
“Om..” panggil Andi ketika melihat Calvin ada di ruang tamu. Di tangannya masih dipegang handphone miliknya.
Calvin menolah. Ia tersenyum. “Kamu udah ditungguin di kamar papa kamu.”
“Iya Om. AKu udah siap sama Viar.” jawab Andi bersemangat.
Calvin hanya tersenyum dan membawa keduanya keruangan tempat kedua temannya berada. Ia berfikir jika Dave sudah membukanya beberapa menit yang lalu ketika ia mendapatkan telepon. Iapun mengetuk pintu. Ketika pintu terbuka, ia membiarkan Andi dan Viar masuk terlebih dahulu. Ia bukanlah salah satu pemegang saham maupun pegawai di acara ini. Ia hanya membantu Andi dengan masuk sebagai tim nya.
Dave tersenyum dan mengangkat tangannya untuk meminta Andi duduk di kursi yang sudah ia siapkan tadi. Andi duduk di samping Edward sedangkan pria yang mengikuti Andi, kini berdiri di belakangnya. Wajah Andi terlihat tegang. Wajar saja, ini adalah meeting pertamanya yang paling penting. Sebagai seorang pemula, seharusnya ia bersikap tenang. Ia teringat ucapannya terakhir pada Andi.
“Papa belum mengijinkan kamu menjadi salah satu orang yang menyelamatkan hotel kita di Eropa. Coba kamu pelajari semuanya, nanti kita bicarakan waktu meeting.”
Ketika mengatakan hal itu, Andi langsung bersiap. Ia siap jika ditolak oleh orang-orang yang hadir saat ini. Terkadang ia merasa sedih. Anaknya yang baru saja terjun ke dunia usaha milik keluarganya harus ikut andil menyelamatkan perusahaan dengan pengalaman yang sangat minim. Tiba-tiba ia melihat Andi berdiri dan memberikan kertas kepadanya dan kepada Edward maupun Clara. Dave melihat sekilas dan tersenyum. Semuanya sudah dipersiapkan dengan baik.
Clara berbisik pada Edward. “Aku bilang apa kan, pasti Andi yang bersiap ke Eropa.” bisik Clara.
“Diem. Kita denger penjelasan Andi.” jawab Edward.
Andi melihat layar besar yang memperlihatkan beberapa pemegang saham. Iapun berdiri dan mulai memperkenalkan diri. Ia nyalakan proyektor dengan menyorot sebuah kain putih yang sudah disiapkan ibunya untuk ia presentasi. Melakukan hal ini mengingatkannya pada masa sidang di kampus setahun yang lalu. Ia mulai membuka sebuah slide dimana ia menjelaskan profil hotel satu persatu. Kemudian ia mulai menjelaskan cara kerja yang akan ia lakukan.
“Berapa lama?” tanya Edward lantang.
Andi menatap pamannya. Sejak awal pamannya meragukan kemampuannya. “Setahun. Saya dan tim bisa mengembalikan kejayaan selama setahun.” ucap Andi kencang. Wajahnya terlihat bersemangat.
Edward berbisik pada Clara. “Gimana?”
“Andi itu jiplakan papanya. Aku yakin dia sama kayak kak Dave.” jawab Clara.
Edward melirik sinis. “Emang dari awal yang kamu mau itu Andi buat pergi kesana.”
“Aku punya penjelasannya. Kalo Ardan udah besar, aku pasti bakal ngirim dia ke sana. Tapi anak kecil bisa apa?” tanya Clara.
“Oke, oke, aku ngerti. Tapi kalo ada apa-apa, kamu yang bertanggung jawab semuanya.” jawab Edward.
“Aku siap.” jawab Clara kencang.
Andi melihat wajah-wajah di layar yang sepertinya masih terdiam semenjak ia menghentikan penjelasannya. Ia melihat Dave yang menganggukkan kepalanya. Tiba-tiba ia melihat pamannya berdiri. Jantung Andi mulai berdebar. Apa yang akan pamannya lakukan padanya?
“Cabang hotel kita di Eropa menurut update terbaru, ada kurang lebih 15 cabang yang tersebar di beberapa negara di Eropa. Dua hotel di Brussel, tiga hotel di Paris, dua hotel di london, dan beberpa hotel lainnya. Perlu kita ketahui, karakteristik setiap hotel berbeda-beda. Tergantung kebijakan di sebuah negara.” pancing Edward.
“Sudah kita siapkan om. Semua kebijakan negara dan perubahan yang akan kita lakukan gak akan menyalahi aturan apapun.” jawab Andi cepat. Ia langsung memperlihatkan bagan hotel di setiap negara dengan komplit. Edward yang melihatnya pun tampak tidak bisa berkata lain. Ia langsung menatap Andi.
“Setahun? Kamu yakin bakal setahun mengembalikan kejayaan hotel?” tanya Edward.
“Yakin. Anggap saja hal ini sebagai taruhan. Kalau tim saya gagal, saya siap dipecat dari nama keluarga.” jawab Andi lantang. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain hal itu.
“Oke, kalo gitu Om akan menyerahkan semua pekerjaan ke kamu dan tim kamu. Kamu siap tanpa bantuan papa kamu dan Om?” tanya Edward.
Dave mengerutkan keningnya. Ia melihat Calvin dan menyorotnya tajam. Calvin tidak pernah mengatakan apapun padanya tentang Andi. Calvin hanya tersenyum dan melambaikan tangannya padanya.
“Oke, setelah kita lihat penjelasan secara detail tentang proyek ini, apa masih ada yang enggak setuju?” tanya Dave pada beberapa orang yang muncul di layar.
Karena pemegang saham sudah percaya sepenuhnya pada Dave, mereka hanya mengangguk dan mengikuti semua rencana yang akan dilakukan. Bagaimanapun rencana ini ada untuk menyelamatkan hotel-hotel itu.
“Jelaskan! Sejak kapan kamu mulai belajar sama Om Calvin?” tanya Dave pada Andi ketika meeting itu telah selesai. Mereka kini sedang duduk di ruang makan.
“Baru kok. Sebelum kamu pulang dari Brussel.” jawab Calvin santai. Ia menahan tawanya ketika melihat kedua sahabatnya menatapnya dengan tajam.
Andi tersenyum. “Tenang pah, tenang om..”seru Andi.
“Papa gak terpikir kamu berani melakukan ini. Beberapa menit setelah papa sadar, kamu langsung minta ijin untuk menggantikan peran papa. Ternyata dibelakang kamu ada pendukung kuat.” ujar Dave.
“Begitulah kalo sama papa mertua harus rukun. Bagus juga ada kerjasama.” ucap Clara yang diamini oleh Alena. Mereka datang ke ruang makan sambil membawakan makanan.
Alena langsung mengahmpiri Dave . “Ada yang sakit? Mau langsung istirahat?” bisik Alena. Ia mengabaikan godaan Clara.
“Gak, aku masih mau disini.” jawab Dave pelan
“Oke, kalo ada yang sakit kasih tau aku.” ucap Alena. Iapun duduk disamping suaminya dan menatap Andi. Ia tersenyum,
Clara duduk di samping Edward sambil tersenyum pada Calvin. “Halo, besan..” godanya.
“Stop tan.. Aku mau fokus sama kerjaan ini. Jangan benturin aku sama Om Calvin masalah itu. Aku gak mau.” ucap Andi malas.
“oke..oke.. Tante gak akan lagi ngebahas ini sama kamu. Sorry…” ucap Clara
“ngomong-ngomong, kamu mau homebase dimana?” tanya Dave.
“London pah. Cello udah bantuin aku cari apartemen di The Atlas.” jawab Andi.
Dave hanya mengangguk. Sejak sekolah menengah dulu, ia sering dibawa ke London untuk liburan keluarga. Jadi ia pikir London bukanlah tempat yang asing untuk Andi. Ia pun melihat Alena yang terdiam. Ia langsung memegang tangan Alena dan menganggukkan kepalanya. Ia dapat merasakan kehilangan anaknya sementara. Iapun tidak tahu berapa lama Andi akan berada di Inggris.
“Liat nih mama kamu. Tiba-tiba jadi pemurung sejak tau kamu mau pergi.” ucap Dave.
Andi langsung berdiri menghampiri ibunya dan memeluknya dari belakang
“Ma, Prince nya mama ini mau pergi untuk menyelamatkan masa depan keluarga. Jadi jangan murung. Andi pasti sering menghubungi mama. Karena apa? Karena saat ini cuma mama, satu-satunya wanita yang ada dihidup Andi.” ucap Andi sambil mengecup pipi Alena.
“Oh Prince.. gak akan ada yang godain mama nanti pas kemu udah pergi. Gak ada yang mama cerewetin lagi. Mama pasti kangen masa itu.” ucap Alena sambil memegang rambut Andi.
“Waiting for me. Mom..I’ll be back immediately.” bisik Andi sambil memeluknya dengan erat.