
"Aku udah bilang sama kamu jangan macam-macam. Ancaman aku gak main-main, Sherly! Kamu bukan sahabat aku lagi sejak kamu menjauh."
Cilla selalu mengingat setiap ucapan yang pernah ia katakan pada Sherly sebelum ia meninggalkan semuanya. Ia menatap Vino yang tampak serius menatap dokumen yang ada di atas meja.
Vino menatap Cilla. "Aku gak tau gimana caranya aku berterima kasih sama kalian." Dokumen ini bukti. Jika saja dokumen-dokumen ini bisa ia dapatkan lebih awal, ia pasti tidak akan melakukan hal bodoh yang mengakibatkan perginya Sierra.
"Kita keluarga kak. Tapi memang Sherly terlalu berani. Jadi, sebisa mungkin kita harus membantu kakak."
Vino menatap keduanya. Kemudian ia menatap Dimas. "Aku terlalu bodoh karena terlalu cepat mengambil keputusan yang salah."
"Kakak mau mempermalukan Sherly?" tanya Cello.
Vino menatap Cello tajam. "Gimana caranya?"
"Kita cari bukti soal plagiat itu. Besok kita temuin Maria Grazia. Mudah-mudahan dia ada di rumah modenya."
"Thank you karena kalian udah membuka mata aku sama bukti-bukti ini. Cilla, bisa kamu up ini?" tanya Vino sambil mengangkat dokumen yang sedang ia pegang.
Cilla mengangguk cepat.
...***...
Sierra sedang duduk di meja kerjanya. Tubuhnya masih demam, tapi ia tidak bisa diam saja. Ia harus menyelesaikan design gaun yang diminta oleh calon pengantin. Ia harus menyelesaikan secepatnya. Beberapa orang menatapnya. Begitu juga Daniel. Ia mendekatinya dan duduk disampingnya.
"Kenapa kerja? Kamu masih sakit kan?" tanya Daniel.
Sierra menghentikan pekerjaannya. "Aku bisa ngobrol berdua sama kamu?"
Daniel sedikit terkejut dengan ucapan Sierra. Ia langsung berdiri. "Oke.. kita ke ruangan aku." ucapnya sambil berjalan menuju ruangannya. Sierra mengikutinya dari belakang.
Daniel duduk di kursinya. Ia menatap Sierra dengan tajam. "Kamu kenapa? Ada apa?"
Sierra duduk. "Aku gak punya temen disini selain kamu. Kamu punya temen pengacara?"
Daniel mengangguk. "Ada. Kenapa? Siapa yang perlu bantuan hukum?"
"Aku mau bercerai sama Vino." jawab Sierra.
"Cerai? Kenapa?" tanya Daniel.
"Kita gak cocok.. Aku mau secepatnya. Bisa bantuin aku?"
"Itu bukan alasan aja kalian berpisah. Kalian bisa bicarakan ini baik-baik." seru Daniel.
Sierra menggelengkan kepalanya. Ia tidak mau berpikir ulang mengenai pernikahannya. Menjadi pihak ketiga untuknya sudah cukup. Jika suatu hubungan pernikahan ada wanita lain, ia lebih baik mundur.
"Nanti aku cari pengacara."
"Satu lagi. Aku mungkin mengecewakan kamu. Tapi, aku juga mau mundur sama proyek pernikahan yang sedang kita planning." ucap Sierra.
"Yang orang Korea?" tanya Daniel terkejut. "Gak bisa. Kamu yang membuat mereka memilih kita. Gak bisa dong kamu seenaknya mundur."
"Maafin aku, Niel. Tapi aku lagi buat design gaun pengantin itu sampai beres. Cuman aku gak bisa ikutin acara wedding itu."
"Aku mau kembali ke Milan." jawab Sierra. Semalam ia sudah berbicara dengan ibunya tentang kepindahannya kesana. Dan ibunya mengijinkan karena hidupnya berada disana. Semua surat-surat yang ia perlukan sudah siap. Ia bisa pergi kapan saja ia mau. Tapi ia harus menyelesaikan urusannya disini dengan Vino.
Terkadang ia bertanya pada dirinya sendiri. Sedih? Tentu saja ia sedih. Ia tidak bisa bertahan. Sudah cukup airmata yang ia keluarkan hanya gara-gara sikap seorang pria. Ia kecewa pada Vino. Pria itu tidak pernah menemuinya satu kali pun. Hanya orangtua dan kakaknya saja yang mengunjunginya di rumah.
"Aku bukan teman yang baik kalo aku tetap mempertahankan kamu disini. Makasih karena kamu mau menyelesaikan gaun itu." ucap Daniel sedih. "Satu lagi. Mudah-mudahan kamu bahagia, Sierra. Kamu pantas itu."
Sierra mengangguk dengan mata berkaca-kaca. "Tolong kasih tau aku soal pengacara itu."
Daniel mengangguk. Sierra pun kembali ke mejanya dan mulai mengerjakan kembali. Sesakit apapun hatinya, ia tetap harus bekerja profesional. Ia menatap gambarnya. Fashion adalah dunianya. Ia mengingat perkataan Mili semalam. Milan selalu terbuka untuknya. Sepertinya ia harus mengalami hal ini terlebih dahulu untuk bisa kembali ke kehidupannya yang dulu. Ia beruntung memiliki sahabat dan teman-teman yang perhatian. Ia bisa mencari pekerjaan di Milan dengan mudah. Semua surat-surat penting miliknya sudah dikembalikan perusahaan ayahnya. Tidak ada alasan lagi ia diam disini. Ia bisa mengajak ibunya untuk pindah kesana jika semuanya sudah siap.
"Sierra, ada tamu." ucap seseorang dibelakangnya.
Sierra menoleh. "Iya. Makasih." jawabnya. Siapa yang datang mengunjunginya?
Iapun berjalan ke lobi kantornya. Cukup terkejut dengan siapa yang ada disana. Sosoknya menjadi perhatian karyawan lain. Tentu saja. Walaupun sudah berhenti, tapi ia masih diperhitungkan eksistensinya.
Sierra duduk didepannya. "Ada yang bisa dibantu?"
Sherly tersenyum. "Kebetulan aku lagi jalan-jalan sekitar sini. Aku denger kamu kerja ditempat ini." ucapnya sambil melihat ke seluruh ruangan.
"Kita bukan teman ataupun saudara. Kamu gak perlu datang ke tempat ini."
"Aku tau. Aku cuma mau liatin ini." ucap Sherly sambil mengeluarkan beberapa lembar kertas dari tasnya.
Sierra melihat salah satu kertas itu. Itu adalah design miliknya beberapa tahun yang lalu. Ia kemudian menatap Sherly. "Darimana kamu dapet ini?"
"Malu ya kalo design kamu hasil plagiat? Aku kenal baik sama fashion designer yang kamu ikutin ini." jawab Sherly angkuh.
"Kalo kamu mau Vino, ambil aja. Jangan bikin kebohongan yang bikin aku sakit perut, Sherly.. Pengetahuan kamu masih terlalu kecil buat tau tentang Maria Grazia."
"Ngaku aja kalo kamu plagiat. Vino juga udah tau masalah ini."
Sierra tertawa. "Plagiat ya? Coba kamu cari tau lagi tentang design itu. Tapi aku bangga karena kamu mencari tau tentang aku sedalam itu."
"Semua yang kamu kerjakan hasil plagiat." ucap Sherly dengan nada tinggi.
Sierra menggelengkan kepalanya. "Kamu stress, Sherly. Obsesi kamu terlalu tinggi. Kamu perlu aku kenalkan dengan psikiater hebat di kota ini?"
"Kamu anggap aku sakit jiwa?" tanya Sherly dengan nada tinggi
"Kamu yang bilang. Bukan aku. Oh ya, lebih baik kamu cari tau yang bener soal design itu. Informan kamu itu salah kasih tau kamu." jawab Sierra sambil berdiri. Ia berjalan menuju mejanya sambil tertawa.
Sherly berdiri sambil berteriak. "Aku kasihan sama kamu Sierra. Suami kamu lebih memilih aku daripada kamu! Kamu yang menghancurkan hubungan kita. Kamu adalah orang ketiga. Denger semuanya, jaga suami atau pacar kalian kalo gak mau diambil sama seorang Sierra!"
Sierra berbalik. "Udah marah-marahnya? Hati-hati di jalan ya Sherly.. Bye!" ucapnya sambil tersenyum.
Ia duduk di kursinya dan mulai memegang pensilnya kembali. Tangannya bergetar. Matanya mulai berkaca-kaca. Jantungnya berdebar dengan kencang. Hatinya sakit.
"You can do it, Sierra..." bisiknya..