Love Actually

Love Actually
Makan Malam Romantis



Bumi mengetuk pintu apartemen Erika sepulangnya ia dari lokasi syuting. Syuting terakhir hari ini sedikit menyiksa waktunya. Sedangkan ia ingin bertemu dengan Erika segera. Ia berdiri didepan pintu dengan masih belum mengganti pakaiannya karena ingin cepat-cepat sampai ke apartemen. Ketika pintu terbuka, ia melihat Erika sudah memakai pakaian tidurnya. Padahal malam belum larut. Iapun mendorong punggungnya untuk masuk kedalam kamar.


“Cepet ganti baju. Aku mau ngajak kamu makan diluar.” ucapnya sambil menutup pintu kamar Erika. Iapun duduk di sofa yang ada diluar kamar.


“Emang kita mau kemana?’ teriak Erika dari dalam kamar.


“Pokoknya tempatnya bagus. Aku baru dari sana tadi pagi buat syuting. Aku gak tahan buat ngajak kamu kesana.”


Erika sebenarnya sedang malas kemanapun karena pekerjaannya hari ini terlalu banyak. Tapi melihat Bumi datang untuk membawanya pergi keluar, setidaknya ia harus menghargai niat baiknya. Beberapa hari terakhir situasi antara ia dengan Bumi tidak baik. Ajakannya Bumi kali ini mungkin untuk mengembalikan permasalahan mereka yang terjadi beberapa hari yang lalu. Setelah siap, iapun keluar dari kamar.


Ia melihat Bumi duduk dengan mata terpejam. Sedikit kasihan untuk membangunkannya. Iapun duduk disamping Bumi dan memegang lengannya.


“Bumi..” panggil Erika.


Bumi membuka matanya dan menoleh. Ia tersenyum. “Kamu udah siap?” tanyanya. Matanya terlihat masih merah. Dan ada sedikit rambut halus di sekitar pipinya. Beberapa hari syuting diluar, sampai-sampai ia tidak membersihkan wajah yang biasanya terlihat mulus itu.


“Mending kamu istirahat aja. Kita gak usah pergi. Aku kasian liat kamu.” jawab Erika.


“Enggak sayang, kita pergi sekarang. Manajer aku udah nunggu dimobil.” ucap Bumi sambil bangun daru duduknya.


“Manajer?” tanya Erika terkejut. Ia belum pernah sekalipun bertemu dengan manajer Bumi. Sejak ia menjalin hubungan dengan Bumi, ia dilarang untuk masuk kedalam privasi pekerjaan kekasihnya itu. Ia beralasan karena pekerjaannya menjadi artis sedikit merepotkan. Ia tidak mau privasi seorang Erika Ojo terekspos dengan bebas di media. Media itu jahat. Itulah kata-kata yang terngiang di kepalanya ketika Bumi mengatakannya. Apakah kali ini pikirannya berubah?


“Aku belum kenal sama manajer kamu.” ucap Erika lagi


“Hari ini aku kenalin.” jawab Bumi. Ia memegang tangan Erika dan berjalan keluar dari apartemen. Skandal masa lalunya tidak akan membuat ia mengorbankan Erika. Ia mencintai Erika dengan tulus. Hari ini ia membawa Erika karena ia membutuhkan sosok Erika untuk ada disampingnya. Ia ingin memberinya kejutan malam ini


Mereka berjalan menuju basement gedung. Sebuah mobil alphard berwarna putih sudah siap didepan mereka. Erika menoleh pada Bumi. Ia tidak pernah membayangkan dirinya akan menjalin kasih dengan seorang aktor. Seorang pria yang berusia tak jauh dari usia Bumi menghampiri mereka. Pria itu menatap Erika dari atas ke bawah. Dan ia terlihat tidak sopan.


“Bro, kita harus cepet?” ucap pria yang biasa disebut Robby itu sedikit ketus. Ia membalikkan badannya dan berjalan menuju mobil.


“By, kamu harus inget. Yang gaji kamu itu aku, bukan manajemen! Jadi jangan seenaknya.” Seru Bumi kesal.


Erika langsung menarik lengan Bumi dan menggelengkan kepalanya.


“It’s Oke..” jawab Erika.


Mereka berduapun menaiki mobil. Dan sepanjang perjalanan pula, Bumi terus memegang tangan Erika.


“Udah nyampe. “ ucap Robby pelan.


Bumi dan Erika menatap keluar.


“Ini dimana?” tanya Erika.


“Restoran tempat aku syuting beberapa jam yang lalu. Aku gak tahan pengen ngajak kamu kesini.” jawab Bumi.


Bumi keluar dari mobil terlebih dahulu dan membantu Erika untuk turun. Mereka berduapun masuk kedalam sebuah restoran yang dapat memperlihatkan pemandangan alam di malam hari. Didepan restoran, mereka sudah disambut oleh seorang wanita berpakaian desa untuk membawa mereka ke tempat tujuan.


Mereka menaiki tangga. Terlihat tulisan “BEST VIEW” disalah satu dinding. Erika menoleh pada Bumi. Tapi pria itu tidak mengatakan apapun. Ketika sampai dipuncak tangga, Erika hanya bisa melongo menatap pemandangan seindah itu. Bahkan pemandangan dari rumahnya pun masih kalah bagus dengan pemandangan kali ini. Kemudian meja mereka sudah dihias dengan beberapa bunga mawar putih kesukaan Erika.


“Kamu ngapain ngajak aku kesini?” tanya Erika bingung. Tapi ia tidak bisa menutupi rasa bahagianya.


Bumi tersenyum. Ia membiarkan Erika duduk terlebih dahulu. Kemudian ia duduk disampingnya. “Aku mau ngasih kamu kejutan dengan datang ke tempat ini. Waktu aku syuting tadi, aku punya banyak rencana di dalam kepala ini.”


Erika mengerutkan keningnya. “Rencana apa?”


“Nanti aku ceritain pelan-pelan.” jawab Bumi. Ketika seorang waitress datang, Bumi mulai memesan makanan. Sedangkan Erika berdiri untuk mengambil foto-foto pemandangan disekitar restoran.


“Tempat ini bagus, Bumi.. Aku suka. Makasih karena ngajak aku.” ucap Erika dan kembali duduk di kursi.


“Kebahagiaan kamu adalah obsesi aku.” jawab Bumi yang membuat pipi Erika merona karena malu. Tangan Bumi terangkat untuk menyentuh pipi Erika. “Aku cinta kamu, Erika Ojo. Aku mau hidup sama kamu. Mulai sekarang, mari kita mulai serius.”


Erika menatap Bumi dengan mata membesar. Ia tidak tahu perasaan apa yang ia rasakan saat ini. Tapi yang ia tahu hanyalah senyuman Bumi di matanya terlihat tulus.