Yoga."
Vino semakin terkejut. Ia tidak menyangka Sierra benar-benar akan mengatakan sesuatu yang jujur seperti itu. "Kamu baik-baik saja?" Tanyanya ketika melihat Sierra bersandar di bangkunya.
"Aku capek. Aku mau pulang."
"Oke. Ayo kita pulang. Nanti kita bisa bicara lagi." jawab Vino.
Ketika mobil sudah jalan, Sierra segera menyandar di kaca samping. Ia tertidur. Vino menatapnya tapi ia tidak berani membangunkannya. Bahkan ketika mereka sudah sampai dihalaman rumahnya. Ia tidak berani membangunkan. Ia hanya bisa menunggu.
Kedua mata Sierra terbuka. Ia terkejut ketika berada di mobil.
"Kamu bangun?"tanya Vino disampingnya.
"Kenapa gak bangunin aku?"ucap Sierra setengah mengantuk.
"Kamu kecapean. Aku gak berani."
Sierra melepaskan seat beltnya dan membuka pintu. Ia diikuti oleh Vino. Sierra berjalan dengan sempoyongan masuk kedalam rumah.
"Makasih untuk hari ini." Ucap Vino ketika Sierra masuk kedalam kamarnya.
"Makasih juga karena kamu udah bicara banyak." jawab Sierra sambil menutup pintu kamarnya.
...***...
Sierra keluar dari kamarnya. Hari ini ia memutuskan libur karena sore nanti ia akan berjalan-jalan dengan Mili. Hampir dua minggu sahabatnya itu berada di Indonesia dan besok ia akan kembali ke Paris.
Ia berdiri didepan meja makan dan melihat kantor Vino. Tidak terlihat sama sekali. Iapun melihat meja makan yang tadi ia siapkan pagi-pagi. Hanya tinggal piring gelas kosong. Iapun mulai membereskannya.
Ia memanggil Vini namun tidak ada jawaban. Perlahan ia mengangkat telepon itu dan menyimpannya ditelinga. Ia akan mengucapkan sesuatu tapi suara si penelpon membuatnya diam.
Tiba-tiba handphone itu ditarik paksa oleh Vino yang berada dibelakangnya. Ia menatap layar handphone sejenak. "Halo Sherly, nanti aku telepon." Ucapnya kesal.
Sierra merasa bingung. Telepon tadi membuat jantungnya hampir terhenti. Suara wanita itu membuatnya tidak bisa berfikir dengan jernih.
"Lancang sekali kamu menyentuh handphone aku!"Sahut Vino kesal.
"Kamu punya pacar?" Tanya Sierra dengan terbata-bata.
"Itu bukan urusan kamu! Jangan pernah mengurusi urusan pribadiku!" Ucapnya sengit.
Sierra terus menatap Vino. "Kenapa kamu menikah sama aku kalau kamu udah punya pacar?"
"Kamu tahu bukan kompensasinya!"
Sierra menggelengkan kepalanya. Ia menatap Vino kecewa. Ia tidak menyangka pria yang kini berhubungan baik dengannya mengatakan hal itu. Ia pula tidak percaya Vino membahas kembali tentang kompensasi itu. Ia membalikkan badannya dan berlari keluar.
Vino terdiam ditempatnya. Tidak seharusnya ia mengatakan itu. Ia membanting papan gambarnya dengan keras. Ia menggeram marah. Gara-gara pekerjaan, ia harus melampiaskannya pada Sierra. Lagipula untuk apa wanita itu menghubunginya lagi?
"Halo."
"Vino sayang, aku akan kembali." Ucap Sherly dengan nada senang.
"Maaf Sherly, aku udah menikah. Kamu terlambat. Jangan ganggu aku lagi. Aku bahagia sekarang." jawab Vino sambil menutup teleponnya.
Vino menatap jam tangannya. Ia menunggu Sierra di kantornya. Berdiri menghadap keluar dan tidak ada penampakan Sierra akan pulang. Padahal jam menunjukkan pukul 12 malam. Vino resah. Ia tidak pernah menghadapi wanita seperti Sierra. Ia tidak bisa menghubungi Sierra sejak tadi siang.
Iapun turun kebawah dan berdiri diluar. Terlihat sorot lampu mobil, Ia segera berjalan dan membuka gerbang. Mobil berwarna merah itu berhenti. Kaca supir terbuka. Kepala Milli keluar dari mobil.
"Hai Vin, aku antar istri kamu. Jaga dia baik-baik ya, mulai besok aku kembali ke Paris." sahut Milli. Sejak Sierra bercerita tentang Paris, ia jadi tahu siapa Milli dan bagaimana kehidupan mereka ketika di Paris.
Vino tersenyum. Ia melirik ketempat duduk disamping Milli. Sierra sedang menunduk dan tidak mau melihatnya. Itu membuat Vino sedikit kecewa."Tugasku."ucapnya.
Sierra keluar dari mobil dengan malas. Ia tidak mau melihat atau menatap Alvin. Ketika mobil Milli pergi, Sierra berjalan dengan cepat kedalam rumah. Ia melewati Vino begitu saja.
"Sierra." Panggil Vino.
"Jangan ngikutin aku!" Sahut Sierra tanpa menoleh padanya. Vino dengan mudahnya berjalan dan mendahuluinya. Ia kini berada didepan Sierra. Sierra berusaha menghindar namun dengan cepat Vino memeluknya.
"Aku minta maaf udah kasar. Sherly memang pacar aku. Tapi itu dulu. Sebelum kita menikah. Dan kami sudah berpisah." Ucap Vino tanpa melepaskan pelukannya.
“Lepasin aku! Kalo enggak, aku teriak!” seru Sierra marah.
“Gak akan sebelum kamu terima maaf aku.” ucap Vino.
"Ada apa ini?" Tanya Sandra yang tiba-tiba datang dengan suaminya tengah malam.
Vino langsung melepaskan pelukannya pada Sierra. Ia terkejut melihat kedua orangtuanya ada disana. "Mama?"