Love Actually

Love Actually
Rumah Sakit Brussel



Andi menatap ibunya yang tidak tidur semalaman ketika berada didalam pesawat jet tadi. Wajahnya terlihat pucat. Ketika tadi ia menghubungi pihak kedutaan yang mendampingi ayahnya, ia masih belum mendapatkan perkembangan tentang ayahnya. Saat ini ayahnya masih kritis. Ia memegang tangan ibunya dengan erat.


Alena menatap Andi dengan wajah sendu. Ia tidak kuasa menahan tangis ketika melihat Andi. Ia langsung memeluk Andi sambil menangis.


"Gimana kalo papa kamu gak bertahan?" Isak Alena.


"Papa pria kuat ma. Papa pasti bertahan." ucap Andi sambil membalas pelukan ibunya.


Mobil charter yang ia pesan melalui Viar, berguna dengan sangat baik. Supir yang dipesannya tahu jalan dan ramah. Mereka merasa nyaman. Ia pun menatap keluar tanpa melepaskan pelukannya pada ibunya. Ia bisa melihat rumah sakit dengan bangunan kuno itu tak jauh dari mobil yang mereka naiki.


Sesampainya dirumah sakit, ia memegang bahu ibunya dan membantunya berjalan. Didepan pintu, pihak kedutaan telah menunggunya. Ia mengantar mereka langsung menuju ruang ICU. Didepan ruang ICU, ia melihat Omnya sedang duduk dengan wajah menunduk. Ia melihat Tante Clara berlari menuju suaminya.


Om Edward yang dikenalnya sebagai pria hebat tampak tak berdaya melihat ayahnya terkapar kritis didalam. Di wajahnya masih terlihat luka lebam dan memar akibat benturan. Tapi beruntung ia masih selamat. Ia melihat ibunya sedang mengganti pakaiannya dengan pakaian steril agar bisa masuk kedalam. Ia masuk kedalam dengan Om Calvin.


"Om.." panggilnya.


Edward menoleh pada Andi dan berdiri.


"Udah Om duduk aja." ucap Andi.


Edward kembali duduk. "Maafin Om, Andi. Padahal waktu itu harusnya kita pake supir. Cuma Om bilang sama papa kamu, kita mau jalan-jalan sebentar. Jadi Om minta papa kamu yang nyetir." ucap Edward dengan nada penyesalan.


"Ya, mending kamu masuk kedalam. Om yakin mama kamu pasti lagi nangis sekarang." ucap Edward.


Andi melepaskan jaketnya dan menyimpannya disamping Tante Clara. Ia pun berjalan dengan lemas untuk mengganti pakaiannya. Jujur, ia seakan tidak sanggup melihat ayahnya terbaring tak berdaya. Ini adalah pertama kalinya ia dan keluarganya mendapatkan musibah seperti ini.


Setelah memakai pakaian steril, ia berjalan kedalam ruang ICU. Pintu kamar sudah terbuka karena ibu dan Om Calvin sudah didalam. Dari luar ia bisa mendengar ibunya menangis. Iapun berhenti sejenak dan menunduk. Ia menarik nafas panjang dan berjalan kedalam. Didepan pintu ia kembali terdiam. Ayahnya.. tertidur di ranjang dengan beberapa kabel terpasang ditubuhnya. Kedua kakinya pun diperban. Hatinya terasa sakit melihatnya.


"Pah..." bisiknya dengan bibir bergetar.


Iapun berjalan pelan. Calvin berbalik dan memegang bahunya. Ia menatap sahabat ayahnya sambil tersenyum hambar.


"Om keluar dulu. Kamu sama mama kamu tetep disini." bisik Calvin.


"Iya Om." jawab Andi pelan. Iapun menghampiri ibunya dan memegang bahunya. Ia mengelus untuk menenangkannya.


"Sayang, aku udah dateng. Kamu harus sadar. Aku bisa rawat kamu. Aku ini dokter. Waktu kamu dulu tabrakan parah juga aku yang bisa sembuhin kamu. Kamu bangun sayang. Aku gak mau kamu kenapa-kenapa? Aku gak mau kamu tinggalin! Aku belum siap! Tolong bertahan demi aku. Demi Andi. Masih banyak yang harus kita lakukan." Isak Alena. Hanya itu yang ia katakan sejak pertama kali melihat suaminya terbaring.


Andi yang melihat itu tak kuasa untuk melepaskan tangan dan membalikkan badannya. Ia menunduk lama dan menghapus airmata yang mulai jatuh di pipinya.