
"Sierra, kita ada proyek baru. Semuanya berkat kamu!" Seru Daniel bersemangat ketika menghubunginya sore ini.
"Proyek apa?"
"Kita bisa ambil bagian di pernikahan keponakan walikota seoul. Mereka undang kita secepatnya ke korea buat meeting. Kamu memang dewi fortuna perusahaan kita. Sejak kamu menikah, proyek wo kita datang terus."
Sierra masih bingung. "Kenapa mereka pake wedding organizer kita?"
"Mereka liat pernikahan yang kemarin. Jadi anaknya itu kebetulan bersahabat dengan pengantin pria. Dan yang lebih membanggakan, mereka mau liat gaun pengantin rancangan kamu, Sierra. Impian kamu jadi kenyataan. Kamu tinggal buat design beberapa gaun pengantin. Minggu depan kita perlihatkan ke mereka."
Sierra tersenyum. Ya, impiannya menjadi kenyataan. Sudah sejak lama ia ingin pakaian yang ia buat dipakai oleh orang-orang untuk moment tertentu. Tapi bagaimana dengan Vino? Bukannya ia dan wanita itu akan melakukan semuanya dengan fair? Jika ia pergi, banyak kesempatan bagi Sherly untuk merebut suaminya.
"Minggu depan?"
Daniel tersenyum dibalik telepon dan Sierra tahu itu.
"Ya, aku harus daftar visa dulu dan kamu juga harus siapkan beberapa gambar gaun rancangan kamu. Masalah tiket pesawat, mereka udah siapin. Apa aku perlu bilang sama suami kamu? Aku seneng banget. Ini tantangan buat kita."
"Gak usah. Biar aku sendiri yang bilang ke Vino." jawab Sierra.
"Oke kalo gitu. Aku siapin dulu berkas-berkasnya. Kamu juga harus ada persediaan berkas."
"Iya aku tau. Nanti aku kirim ke kamu."
Sierra keluar kamar. Ia langsung berfikir pendek. Suaminya harus ikut dengannya ke korea. Ia tidak peduli bagaimana disana nanti. Ia tidak mau sesuatu terjadi pada Vino dan Sherly selama ia pergi. Jika kemarin saja suaminya itu bisa dibodohi, bagaimana nanti ketika ia tidak ada disampingnya?
Ia membuka pintu kamar. Tapi Vino tidak ada dikamar nya. Iapun berjalan kebelakang. Suaminya terlihat sedang bersantai didepan kolam renang dengan mata tertutup. Sedangkan bukunya disimpan di atas dadanya. Sierra duduk disampingnya dan sepertinya suaminya tidak sadar.
"Vin."panggil Sierra.
Vino terkejut dan langsung terbangun. "Ya, kenapa?"
"Kamu mau ikut sama aku." Jawab Sierra tenang.
"Oke aku ikut. Kita mau kemana? Makan malam kayak biasa?" jawab Vino cepat.
Sierra menggelengkan kepalanya. "Minggu depan aku pergi ke korea dan aku mau kamu ikut aku kesana selama beberapa hari."
"Korea? Acara apa?"tanyanya bingung.
"Perusahaan kita diundang untuk terlibat dalam pernikahan keponakan walikota Seoul."
Vino hanya diam. Ia terlihat berfikir.
"Kamu gak mau ya? Ya udah aku pergi berdua aja bareng Daniel." Ucap Sierra sambil beranjak dari duduknya.
Vino menangkap lengan Sierra. "Aku ikut. Enak aja aku biarin kamu berdua ke luar negeri bareng daniel. Aku ikut."
Sierra menganggukkan kepalanya. "Kembali sama permasalahan kita. Apa Sherly telepon kamu hari ini?"
Vino mengeluarkan handphonenya. "Kamu cek sendiri."
Sierra melihat semua panggilan masuk ke handphone suaminya itu. Rata-rata panggilan dari wanita itu dan Dimas. Tapi tidak ada satupun panggilan dari wanita itu yang diangkat. Ia menatap Vino.
"Ada yang dihapus?"
Vino memeluk tubuh Sierra dengan mudahnya. "Buat apa aku hapus-hapus pesan dari Sherly. Aku kesel dijebak gitu. Aku juga bodoh karena gak bilang sama kamu. Tapi sebenernya ada untungnya juga aku kesana."
Sierra melepaskan pelukannya. "Maksud kamu?"
"Aku gak bisa liat kamu pake gaun serendah itu. Kamu cantik banget waktu kemarin."goda Vino ditelinga Sierra.
"Banyak sih yang bilang gitu." Jawab Sierra sambil tersenyum.
"Siapa? Mereka deketin kamu? Kamu bilang udah punya suami kan?" Tanya Vino kesal.
"Ya, tapi pasangan kamu kemarin jauh lebih cantik dari aku. Aku sih gak ada apa-apanya."
"Buat aku kamu jauh lebih cantik. Dress itu siapa yang bikin? Mili?"
"Iya.."
"Mili tau selera aku." jawab Vino sambil tertawa. "Nanti kamu pake lagi. Aku belum puas liatnya.."
Sierra melepaskan tangan yang masih melingkari pinggangnya. "Kamu masih mau liat aku pake baju kayak gitu lagi?" bisiknya.
Vino mengangguk cepat. "Tapi bukan buat laki-laki lain!"
Sierra kembali membuka kertas gambar miliknya yang pernah ia gambar ketika sekolah dulu. Sejak menikah, ia membawa semua gambar-gambar miliknya dari rumah. Ia membawa gambar-gambar itu ke ruang kerja Vino. Ia ingin fokus untuk gambar kali ini. Ini adalah pertama kalinya ia berada di ruangan milik suaminya itu.
Ia menatap jam dinding. Sudah pukul 12 malam. Ia belum mengantuk. Ia terlalu excited untuk acara kali ini. Ia menyalakan lampu saklar dan terlihatlah isi ruangan sepenuhnya. Ada rak buku dibelakang meja kerja Vino. Ada foto pernikahannya terpajang di samping meja. Ia menghampiri meja itu dan duduk. Ia sedikit terkejut melihat foto miliknya yang terpajang dengan rapi di atas meja. Setahunya foto itu adalah foto yang diambil ketika ia berada di Jepang beberapa bulan yang lalu. Foto yang diambil ketika ia belum bertemu dengan Yoga dan anaknya.
Lalu bagaimana perasaannya? Sejak menikah dengan Vino, ia sudah melupakan semua tentang Yoga. Awalnya ia memang berkewajiban tentang uang lima belas milyar itu dengan pernikahan ini. Tapi, ia nyaman dengan pernikahan ini. Juga seringkali ia merasa berdebar ketika bertatapan dengan suaminya itu. Ia kembali menatap foto pernikahannya dan tersenyum. Mereka berdua terlalu kaku saat itu. Pernikahan yang dilakukan secara terpaksa. Mengingat saat itu, ia melupakan gambar-gambarnya yang ada di meja.
Ia berdiri dan menatap foto pernikahan yang super besar itu. Ia tidak tahu kenapa Vino memindahkan foto pernikahan mereka ke ruang kerjanya. Ia duduk dimeja dan menatap foto itu.
"Aku yakin kamu pasti terpesona sama ketampanan suami kamu." ucap Vino tiba-tiba.
Sierra terkejut dan hampir saja meloncat dari atas meja. Ia menoleh ke arah pintu. Vino sedang berjalan menghampirinya. Tidak terlihat ia sudah tidur sebelumnya.
"Kamu belum tidur?" tanya Sierra gugup.
"Aku denger kamu buka pintu kamar tapi lama gak kembali. Aku penasaran sama kegiatan kamu malam-malam. Ternyata kamu disini." jawab Vino mendekatinya. Ia kini sudah berada tepat didepannya.
Sierra sedikit gugup dan turun dari meja ketika ia mulai merasakan tidak aman. Vino mulai mengurung tubuhnya dengan kedua tangannya berada di ujung meja.
"Apa yang kamu rasakan waktu liat foto itu?" tanya Vino pelan.
Jantung Sierra mulai berdegup dengan kencang. Bukan karena pertanyaan itu. Tapi karena wajah Vino sudah sangat dekat sekali dengan wajahnya. Ia malu dan menunduk.
"Kenapa wajah kamu merah?" tanya Vino.
"Kapan kamu punya foto-foto aku? Kapan kamu ke rumah mama?" tanya Sierra dengan wajah menunduk.
Vino tersenyum. Ia mengangkat tubuh Sierra dengan mudah dan mendudukkannya di atas meja. Kemudian tangannya berpindah ke pinggangnya. "Minggu kemarin aku mampir ke rumah mama. Aku ambil beberapa foto buat koleksi."
Sierra tertawa ringan. "Koleksi?"
"Iya koleksi. Sejak aku mulai cinta sama kamu, aku mulai penasaran gimana masa kecil kamu. Gimana kehidupan sekolah kamu dan tempat kuliah kamu. Aku penasaran sama semua yang kamu lakukan sebelum aku kenal sama kamu."bisik Vino tepat ditelinga Sierra. Ia kini mempersempit jarak mereka dengan memeluk pinggang Sierra.
Sierra mengangkat kedua tangannya dan menyimpannya di bahu Vino. Ia dapat merasakan tangan Vino mulai mempererat pelukannya. Salah satu tangannya ia angkat untuk mengangkat wajah Sierra untuk menatapnya.
Ada kumis tipis di atas bibir Vino. Sierra tak kuasa untuk menyentuhnya. Ia menyentuh wajah Vino dengan kedua tangannya. Ini pertama kalinya ia merasa sedekat ini.
Vino tersenyum. Ia tak kuasa untuk tidak memberikan jarak untuk kedua mata mereka bertemu. Sierra menutup matanya ketika ia merasakan bibirnya dikecup ringan.
"Tolong, malam ini temani aku." bisik Vino ketika ia melepaskan diri. Ia melihat Sierra mengangguk. Vino menundukkan kembali wajahnya dan mencium mesra Sierra. Ia menyentuh wajah istrinya. Perasaannya memuncak ketika Sierra membalas ciumannya.
Vino menggandeng tangan Sierra dan berjalan ke kamarnya. Ia duduk berdampingan disamping tempat tidur Sierra. Ia gugup begitu juga dengan Sierra. Ia menoleh dan tersenyum samar. Hasrat nya malam ini terlalu besar. Ia melihat Sierra menatapnya. Vino langsung mendorongnya ke tempat tidur dan mencium . Ia ingin menyentuh semuanya. Semua yang sudah menjadi miliknya. Sierra adalah miliknya. Ia tidak akan membaginya dengan siapapun. Ia ingin membuatnya berkesan. Mereka belajar semua hal malam ini. Ketika Sierra pasrah, terjadilah semuanya.
...***...
"Tolong, percaya sama aku. Apapun yang terjadi didepan, baik dan buruk, aku cuma cinta sama kamu." bisik Vino.
Sierra dan Vino saling berpegangan tangan. Sierra membuka matanya dan menoleh ke Vino. "Apa gara-gara Sherly?"
"Bukan cuma soal Sherly. Tapi semuanya. Sherly mungkin salah satu diantaranya. Jujur, aku gak mau kamu sakit hati apalagi sampai menangis soal Sherly. Aku sakit liat kamu nangis kemarin. Tapi, dia pasti melancarkan semua serangannya. Aku gak tau ada rencana apa di otak Sherly." jawab Vino pelan.
Sierra bangun dan mengecup ringan bibir Vino. Ia kembali menyandarkan tubuhnya di "Aku percaya. Aku tau dari Dimas soal Sherly. Dia gak suka sama mantan kamu itu udah lama. Tapi karena kamunya tergila-gila sama dia, jadi susah dikasih tau. Tapi gimana caranya kita menghindari serangan Sherly?"
Vino tertawa. "Dulu.. Sekarang aku tergila-gila sama kamu. Dulu aku terlalu dingin sama perempuan. Jadi aku gak bisa liat kalau ada perempuan yang lebih baik dari Sherly. Aku beruntung bisa putus sama dia dan menikah sama kamu."
Sierra bangun dan memakai pakaiannya. Ia keluar dan menutup pintu. "Aku bikin sarapan dulu."
"Baru bangun?" tanya seseorang yang sudah duduk manis di meja makan.
Sierra hampir saja berteriak karena terkejut. Ia melihat Dimas sedang duduk di kursi. Salah satu tangannya memegang cangkir. Dan ia berpakaian rapi.
"Dimas, masih pagi udah bikin kaget." ucap Sierra sambil mendekatinya.
"Suami kamu mana? Kita kan mau pergi bisnis.." ucap Dimas.
"Bisnis?" tanya Sierra.
Pintu kamar Sierra terbuka dengan lebar. Vino keluar dengan rambut acak-acakan.
"Loh, kok.. kalian.." tanya Dimas terkejut.
Vino mengerutkan keningnya. "Lagi apa kamu disini pagi-pagi?"
Dimas tertawa. "Semalam kalian...."
Sierra tersenyum malu dan berjalan dengan cepat ke dapur. Sedangkan Vino melempar bantal kursi yang ada didekatnya. Ia melemparkannya pada Dimas.
"Berisik! mau ngapain kamu kesini?"
"Kamu lupa kalo sekarang kita harus pergi ke resort."
"Oh ya, aku lupa."