Love Actually

Love Actually
Keraguan Ojo



Alena membuka matanya perlahan dan melihat semua orang sedang menatapnya dengan wajah cemas. Ia bangun dan melihat sekeliling. Ia masih berada dibelakang rumahnya. Meja dan makanan masih tersedia. Ia bingung. Ada apa? Kenapa ia seperti baru sadar? Oh ia ingat sekarang. Tadi Andi datang dengan membawa Erika kerumahnya. Dan ia mengatakan jika Andi ingin menikahi Erika. Apakah itu nyata? Andi tidak berbohong?


Alena tidak pernah membayangkan hal paling membahagiakan dalam hidupnya akan terjadi pada hari ini. Pantas semalam ia bermimpi indah. Ternyata anaknya memberikan surprise yang tidak diduga.


Ketika ia melihat sekitar, Andi tidak terlihat. Ia menatap suaminya. “Dimana Andi?” tanya Alena panik. Apakah ia sudah mengacaukan acara hari ini dengan pingsan tepat setelah anaknya mengumumkan pernikahan?


“Ada. Andi lagi anter dokter keluar. Kamu kenapa? Terlalu seneng?” goda Dave.


Alena langsung menggenggam lengan Dave dan menyandarkan kepalanya dipundak Dave “Aku malu-maluin sampe pingsan segala. Aku terlalu seneng Dave. Mimpiku jadi kenyataan.”


Dave tersenyum dan memeluk Alena. “Aku pikir kamu gak setuju. Aku kaget waktu kamu pingsan tadi. Kamu gak pernah seperti itu sebelumnya."


“Mana mungkin!” seru Alena.


Baik Clara maupun suaminya hanya menggelengkan kepalanya sambil tertawa. Mereka pun mulai menjauh dan mendekati makanan yang disediakan. Acara itu baru dimulai sejak Alena sudah sadar dari siumannya.


Tiba-tiba Erika mendekatinya. Ia duduk disamping Dave. “Tante, tante gak apa-apa? Tadi sempet dicek sama dokter, darah tante rendah makanya pingsan. Tante juga kecapean.”


Alena melepaskan genggamannya dari lengan Dave dan mendorongnya untuk menjauh. Ia menarik lengan Erika. “Sini..”


Erika duduk disampingnya. “Kenapa tante?”


“Maafin tante. Tante terlalu seneng.” ucap Alena


“Gak apa-apa tante. Tante mungkin shock denger berita hari ini. Terlalu cepet ya? Aku juga pikir gitu.” jawab Erika merasa tidak enak.


“Enggak. Lebih cepat lebih baik. Itu yang Andi bilang. Cuma Tante gak nyangka Andi bakal ngomong gitu. Dia sebelumnya gak pernah bilang deket sama kamu” ucap Alena.


"Semuanya tiba-tiba Tante. Kita emang gak deket. Kita juga baru ketemu dua hari yang lalu." jawab Erika.


"Namanya juga jodoh ma. Yang penting kalian setuju. Itu udah cukup." ucap Andi yang kini berada di belakang Erika.


Setelah semuanya berakhir, hanya Andi dan Erika yang pulang terakhir karena mereka harus bertanggungjawab membereskan sisa makanan yang ada di meja. Setelah itu mereka berjalan untuk sampai kerumahnya. Mereka memutuskan untuk berjalan kaki saja karena jarak rumah mereka tidak terlalu jauh.


“Aku pikir Tante Alena gak setuju.” ucap Erika.


Andi tertawa. “Aku bilang apa tadi. Mama gak mungkin gak setuju karena sejak dulu kamu itu udah jadi calon menantu idamannya.”


"Menantu idaman?"


Andi tertawa. "Waktu kita berdua baru lahir emang mama udah jodohin kita. Makanya nama kita aneh. Nama aku Prince, nama kamu Ojo. Kamu sadar gak?" tanya nya.


"Kata mama, nama aku dikasih sama suster karena waktu itu ada dua nama yang sama."


"Iya, tapi Ojo itu artinya putri. Mama-mama kita kreatif memang bikin nama kita." jawab Andi sambil tertawa.


Ketika sudah berada didepan rumahnya, Erika melepaskan tangannya. Ia menatap Andi.


“Pertanyaan itu udah dua kali kamu tanyain sama aku. Aku bener-bener mau cium kamu sekarang kalo kamu nanya hal itu lagi.” jawab Andi.


Erika langsung mundur. “Aku takut kamu melamar aku cuma mimpi. Kita baru ketemu lagi dua hari lalu di nikahan Davi. Tapi kamu langsung lamar aku. Kamu kan gak tau aku ini kayak gimana? Kok bisa langsung memutuskan sesuatu yang besar. Ini demi masa depan kamu. Gimana kalo kamu nyesel milih aku?"


Andi memegang kedua bahu Erika. "Ojo.. denger. Ini emang keputusan aku yang udah aku pikir matang-matang. Aku menikahi kamu karena aku pikir usia kita udah cukup matang. Kita berdua gak perlu lagi cari pendamping. Pekerjaan aku bagus. Kamu gak akan kelaparan selama hidup sama aku. Aku membebaskan kamu bekerja asal aku gak mau liat kamu kecapean. Aku gak akan menyesal. Aku yakin."


Erika mengangguk. "Kalo gitu aku punya persyaratan sama kamu."


"Apa?"


"Buang mantan pada tempatnya. Aku gak mau hubungan kita dirusak hanya karena mantan-mantan kamu yang banyak itu. Aku mau ancam kamu soal mantan itu." ucap Erika.


“Oke. Aku setuju. Gampang. Aku udah gak pernah komunikasi sama mereka. Jadi sekali lagi aku nanya pertanyaan yang sama. Will you marry me?” tanya Andi sambil memegang kembali tangan Erika. Ia masih senang menggodanya


Erika tersenyum. “Yes, I do.” jawabnya.


“Apa perlu aku buktiin kalo ini bukan mimpi?” tanya Andi.


Erika mengerutkan keningnya. Andi langsung mengangkat tangan Erika dan menciumnya. “Aku serius.” ucapnya. Ia langsung memeluk Erika erat. “Aku juga pikir ini mimpi. Tapi setelah meluk kamu, aku yakin ini bukan mimpi. Sekian lama kita berpisah, tapi akhirnya kita malah kembali. Kita udah dewasa Jo. Kita udah tau mana yang terbaik. Menikahi kamu, aku yakin ini yang terbaik.”


Tiba-tiba pintu terbuka kencang.


“Kalo kalian mau mesra-mesra disini, lebih baik masuk kamar. Gak baik angin malam mesra-mesraan diluar. Nanti justru kalian sakit.” ucap Vino.


Andi melepaskan pelukannya dan tersenyum melihat Vino. “Hai Vin. Nanti-nanti kita harus banyak ngobrol.” ucapnya.


“Ya, harus.. ” jawab Vino sambil menutup pintu.


“Bye.. sampe jumpa besok.” ucap Erika sambil mendorong Andi sampai keluar gerbang pintu rumahnya. Andipun melambaikan tangannya pada Erika dan kembali pulang.


Erika masuk kedalam rumah dan dihadang oleh kedua orangtuanya didepan pintu.


"Jo, apa bener surprise malam ini?" tanya Sandra.


Erika duduk di sofa. "Menurut mama gimana?"


"Andi itu anak baik. Dia bertanggungjawab kok." ucap Calvin tiba-tiba. Ia mengingat bagaimana anak itu bekerja keras untuk mendapatkan pengakuan keluarga. Ia juga ingat bagaimana anak itu pernah terpuruk tapi ia bisa bangkit dengan cepat.


"Aku kepikiran Tante Alena, ma. Mungkin shock tapi kayaknya mama harus banyak ngobrol lagi."


"Emang kamu pikir Tante Alena sekarang diem aja? Kamu salah Jo. Barusan mama telepon, sekarang Tante Alena lagi nyari WO. Katanya takut kamu berubah pikiran." jelas Sandra


"Hah??"