
“Jadi kalian mau menikah? Ada kejadian apa yang bikin kamu langsung memutuskan sesuatu yang begitu besar?” tanya Viar ketika ia menghubungi Andi
“Kamu tau dari siapa?” tanya Andi ketika ia memakai pakaiannya. Ia baru saja mandi untuk menemui Ojo siang ini.
“Kamu pasti tau siapa yang deket sama calon istri kamu.” jawab Viar. “Jadi sebenernya kalian itu udah kenal dari lima tahun yang lalu, tapi kalian pisah?”tanya Viar lagi.
“Intinya sih gitu. Lama kelamaan juga kalian bakal tau story kita berdua. Kamu seneng kan kalo aku akhirnya melepaskan status jomblo bahagia? Aku gak bisa bayangin wajah istri kamu. Dia pasti kaget.”
“Waktu pertama tau, dia antusias karena ia pikir perjodohannya berhasil. Dia seneng karena sahabatnya nanti nyusul dia kesini. Jadi sebenernya lebih dari kaget. Trus kalian mau tinggal dimana nanti?”
“Penthouse aku mau dikemanain? Sebenernya aku belum berfikir sampai dimana kita harus tinggal. Kita bisa liat nanti” jawab Andi. “Ngomong-ngomong, kamu udah meeting?”
“Udah. Aku pikir kamu harus pulang dulu kesini. Mereka cuma mau ketemu kamu, An.” jawab Viar.
“Gak akan lama kok. Aku tutup dulu teleponnya. Hari ini aku ada foto prewedd.” ucap Andi.
Setelah berbicara dengan Viar, Andi keluar dari kamarnya. Ia akan pergi ke rumah Ojo untuk menjemputnya. Mereka akan melakukan foto-foto prewedd disalah satu hotel. Ketika turun, ia melihat ibunya tidak pergi ke kantor siang ini. Ia tampak sibuk dengan orang-orang wedding organizer yang diundang oleh ibunya. Apapun sudah terjadi. Ia hanya mengikuti perintah ibunya. Ia sempat mengatakan pada ibunya agar pernikahan dilangsungkan dengan cepat. Tapi ia tidak menyangka dalam seminggu ini ibunya sudah merancang semuanya. Iapun menghampiri mereka.
“Prince. Ini liat gaun yang bisa dicoba sama Ojo. Bagus kan?” tanya Alena.
Andi menengok sekilas. “Asalkan menurut mama bagus, buat aku bagus juga. Tapi mama harus tanya Ojo. Dia mau gak pake baju gitu..”
“Ojo udah liat kemarin. Dia udah coba sepuluh stel gaun. Tapi ini yang baru lagi.” jawab Alena sambil tertawa.
“Pantes semalem waktu aku telepon, Ojo bilang kakinya pegel.”
“Mama cuma ngikutin kemauan kamu buat melangsungkan pernikahan secepatnya. Jadi jangan salahin mama.”
“Ya, tapi kasian Ojo ma..”
“Mama tau.Tapi dianya mau kok. Oh ya, kenalin dulu. Ini WO yang fix urusin pernikahan kamu. Namanya Daniel. Dia ini udah ahli banget. Mama dan Tante Sandra baru bilang satu kalimat aja, dia udah ngerti. Gaun ini juga buatan salah satu timnya Daniel. Cuma sekarang lagi liburan ke Tokyo.”
Andi menatap pria yang terlihat sedikit kewanita-wanitaan itu. Ia mengulurkan tangannya. “Andi.”
“Daniel.”
“Kamu udah tau kan maunya aku pernikahan seperti apa?”
“Simply and Romantic.” jawab Daniel.
“Ya, harus perfect. “
“Ya, ngerti.” jawab pria itu.
“Aku gak perlu banyak tamu. Kalo bisa aku cuma mau pernikahan kami cuma didatangi keluarga.”
Pria itu mengangguk.
“Kalian mau pergi sekarang? Dirumah kamu ada dari wo ya? Tante mau kesana juga.”
Andi mengangguk. Iapun turun dari mobil dan menghampiri calon mertuanya itu. “Ojo lagi apa Tante?”
“Dia belum keluar dari kamar. Coba kamu cek sendiri. Tante pergi dulu ke rumah kamu.” ucap Sandra cepat. Ia langsung berjalan cepat agar segera sampai ke rumah Alena.
Andipun masuk kedalam rumah tanpa mengetuk pintu. Ia sudah diijinkan oleh calom mertuanya untuk masuk kedalam rumahnya. Ia lihat ada satu pembantu yang sedang membereskan meja makan.
“Psst! Bi..” panggil Andi pelan.
Wanita itu menoleh. “Iya. Kenapa?”
“Kamarnya Ojo dimana?” tanya Andi
“Naik tangga sebelah kanan.” jawab wanita itu.
Andi hanya mengangkat jempolnya dan berjalan menaiki tangga. Ia membuka pintu pelan. Ia melihat Ojo masih tertidur. Ia melihat jamnya. Sudah pukul 11 siang. Iapun menghampiri Ojo dan duduk disamping ranjang. Ia cukup berbisik untuk membuat wanita itu bangun.
“Jo, bangun. Kita harus ketemu fotografer.” bisik Andi.
“Hmmm..” jawab Erika. Ia masih menutup matanya.
“Jo, bangun. Kalo gak bangun, aku cium kamu.” ucap Andi.
Kedua mata Erika langsung terbuka. Matanya merah karena ia masih mengantuk. Iapun mengeluarkan laptop yang tertindih olehnya.
Andi mengerutkan keningnya. “Udah ngapain kamu semalem?”
“Aku baru tidur, Prince. Semalem aku baru update blog. Aku ngasih pengumuman sama mereka mau hiatus sementara.” jawab Erika dengan mata tertutup.
“Kasian. Kalau bisa pekerjaan kamu sedikit dibatasi. Kita mau menikah. Pasti banyak tenaga yang dikeluarkan buat persiapan.” ucap Andi sambil menyentuh pipi Erika.
“Ya, kemarin juga Tante Alena ngajak aku. Kaki aku masih pegel. Ijinin aku buat istirahat sebentar lagi.” ucap Erika.
“Setengah jam lagi. Setelah itu kamu gak boleh tidur lagi.” bisik Andi. Iapun berjalan keluar. Lebih baik ia menunggu di ruang keluarga sampai Ojo bangun dan bersiap-siap. Ia yakin Ojo tidak akan lupa kemana mereka akan pergi hari ini.
Dan benar saja, setengah jam kemudian Erika keluar dari kamarnya dengan make up sedikit tebal daripada biasanya. Ia tidak mau membuat Andi menunggu terlalu lama. Dengan panduan Davi, ia bisa berdandan lebih cantik daripada biasanya. Seseorang bisa melakukan sesuatu karena terpaksa. Itulah yang dialami Erika siang ini. Ia dan Andi akan melakukan pemotretan foto pre wedding disalah satu hotel. Dan ia sudah tidak memilik waktu untuk pergi ke salon. Didalam tas yang ia bawa, ia sudah menyiapkan pakaian yang akan dipakai mereka nanti. Tidak sebanyak gaun yang ia coba kemarin.
“Persiapan kilat, trus kenapa kita harus foto-foto segala?” tanya Erika ketika mereka berada didalam mobil.
“Buat meyakinkan kalau keputusan aku menikahi kamu gak salah.”
“Gombal!” seru Erika sambil mendorong lengan Andi.
Andi hanya tertawa. Jiwa playboy nya masih belum hilang dalam dirinya. Tapi jika menyangkut pasangan, ia adalah orang yang menomorsatukan kesetiaan. Apapun yang terjadi. Demi Ojo, ia sanggup setia.