
Mobil Andi meluncur menuju tempat yang iapun tidak tahu. Ibunya tadi menyuruhnya menjemput tanpa tahu kemana gadis cantik disebelahnya akan dibawa. Tapi itu bagus. Ia bisa membawa gadis ini berkeliling dulu. Sedangkan Erika melirik pria disampingnya sambil mengerutkan keningnya.
Selama ia berada di Jepang, ia tidak pernah menemukan seperti pria disampingnya. Tidak ada satupun teman laki-lakinya seperti itu. Tidak dapat dipungkiri pesona pria ini memang membuat wanita manapun luluh.
Termasuk dirinya? Tidak..itu tidak mungkin. Pria disampingnya bukan tipe laki-laki yang menjadi kriterianya. Ia terlalu berisik dan terlalu tampan. Jika ia menjadi kekasih pria ini, Ia yakin setiap hari harus menahan cobaan karena mungkin saja banyak wanita cantik di sekelilingnya, pikirnya.
Ketika melihatnya di bandara tadi ia sempat terkejut ketika melihat pria ini yang menjemputnya. Terakhir kalinya ia bertemu dengan pria ini adalah ketika mereka pergi ke acara Tante Clara. Ia ingat bagaimana pada saat itu pria ini mencari perhatian kedua orangtuanya. Ia terlalu blak-blakan.
"Kenapa? Aku cakep ya? Tanpa kamu sadari kamu terpesona sama pria disamping kamu ini. Otak kamu berfikir lebih cepat daripada hati kamu. Hati kamu boleh menolak tapi otak kamu enggak." Ucap Andi sambil membuka kacamata hitamnya. ia melirik Erika sambil mengedipkan matanya.
Erika memojokkan tubuhnya ke samping jendela. Ia menutup wajahnya. "Enak aja!" Serunya.
"Emang enak kok ngeliatin cowok cakep kayak aku. Ngaku aja, daritadi kamu liatin aku. Aku tau kok." Goda Andi.
"Enggak! Jangan suka aneh-aneh deh. Kenapa juga mama nyuruh kamu yang jemput aku!" Jawab Erika kesal.
Andi tertawa selagi Erika mengeluarkan handphonenya. Ia menelpon seseorang.
"Angkat dong ma.." bisik Erika.
"Enggak akan diangkat. Tante Sandra udah serahin semuanya sama aku. Aku yang bertanggungjawab sama keselamatan kamu." Ucap Andi berbohong.
"Justru sama kamu aku khawatir sama keselamatan aku." Jawab Erika pedas.
Andi tidak menjawabnya. Ia tertawa sejenak dan menghentikan mobilnya. Ia menatap Erika. "Emang wajah aku keliatan kayak penculik?"
"Iya.."
"Oke, kalo gitu aku culik kamu sekarang!" Jawab Andi cepat. Ia membalikkan mobilnya dengan cepat. Erika memegang seatbeltnya dengan kencang. Ia menjerit ketakutan.
"Aku jerit nih! Kamu mau bawa aku kemana?" Teriak Erika.
"Jerit aja. Gak akan ada yang denger juga." Ucap Andi puas.
Erika cemberut ketika ia tidak tahu dibawa kemana. Hari sudah menjelang gelap. Ia sudah lelah karena perjalanan jauh. Tapi pria disampingnya malah membawanya ke sebuah tempat yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Tidak ada tulisan yang menunjukkan gedung apa itu. Ini adalah penculikan. Kedua orangtuanya harus tahu.
Pria disampingnya masih terdiam. Siapa nama pria ini? Ia juga sudah lupa.
Mobilpun berhenti di sebuah parkiran. Ada beberapa mobil dan motor yang terparkir. Erika melihat ke kiri dan ke kanan. Ia benar-benar tidak tahu tempat ini.
Andi tersenyum nyinyir. Ia harus memberikan pelajaran sedikit untuk mulutnya yang pedas. "Turun!" Ucapnya ketus.
Erika menatap pria itu. Ia melihat pria itu membuka pintu mobil dan membantingnya dengan kencang. Iapun mengikuti pria itu dan berdiri disampingnya. Ketika keluar mobil tadi, ia merasa udaranya sangat panas. Iapun membuka cardigan yang membuat dirinya hangat selama diperjalanan tadi.
Andi meliriknya. "Udah sampe sini aku nganter kamu. Kamu bisa pulang sendiri. Kamu takut kan sama keselamatan kamu? Aku juga masih ada urusan." Ucapnya sambil berjalan.
"loh, gak bisa dong. Kamu disuruh mama buat anter aku pulang. Kenapa malah sampai sini aku disuruh pulang sendiri? Dimana tanggung jawab kamu?" Tanya Erika marah. Ia berlari mengikuti pria itu.
"Andi!" Panggil seorang wanita. Mereka berdua menoleh ke arah suara. Wanita cantik itu sedang menatap mereka sambil tersenyum. Ia terlihat baik. Rambutnya terurai panjang. Ia sangat cantik. Senyumnya sangat menarik. Nama wanita itu Jane. Ia adalah mantan manager tim basket di kampusnya.
"Jane. Kamu dateng juga?" Tanya Andi bingung.
Jane menghampiri mereka. "Tadi Rico undang aku. Kebetulan aku lagi gak ada acara. Jadi aku bisa kesini." Jawabnya lembut.
Erika memangku tangannya. Apakah ia ada disini untuk melihat mereka pacaran? Ia menunduk dan kesal.
"Ini siapa? Pacar kamu?" Tanya Jane ketika ia melihat Erika
Andi tertawa. "Kamu tau kan tipe aku bukan kayak gini. Jangan asal kalo ngomong."
"Ini kan tipe kamu. Aku masih inget kok." protes Jane.
Andi menggelengkan kepalanya. Managernya masih tahu bagaimana tipe wanita yang bisa menjadi kekasihnya. Iapun berjalan masuk kedalam Gor.
Erika mengerutkan keningnya. Kenapa pria itu masuk kedalam? Lalu bagaimana ia bisa pulang?
"eh, Andi! Tunggu. Tanggung jawab dulu anter aku pulang!" Seru Erika.
"Lebih baik kamu disini dulu aja. Kita nonton mereka main basket." Ucap Jane.
"Basket?" Tanya Erika bingung.
"Iya. Nanti kita anterin kamu pulang kalo Andi gak mau nganter kamu."Jawab Jane sambil menarik lengan Erika untuk masuk kedalam.
Andi mengeluarkan handphonenya ketika ia berada di ruang ganti pemain. Bagaimanapun ia harus menghubungi seseorang karena telah menculik anaknya.
"Halo.."
"Halo, Om Calvin. Ini Andi."
"Ya, gimana? Kamu udah anter Erika pulang?"
"Justru itu om. Andi bawa dulu Erika ke tempat main basket. Setelah itu nanti Andi anter pulang."
"Tapi Erika gak apa-apa? Dia emang harus banyak gaul sama kamu. Disini dia gak punya temen."
"Dia seneng kok om. Pokoknya nanti malem Andi anter pulang tanpa kurang satu apapun."
"Oke, om percaya sama kamu."
Andi tersenyum puas. Ia langsung menghubungi Om Calvin. Yang ia tahu, biasanya anak perempuan lebih dekat dengan ayahnya. Kalau Om Calvin saja bisa percaya padanya, ia yakin Tante Sandrapun akan percaya,pikirnya.