Love Actually

Love Actually
Tega



Setelah acara itu selesai, Alena memintanya untuk ikut dengannya ke sebuah acara yang iapun tidak tahu. Ia hanya diminta untuk tidak pulang terlebih dahulu dan menunggunya.


"Kamu gak kejauhan kerja disini? Gak cari apartemen aja?" Tanya Alena.


"Sempet kepikiran Tante, tapi belum bilang sama mama." Jawab Erika.


"Tempatin aja apartemen Tante. Gak jauh, tuh yang apartemen didepan itu."tunjuk Alena pada sebuah apartemen yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


Erika sempat tertarik, tapi ia merasa malu. "Enggak Tante, nanti ngerepotin. Emang rencananya Erika mau nyari tempat kost."


Alena menggelengkan kepalanya. "Enggak boleh. Pokoknya tempatin apartemen punya Tante. Daripada tempat itu kosong, tadinya Tante mau siapin apartemen itu buat Andi kalo dia punya istri nanti. Kamu kan calon menantu Tante, jadi lebih baik kamu tempatin sekarang." Goda Alena


"Ah Tante, gak gitu juga. Erika bukan calon menantu Tante. Kasian Andi kalo Tante jodoh-jodohkan terus sama Erika." Ucap Erika enggan.


"Jangan ngomong gitu, Tante yakin kok kalian bakal menikah nanti. " Ucap Alena.


Sebuah mobil datang dengan seorang supir didepannya.


"Kamu ikut tante pulang kerumah. Kita makan dirumah. Nanti malam biar Andi yang anter kamu pulang."


Erika tidak bisa menolak permintaan sahabat ibunya itu. Lagipula sudah lama ia tidak bertemu Andi. Iapun duduk di bangku belakang.


"Andi tiap malem keluar itu buat ketemu kamu?" Tanya Alena. Ia penasaran dengan kepergian Andi tiap malam. Apakah anaknya itu pergi dengan Erika atau wanita lain?


Erika terdiam. Andi memang berubah. Ia tidak terlalu sering menghubunginya sekarang. Tapi sejak Erika bekerja, ia tidak terlalu kesepian karena pekerjaannya membuatnya harus terus fokus. Apa mungkin Andi pergi bertemu Jane?


"Walaupun sekarang Andi sibuk dengan wanita lain. Yang pasti dia bakal menikah sama kamu." Ucap Alena serius. Baginya tidak ada yang jauh lebih baik dari Erika. Sejak ia berada di kandungan dan dibawa oleh Sandra dan Calvin ke Jepang, harapannya tidak pernah putus. Ia tahu Erika anak yang baik sekali.  Ia melirik pada Erika. Ia terlihat menunduk. Kedua tangannya saling berpegangan. Ia terlihat gugup. Ia akan berjuang sekuat tenaga agar Andi menyukai Erika. Sepertinya tidak ada orangtua yang seperti dirinya. Namun sejak melihat isi chat Andi dengan banyak perempuan, ia takut Andi salah memilih pasangan.


"Oh ya, nanti minggu bisa ikut tante ke acara bakti sosial?Agak jauh sih, tapi kamu gak akan capek. Ada supir yang bawa mobil." ucap Alena mengalihkan pembicaraan.


"Misi kemanusiaan yang waktu itu, Tante?"


"Iya. Dana sama bantuan-bantuan udah siap. Tante dan para dokter lain juga udah siap. Tadinya kita cuma sebatas dikota ini, tapi Tante memberanikan diri minta ijin sama om Dave buat pergi. Nah, kalo kamu ikut kan pasti diijinin. Biar nanti Tante yang minta ijin sama mama kamu."


Erika hanya mengangguk pelan. Lagipula minggu ini ia tidak ada pekerjaan dan acara. Lebih baik ia ikut pergi.


"Halo, Jane. Nanti malem aku jemput kamu!" Ucap Andi ketika ia berada di mobilnya dalam perjalanan menuju rumah. Masih ada cukup waktu.


"Iya, An. Aku baru nyampe rumah. Kamu jemput aku jam berapa?" Tanya Jane.


"Jam 8" Jawabnya cepat.


Mobil Andi melaju dengan kencang menuju rumahnya. Ia hanya akan bersiap selama tiga  jam sebelum menjemput Jane. Ini adalah kesekian kali  ia bertemu dengan Jane diluar urusan kantor. Malam ini saatnya. Semuanya menjadi nyata. Penantian selama dua tahun akan menjadi nyata.


Ketika sampai di gerbang rumahnya, ia melemparkan kunci mobil pada supir ibunya dan berjalan masuk. Ketika membuka pintu, ia mendengar suara ibunya sedang berbicara dengan seseorang. Ia yakin ibunya sedang menyiapkan makan malam. Sayangnya ia tidak bisa ikut makan dengan ibunya. Iapun menghampiri dapur dan langkahnya terhenti ketika melihat siapa yang membantu ibunya memasak.


Erika memakai celemek yang biasa dipakai ibunya. Ia terlihat sedang tertawa sambil bercanda dengan ibunya. Rambutnya yang panjang diikat setengahnya sehingga beberapa rambut yang tidak ikut terikat, membuat wajah cantiknya semakin terekspos. Andi menghela nafas. Erika memang gadis yang sangat menarik. Tapi mengapa tiba-tiba nafasnya sedikit sesak? Ia memegang dadanya tanpa sadar. Ada apa dengan hatinya? Kenapa tiba-tiba jantungnya berdebar dengan kencang?


"Andi? Kapan datang?" Tanya Alena ketika melihat Andi sedang berdiri dibelakang mereka.


Erika berbalik untuk melihat orang yang ada dibelakangnya.


"Aku baru dateng ma. Hey Jo! Lagi ngapain disini?" Tanya Andi sedikit gugup.


"Mama yang culik Erika buat kesini. Jangan ganggu tamu mama!" Ancam Alena.


Andi tertawa. "Tamunya mama ya?"


Erika hanya tersenyum sekilas dan kembali memasak. Ia kembali membelakangi Andi.


"Biasa aja."


Tiba-tiba Alena memotong. "Apartemen mama jangan kamu usik. Sementara mau dipake Erika. Kasian dia harus bolak balik jauh gitu."


"Emang dia kerja dimana?" Tanya Andi bingung.


"Bukannya setiap hari kamu jemput?" Tanya Alena


Andi menggelengkan kepalanya. Tempat kerja Erika saja ia tidak tahu, bagaimana bisa ia menjemput Erika setiap hari?


"Jadi selama ini kamu pergi kemana?"


Erika langsung menghentikan acara memasaknya. Ia menghampiri Alena dan memegang tangannya. "Udah Tante, makanannya udah siap. Kita bisa makan sekarang." Potong Erika.


Alena menatap tajam Andi. Apakah anaknya tidak tertarik sama sekali pada Erika?


Ketika mereka baru saja menghabiskan makan malam. Andi sudah tidak enak duduk. Ia terus melihat jam tangannya. Erika sesekali menatapnya.


“Andi, anter Erika pulang.” ucap Alena tegas.


“Gak usah tante, Erika bisa pulang sendiri.” seru Erika cepat.


“No. Udah malem. Kamu harus pulang dianter Andi.” ucap Alena.


“Gak apa-apa Jo! Aku anter pulang. Sekalian ada yang mau aku omongin sama kamu.9” ucap Andi.


Alena menatap keduanya dan tersenyum. Ia melihat Erika yang terlihat begitu malu-malu. Apakah pikirannya tadi sempat salah pada Andi? Entahlah, ia akan menunggu kabar baik itu malam ini.


Andi melihat jam tangannya terus ketika ia dan Erika sudah berada di mobil.


“Kamu mau ngomong apa, Prince?”


Andi menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Masih ada waktu lima belas menit sebelum ia menjemput Jane. Ia berdeham. “Sebenernya ada yang mau aku omongin sama kamu."


"Tentang apa?"


"Tentang aku. Tapi Jo, jujur malam ini aku gak bisa anter kamu pulang. Ada sesuatu yang lebih penting dari anterin kamu sekarang. Aku harap kamu ngerti.” jawabnya cepat.


Erika mengangguk sambil tersenyum kaku. “Aku ngerti. Kalo gitu aku turun disini aja.” ucapnya sambil membuka pintu mobil.


“Bentar Jo, kamu gak nanya apa yang lebih penting malam ini? Kamu kan sahabat aku, aku mau kamu yang pertama tau.” ucap Andi bersemangat.


Erika duduk kembali disamping Andi. Perasaannya tidak menentu. Antara ingin menangis dan berteriak saat ini juga. Ia tidak tahu perasaan ini. Tidak pernah terjadi sebelumnya. Ia belum mendengarkan saja, jantungnya sudah berdebar dengan kencang. Mendengar Andi mengatakan hal itu, ia yakin sekali jika ini adalah kabar kurang baik untuknya.


“Apa?” tanya Erika pelan.


“Aku cinta sama Jane. Mungkin udah dua tahun lebih. Awalnya aku gak yakin. Tapi, aku serius sekarang. Menurut kamu, Jane itu anaknya gimana? Waktu dia jadi manajer tim dulu, dia gak neko-neko. Aku suka” jawab Andi sambil tersenyum.


Erika menatap wajah Andi. Ia tidak pernah melihat wajahnya yang sangat ceria seperti itu. Ia ingin berkata sesuatu tapi sulit.


“Kamu gak ngucapin sesuatu buat aku?” tanya Andi.


“Ya, mudah-mudahan kalian cepet pacaran.” jawab Erika sambil tersenyum kaku.


Andi langsung memeluk Erika. “Thank you ya Jo, doain aku malam ini.”


“Pasti.” jawab Erika pelan.