Love Actually

Love Actually
Episode 119



"Vino, aku berhasil. Aku berhasil.." teriak Sherly senang. Tapi ia terdiam ketika melihat Vino murka. Semua makanan yang sudah ia siapkan hancur berantakan. Pria didepannya bukan Vino yang ia kenal lima tahun yang lalu. Ia bukan Vino nya. Ia berubah.


Vino menoleh pada Sherly cepat dan menatapnya dingin. Ia tidak pernah marah seperti ini sebelumnya. "Semua gara-gara kamu!" teriak Vino. Ia langsung mendorong Sherly ke tembok dan mencekiknya.


"Vino, jangan kayak gini. Kita bisa bicara..." ucap Sherly sambil terbatuk. Ia memegang tangan Vino yang saat ini masih menekan lehernya.


"Kalo kamu gak ancam aku soal plagiat itu, aku gak akan kayak gini! Sierra pergi! Wajah dia pucat karena gak pernah tidur nyenyak. Semuanya kesalahan kamu!" teriak Vino marah.


Sherly semakin tidak kuat menahan tangan Vino yang keras menekan lehernya. "Tolong!" serunya terbata-bata.


"Gak ada yang bisa kamu minta tolong. Kalo kamu mati, aku yang akan masuk penjara. Kasus plagiat itu bakal hilang. Sierra gak akan punya masalah lagi!" jelas Vino.


Sherly menggeram marah. Ia merasakan kesakitan di lehernya. Nafasnya mulai pendek karena ia tidak bisa bernafas.


"Vino... Vin..." teriak Dimas yang saat itu masuk ke rumahnya. Ia baru saja kembali dari rumah orangtuanya. Sudah seminggu ini ia pergi berlibur dengan istrinya ke luar kota. Sehingga ia tidak tahu menahu kabar terbaru dari sahabatnya. Ketika diluar tadi, ia mendengar Vino berteriak. Ia pikir sedang bertengkar dengan Sierra. Tapi ia salah, ia melihat Vino hampir saja membunuh Sherly yang saat itu sudah terlihat lemas.


Dimas melepaskan tangan Vino. "Vin, jangan aneh!" ucapnya marah.


Vino menoleh pada Dimas. "Wanita ini, dia, wanita iblis ini, wanita yang paling aku benci, dia.. gara-gara dia Sierra pergi.." ucapnya marah.


Dimas memegang kedua tangan Vino dengan kencang. Ia menatap Sherly. "Kamu! Pergi sekarang! Keluar dari rumah ini!"


Sherly berdiri. Ia menatap Vino. "Dengerin aku. Kalo kamu gak mau sama aku, kamu juga gak bisa sama Sierra! Kartu Sierra ada ditangan aku. Sampai kapanpun kalian gak akan bisa bersama! Itu pilihan kamu sendiri." ucapnya seraya pergi.


Vino melepaskan diri dari Dimas tapi ia masih bisa ditahan. Ia melihat Sherly keluar dari rumahnya sambil tertawa.


"Tenang. Ceritain ada apa?" tanya Dimas.


Vino kesal dan marah. "Wanita itu datang tiba-tiba. Dia punya kartu Sierra." ucapnya. Ia mulai menceritakan semuanya pada Dimas.


Sierra membuka pintu rumahnya perlahan. Ia melihat ibunya dan sahabatnya ada disana. Mereka terlihat sangat terkejut ketika melihat Sierra datang kerumah dalam keadaan menangis. Semakin ia tahan, ia semakin tidak sanggup. Akhirnya sejak di taxi tadi, ia menangis. Ia melihat mobil Tante Alena ada didepan rumahnya. Sudah takdir jika mereka berdua harus tahu apa yang terjadi.


“Ma..”ucapnya dengan bibir bergetar. Ia berjalan perlahan untuk menghampiri kedua orang yang sedang kebingungan menatapnya itu. Tapi tiba-tiba Sierra ambruk dilantai. Ia tidak mengingat apa-apa lagi.


Alena dan Firly langsung menghampirinya. “Apa yang terjadi Sierra? Kamu kenapa?”teriak Firly cemas. Ia shock pagi-pagi diberikan kejadian seperti ini.


Mendengar ada teriakan dari dalam, supir pribadi Alena langsung dipanggil untuk mengangkat tubuh Sierra. Tak hanya itu, iapun menelpon Vino untuk mengetahui apa yang terjadi. Tapi sayangnya teleponnya tidak diangkat. Ia langsung menghubungi Erika untuk menyusulnya.


“Halo.”


“Jo, kamu dimana?”tanya Alena cepat.


"Aku kebetulan lagi dirumah mama. Kenapa ma?" tanya Erika.


"Kamu kerumah Tante Firly sekarang. Bawa mama kamu! Urgent.." ucap Alena.


"Oke ma. Ojo sama mama langsung meluncur kesana."


Firly menatap cemas Sierra yang terbaring lemas ditempat tidur. Alena tadi sudah memeriksanya. Beberapa saat yang lalu Erika dan ibunya tiba sambil membawa perlengkapan dokter miliknya. Kini dengan peralatan seadanya, Sierra diinfus di rumahnya.


"Kamu udah bisa hubungi Vino?" tanya Alena.


"Belum bisa. Handphonenya gak aktif." jawab Sandra cemas. "Sebenernya ada apa sih? Kalo ini soal Vino, liatin aja.. aku bisa ngamuk.." ucap Sandra marah.


"Tenang dulu.." jawab Alena.


"Gimana aku bisa tenang kalo anak kesayangan aku terbaring lemas di tempat tidur?" ucap Sandra.


"Sierra bangun!" seru Firly ketika ia keluar dari kamar Sierra.


Baik Alena, Sandra dan Erika langsung masuk kedalam kamar. Ia melihat Sierra terduduk dengan wajah lelah. Sandra langsung duduk disamping Sierra.


"Ada apa Sierra? Cerita sama mama.."


"Maaf kenapa? Cepat cerita kalo ini tentang Vino.." ucap Sandra dengan nada tinggi.


Sierra mengangkat kedua tangannya dan memohon. "Maafin aku karena gak bisa menjadi menantu yang baik. Maafin aku karena aku gak bisa mempertahankan pernikahan ini dengan Vino.."


Erika terkejut. Ia langsung mendekat. "Kenapa? Perasaan kalian baik-baik aja. Ada apa Sierra?"


"Intinya kami memang salah dengan pernikahan ini. Kami berdua gak pernah cocok ma.." bisik Sierra.


"Mama gak percaya! Mama akan cari tau sendiri masalah kalian. Mau sampai kapanpun cuma kamu yang jadi menantu mama. Bukan yang lain. Mama mau gusur Vino untuk datang kerumah ini dan meminta maaf sama kamu. Enak aja, sulitnya mama menyatukan kalian. Sekarang kamu mau berpisah sama Vino? Gak mungkin. Mama marah sama kamu! Mama akan cari Vino!" ucap Sandra marah sambil pergi keluar. Erika mengikuti dari belakang karena ia tahu ibunya jika sedang marah.


Firly duduk disamping Sierra. "Masalahnya seberat itu? Sampai kamu mau berpisah sama Vino."


"Maafin aku ma. Tapi aku udah gak bisa lagi sama Vino. Udah cukup sakit hati aku gara-gara laki-laki. Semua laki-laki sama aja." ucapnya sambil terisak.


"Seberat apapun, kamu tetep harus bicara berdua sama Vino."


Sierra menggelengkan kepalanya. "Enggak ma. Aku udah putuskan buat bercerai."


"Alasan kamu bercerai apa?"


"Aku sama Vino gak akan pernah cocok." jawab Sierra berbohong. Ia tidak mau masalah tentang Sherly diketahui oleh ibunya. Di hadapan Vino, ia sudah berkata untuk mundur. Dan sekarang lah momennya. Ia mundur untuk memberikan kebebasan bagi Vino dan Sherly.


Nasibnya memang tragis. Berulang kali ia kecewa pada pria. Ia mencintai Vino. Tapi Vino bisa lebih bahagia bersama Sherly. Semua pertahanannya runtuh. Ia tidak bisa melihat kebahagiaan mereka berdua. Awalnya ia ingin berjuang, tapi entah kenapa ia merasa lelah. Ia lelah dengan sikap keduanya yang menganggapnya tidak ada.


...***...


"Kamu udah tenang?" tanya Dimas ketika ia melihat Vino sedang duduk di ruang tamu.


Vino menatapnya. "Yah. Kamu denger sendiri kan ancaman Sherly?"


Dimas mengangguk. "Jadi rencana kamu apa?"


"Aku mau selesaikan ini dulu. Aku ada rencana lain. Aku gak akan cerai dari Sierra. Aku gak mau. Aku terpaksa biarin Sierra pergi buat melancarkan serangan sama Sherly."


"Tapi Sierra tau?" tanya Dimas


Vino menggelengkan kepalanya.


"Kenapa gak tau? Harusnya kamu bilang sama Sierra soal ini. Kamu mau kehilangan Sierra? Gimana kalo dia gak terima sama rencana kamu? Apalagi istri kamu itu gak tau alasan kamu berbuat ini. Tanya dulu sama istri kamu soal plagiat itu. Bener atau enggak? Urusannya udah sampai mana?Aku pikir terlalu beresiko."


"Aku gak bisa nanya sama dia karena Sherly setiap saat ada disamping aku." jawab Vino kesal. "Aku telepon Mili soal plagiat ini. Katanya masalah ini bikin Sierra trauma. Aku gak mau trauma dia muncul gara-gara ini. Aku lagi cari cara lain biar masalah plagiat ini gak muncul."


"Caranya?"


"Aku nyuruh Cilla buat selidiki." jawab Vino.


Dimas duduk didepannya. "Coba kamu tanya Cilla udah sampai mana?"


Vino mengeluarkan handphonenya. Baru saja ia akan menghubungi Cilla, gadis itu menghubunginya terlebih dahulu. "Halo.."


"Kak, ada peluang. Kakak bisa susul aku ke Paris?" tanya Cilla.


Vino menatap Dimas. "Paris? Kapan?"


"Secepatnya. Aku ada berita bagus tapi kakak harus kesini." ucap Cilla terburu-buru.


Vino berdiri. "Kalo gitu kakak siap-siap."


Ketika telepon ditutup, ia menatap Dimas. "Tolong ajuin Visa buat aku ke Paris. Seminggu. Please, urgent!" ucapnya sambil berjalan ke kamar.


"Aku harus ikut.." jawab Dimas.