Love Actually

Love Actually
modus



Erika menutup laptopnya setelah menyelesaikan interview bulanan dengan salah satu media Jepang. Ia merasa senang selama wajahnya tidak terekspos. Ia menatap jam dinding. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Ia mulai merasa lapar. Setelah pulang dari supermarket tadi siang, ia langsung mengurung diri di kamar untuk melakukan persiapan interview.


Ia membuka pintu kamar dan turun ke bawah. Ia melihat kedua orangtuanya sedang berada di ruang keluarga. Ibunya sedang menonton televisi sedangkan ayahnya sedang menatap laptopnya. Ia tidak melihat Vino. Ia mencari sosok Vino tapi tidak terlihat batang hidungnya.


"Ma.." panggil Erika.


"Udah beres Jo?" tanya Sandra.


"Udah. Aku laper" jawab Erika sambil memegang perutnya.


Terdengar pintu diketuk. Ia dan ibunya saling bertatapan.


"Biar mama yang buka. Kamu makan dulu." ucap Sandra sambil berdiri. Ia berjalan ke depan rumah.


Andi kesal pada ibunya. Ia tetap diam ketika ia pulang tadi. Terpaksa setelah makan malam, ia mengeluarkan mobilnya dan sampai ke rumah Ojo. Ia ingin bertemu dengan Ojo nya.


Pintu rumah terbuka.


"Halo Tan. Apa kabar?" tanya Andi sambil melambaikan tangannya.


Sandra terkejut melihat Andi ada didepan rumahnya. "Kapan kamu pulang?"


"Udah seminggu. Maaf baru sempet kesini." jawab Andi sambil menggaruk kepalanya.


"Oh gak apa-apa. Kamu apa kabar?" tanya Sandra senang.


"Aku baik-baik aja. Om ada?"


"Ada. Ayo masuk." ucap Sandra sambil menarik lengannya untuk masuk kedalam.


"Dengan senang hati Tan." jawab Andi.


Ketika masuk, Andi sedikit terpesona dengan interior rumah mereka. Khas Om Calvin. Ia melihat pria itu sedang duduk sambil melihat laptopnya.


"Om!" panggil Andi.


"Loh, kapan kamu pulang?" tanya Calvin.


"Udah seminggu yang lalu." jawab Andi


Calvin menutup laptopnya dan melihat Andi yang terlihat bersemangat malam ini.


"Om yakin kamu kesini gak nyari kita berdua." ucap Calvin.


Andi tertawa. Orang tua memang selalu lebih tahu dari anaknya. "Ojo ada?" tanyanya kemudian.


"Ada di dapur. Lagi makan." jawab Sandra. Iapun duduk disamping Calvin.


"Waktu kamu di London, kamu gak pernah sekalipun nanyain anak om." sindir Calvin.


"Beda Om. Aku fokus kerja." elak Andi.


"Kalo gak gitu kamu sekarang gak akan punya penthouse kan?"


Andi tertawa sambil menggelengkan kepala. "Gak juga om. Om bisa aja. Semua nya juga berkat jasa Om. Kalo gak ada Om, aku mungkin udah dicoret namanya dari kartu keluarga. Makasih Om buat semuanya." jawab Andi malu.


"Kita udah kayak keluarga. Udah sepantasnya saling membantu." ucap Calvin


"Ya, keluarga." jawab Andi sambil tersenyum.


Ketika mereka sedang berbincang, Erika muncul dari dapur. Ia mengerutkan keningnya ketika melihat Andi ada dirumahnya.


"Lagi apa kamu disini?"


Andi menoleh. Rambut Erika yang panjang kini terurai. Sangat cantik. Tanpa sadar ia tersenyum.


"Hai Jo! Aku lagi ketemu Om sama Tante. Aku belum ketemu mereka." jawab Andi kencang.


"Oh.." jawab Erika. Iapun berjalan dan membuka pintu belakang. Ia duduk sendirian menikmati udara dingin di belakang rumahnya.


Sandra tersenyum melihat Andi yang tidak memalingkan wajahnya sejak anaknya berada di belakang. "Kamu mau nemuin Ojo?" tanya Sandra.


"Eh iya Tante. Ojo sekarang beda ya? Lebih pendiem." ucap Andi.


"Coba kamu ajak ngobrol." jawab Sandra.


Andi berdiri. "Oke." ucapnya. Memang itulah yang ia inginkan. Bertemu dengan Ojo dan bertanya tentang 5 tahun terakhir ketika mereka sedang sibuk dengan urusan masing-masing.


"Jo.." panggil Andi.


Erika langsung membuka matanya. Ia menurunkan kakinya.


"Kenapa?"


"Kita jalan keluar yuk. Udah lama kita gak keliling kota." ajak Andi


Erika terdiam. Antara ingin pergi dan diam di rumah. Lusa ia sudah pulang ke Jepang. Tidak ada salahnya untuk pergi. Permasalahan dengan Andi tidak terlihat lagi ketika pria itu mengajaknya keluar.


Erika berdiri. "Aku ganti baju dulu." ucapnya.


"Yes!" seru Andi pelan.


Andi tidak perlu menunggu lama. Seperti biasa, Ojo nya selalu tepat waktu. Mobil Andi mulai membawa Ojo nya untuk berjalan-jalan. Ia masih ingat kemana akan membawa Ojo pergi. Seperti lima tahun yang lalu. Ketika Ojo merasa sedih, ia selalu membawanya ke bukit bintang yang tempatnya tidak jauh dari rumah Ojo dahulu. Ia sengaja membawa Ojo kesana untuk membuat gadis itu menceritakan keluh kesahnya. Kenapa ia berubah? Apa yang terjadi padanya? Wajahnya yang ceria seperti hilang ditelan bumi.


Jika diingat sesaat sebelum ia pergi ke London, ia dan Ojo tidak dalam hubungan yang baik. Saat itu ia marah karena Ojo memiliki kekasih. Iapun teringat bagaimana ia menghindari acara televisi dan media sosial agar ia tidak tahu berita tentang Ojo. Ia juga teringat dimana ia menemukan majalah gosip yang memunculkan wajah Ojo dengan pria itu. Berita tentang Ojo menjadi perhatian saat itu. Dan ia marah karenanya. Tapi, masa itu adalah masa dimana ia belum merasa dewasa. Ia sudah melupakan apa yang terjadi saat itu. Ia lebih penasaran dengan apa yang terjadi saat ini.


Erika mempererat jaketnya. Malam ini terasa dingin tidak seperti biasanya. Ia tidak menyangka Andi masih ingat tempat yang biasa mereka kunjungi saat itu.


"Dingin Jo?" tanya Andi ketika melihat wanita itu menggigil.


"Ya." jawab Erika.


Andi berjalan ke mobilnya dan membawa selimut milik ibunya yang biasa dibawa di bagasi mobilnya. Kebetulan saja kemarin mobilnya dibawa oleh ibunya. Dan barang-barang miliknya belum sempat dikeluarkan. Ia melihat ada selimut di jok belakangnya.


Ia melihat Ojo nya dari belakang. Ia terlihat sedang menatap pemandangan malam. Iapun langsung memakaikan selimutnya pada bahu Ojo nya.


Erika terkejut mendapatkan sesuatu yang hangat di bahunya. "Thanks.." ucapnya.


Andi langsung duduk disampingnya. "After 5 years. You can tell me what happened, Jo!"


"Nothing happen. Semuanya baik-baik aja." jawab Erika tenang.


"Waktu itu aku belum dewasa. Aku kesel liat kamu sama pria lain. Sedangkan waktu itu aku patah hati. Gak ada yang bisa aku jadikan sandaran. Trus papa kecelakaan. Semua diluar kendali. Aku harus tinggal di London buat re opening beberapa hotel aku. Andai kamu tau Jo, apa yang terjadi sama aku kemarin-kemarin. Untung ada Om Calvin yang terus siap membantu semua kesulitan aku." ucap Andi. Ia tidak peduli wanita disampingnya tidak mendengarnya. Ia hanya ingin bercerita dan ia harap Ojo akan membalasnya dengan cara yang sama.


"Jane kenapa?" tanya Erika kemudian.


"Dia lebih memilih Rico. Kamu tau kan Rico? Laki-laki yang biasa dateng sama Jane? Ternyata dia itu pacarnya Jane. Aku gak tau.." ucapnya.


"Kamu patah hati?"


"Waktu itu sih iya, cuma pas papa kecelakaan aku langsung lupa. Aku harus terbang dari satu negara ke negara lain di Eropa. Aku terlalu fokus sama kerjaan. Trus kalo kamu gimana Jo? Kamu ngerjain apa?" pancing Andi.


"Aku? Aku jadi blogger makanan di Jepang." ucap Erika.


"Trus? Kenapa kamu keluar dari rumah sakit? Apa yang terjadi sama kamu? Kenapa kamu pergi ke Jepang?"


Erika menatap Andi.


"Cerita sama aku. Apa yang terjadi sama kamu?"


"Semua gara-gara Bumi." ucap Erika.


"Artis itu? apa dia kurang ajar sama kamu?" tanya Andi marah.


"Aku sakit kalo harus inget kejadian itu lagi. Kamu tau? Aku, Erika Ojo.. harus menyatukan satu keluarga yang sudah berpisah. Aku, Erika Ojo harus merasakan sakitnya dipecat dan digunjingkan teman-teman satu rumah sakit. Aku, Erika Ojo harus menahan sabar saat wajah aku masuk salah satu berita dan menjadi sasaran kebencian orang-orang. Aku, Erika Ojo berhasil mempertemukan seorang gadis kecil sama ayahnya. Aku hebat kan prince?" ucap Erika sedih. Ia mulai menitikkan airmata. Sakit hati yang ia tahan sejak lima tahun lalu, terbuka malam ini.


"Dan semuanya gara-gara Bumi?" tanya Andi.


Erika menganggukkan kepalanya. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Aku malu harus cerita ini sama kamu.." bisiknya.


Andi menarik bahu wanita disampingnya. Ia memeluk Ojo dengan erat. "Semuanya udah berakhir Jo. Kamu bisa melewati lima tahun ini dengan sukses. Kamu hebat. Setiap orang pasti pernah mengalami hal terberat dalam hidupnya. Aku juga sama. Aku gak perlu denger penjelasan dari kamu tentang laki-laki itu. Yang terpenting kamu udah putus. Aku mengerti semuanya. Denger cerita kamu, aku yakin keluarga yang kamu satukan itu Bumi. Kamu hebat Jo, aku bangga sama kamu. Andaikan waktu itu kita gak musuhan.." ucap Andi dan tanpa sadar mengecup kepala wanita itu.


"Anak itu cantik, Prince. Kalo kamu liat pun, kamu pasti gak tega. Anak sekecil itu udah ditinggal ayahnya karena obsesinya untuk jadi artis."


"Ya, kalo suatu hari aku ketemu mantan pacar kamu itu, jangan pernah melarang aku buat nonjok mukanya dia." ancam Andi.


Terdengar wanita yang dipeluknya tertawa diantara tangisnya. "Dia udah ditonjok Vino waktu itu."


"Vino ya Vino. Aku ya aku. Pokoknya jangan pernah melarang aku kalau suatu hari nanti aku ada kesempatan buat ketemu dia." jawab Andi.


Andi semakin mempererat pelukannya. Keputusannya pulang sudah tepat. Tapi, jika Ojo pulang ke Jepang dan ia pulang ke London, bagaimana mereka nanti akan bertemu? Apa yang harus ia lakukan nanti? Apakah ia harus mengajak Ojo ke London dan tinggal dengannya? Atau apakah ia akan menikmati sisa-sisa hari dimana ia dan Ojo tinggal di kota ini beberapa hari ke depan? Dan apakah mereka akan saling melupakan? Kenapa ia merasa tidak rela?