Love Actually

Love Actually
Beauty Princess



Calvin dan Sandra berjalan kaki untuk mencapai rumahnya yang hanya beberapa meter saja. Mereka saling berpegangan tangan. Sore semakin larut.


"Sayang, apa mungkin kita jual rumah aja yang diatas? Daripada dibiarin kosong." ucap Calvin.


"Kalo mau dijual, buat apa kita renovasi dengan ditambah ruang kerja dan taman sebesar itu?" jawab Sandra.


"Apa lebih baik kita minta Vino buat tinggal disana? Sekalian buat tempat kerja."


"Kita bisa pikirin nanti. Sekarang aku udah gak sabar mau ketemu Ojo. Udah hampir setahun kita gak ketemu. Gimana wajah dia sekarang?" ucap Sandra sambil menarik tangan Calvin.


"Yang pasti Ojo kita udah menemukan jalan untuk masa depannya. Kayaknya dia enjoy bekerja dibalik layar. Kayak kamu." goda Calvin


"Kalo enggak enjoy, bukan anak aku.' jawab Sandra sambil menyandarkan kepalanya di bahu Calvin.


Ketika sampai gerbang, mereka berdua ditatap oleh dua orang dengan tatapan tajam. Mereka berdua terdiam sambil mengerutkan keningnya.


"Kayaknya tanpa ada kita disini, bikin mama sama papa keenakan berdua." bisik Erika.


Vino menganggukkan kepalanya. "Kak, kita berdua capek jauh-jauh dari Jepang. Di sini kita dapet pemandangan kayak gini." ucap Vino tanpa melepaskan tatapannya pada kedua orangtuanya.


Sedangkan Sandra tidak percaya apa yang dilihatnya sekarang. Ia melepaskan tangan Calvin dengan cepat dan berjalan menghampiri orang yang paling dirindukannya. Ia merindukan Vino, tapi ia jauh lebih merindukan Erika. Ini adalah pertama kalinya ia menginjakkan kakinya didepan rumah barunya. Ia meneteskan airmatanya karena senang.


"My baby girl.. My beauty princess." bisik Sandra.


Erika melepaskan kopernya dan berjalan menghampiri ibunya. "Maa.. tadaima..." ucapnya terharu.


Sandra tersenyum. "Okaeri.. Ojo.." jawab Sandra.


"Ma..." panggil Erika. Ia langsung memeluk Sandra dengan erat. Tidak ada kata yang dapat ia ucapkan selain kata mama. Ia sangat merindukan ibunya. Ia merindukan pelukan ibunya. Ia merindukan masakan ibunya. Ia merindukan semua hal tentang ibunya.


Malam menjelang, selesai makan malam yang sangat menyenangkan, Erika sudah berada didalam kamar yang memang disediakan khusus untuknya. Esok ia akan bertemu Davi di restoran ibunya. Letaknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya. Ia berharap jalan yang ditempuhnya masih tetap sama.


Ia mengeluarkan pakaiannya dan memasukkan kedalam lemari. Terdengar pintu diketuk. Erika menoleh. Ibunya masuk kedalam kamarnya.


"Berapa lama kamu tinggal disini?" tanya Sandra.


"Rencana aku dua minggu. Sampai semua urusan aku disini selesai."


"Ya ma. Ternyata tinggal di sana jauh lebih nyaman." jawab Erika.


"Tapi sampai kapan? Apa kamu gak pernah berfikir untuk berkeluarga? Mama mau denger dari kamu. Sekarang kamu lagi deket sama siapa?" selidik Sandra.


"Aku belum kepikiran buat keluarga ma. Dengan pengalaman aku yang kemarin, aku gak yakin akan cepat membuka hati." ucap Erika sambil duduk disamping ibunya.


"5 tahun Jo, itu udah cukup lama. Kamu harus membuka hati kamu, Jo. Siapapun itu.." ucap Sandra bijak. "Kamu gak bisa selamanya hidup seorang diri. Kamu butuh pendamping."


Erika menatap ibunya. "Nanti Ojo coba ma.." ucapnya.


Sandra mulai tersenyum. "Cerita sama mama kalau ada berita baik."


Erika tersenyum.


Ketika ibunya pergi, ia melanjutkan kembali membereskan pakaiannya ke dalam lemari. Ya, 5 tahu berlalu. Kini ia kembali. Ia menatap handphonenya. Ternyata Davi menghubunginya. Ia tahu pasti Davi sudah mengetahui kedatangannya.


"Moshi..Moshi.." jawab Erika sambil tersenyum


"Erika.. jahat banget kamu!" teriak Davi.


"Jahat kenapa?" tanya Erika sambil tertawa.


"Kenapa gak kasih kabar sama aku kalo kamu udah landing dari sore?" tanya Davi dengan nada kesal.


"Kok kamu tau?" jawab Erika bingung.


"Gak penting. Pokoknya besok kita harus ketemu siang. Jangan lewat dari jam 11. Aku tunggu kamu di restoran mama." ucap Davi.


"Baik, putri.." jawab Erika.


"Ada surprise juga buat kamu." ucap Davi.


Erika mengerutkan keningnya. Ia ingin bertanya lebih tapi Davi menutup teleponnya dengan cepat. Ia hanya menatap layar handphone dan kembali menyimpannya di meja nakas. Pertemuan besok dengan Davi pasti akan menyenangkan seperti biasanya. Hanya Davi yang bisa menyuruhnya pulang walaupun hanya sebentar. Ia berfikir tentang surprise. Surprise apa yang Davi siapkan untuknya? Apakah ini tentang pernikahannya?


Iapun membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Walaupun ia baru satu hari berada dirumah ini, tapi rasanya ia sudah sangat lama mengenal bangunan ini. Ia merasa nyaman. Tak lama matanya mulai mengantuk. Ia menguap beberapa kali dan mulai tertidur. Ia berharap kejutan yang Davi berikan nanti tidak terlalu membuatnya terkejut.