Love Actually

Love Actually
Episode 85



"Aku tau kenapa kamu marah." ucap Andi ketika mereka duduk dikursi yang ada di tepi danau.


Erika menolehkan wajahnya. "Aku gak marah."


"Kamu marah. Keliatan kok." jawab Andi.


"Aku kecewa sama kamu karena menolong anak itu." ungkap Erika sambil menunduk.


Andi menggeser tubuhnya dan mengangkat salah satu tangannya. Ia menyimpannya di sandaran kursi yang ada dibelakang istrinya. Ia berbisik. "Kamu cemburu kan?" godanya.


"Enggak sedikitpun!" ucap Erika dengan nada tinggi.


"Maksudnya kamu cemburu sama anak itu? atau mamanya?"


Erika melirik sekilas.


"Gak apa-apa kalo gak mau ngaku. Aku jelasin sekarang. Semalem kamu langsung tidur jadi gak ada waktu buat aku kasih penjelasan. Kamu udah tau kan kenapa aku ada di klinik itu. Aku udah jelasin sama kamu sebelumnya. Semuanya gara-gara sepupunya. Jefry. Sebelum Jane tau anaknya sakit, dia sempet berantem sama Jefry. Aku gak tau apa yang mereka ributkan. Cuma waktu itu dia bingung. Dia gak punya orang yang bisa ada disisi dia selama di klinik. Pada intinya, Jane kurang uang."


Erika menggeser duduknya tapi ditahan oleh Andi. "Aku jelasin lagi."


"Aku gak mau denger." ucap Erika.


"Kamu harus dengerin aku, Jo. Jadi apa yang ada didalam otak kamu yang besar itu bisa tau apa yang terjadi sama aku dan kamu. Inget kata-kata aku siang ini. Wanita yang ada di hidup aku cuma Erika Ojo. Bukan Jane ataupun perempuan lain. Kamu ngerti? Jadi, kalo suatu hari Jane ataupun wanita lain datang..."


"Wanita lain lagi?" tanya Erika terkejut.


"Kalau misalkan ada wanita lain lagi.."


Erika menggelengkan kepalanya. "Gak ada wanita lain lagi. Aku gak mau.." ucap Erika tegas.


Andi tersenyum. "Oke. gak ada yang lain lagi.."


Erika tersenyum pada akhirnya. Kali ini ia menang melawan suaminya sendiri.


"Nah.. kalo kamu senyum berarti masalah kita udah selesai. Gimana? Kita pulang sekarang?"


"Aku mau minta ijin buat ke Jepang." ucap Erika.


"Jepang? Oke. Sekalian kita bulan madu kesana. Kapan?" tanya Andi.


Erika mengerutkan keningnya. "Bulan madu?"


"Ya. Aku juga mau tau kehidupan masa kecil kamu gimana disana. Tunggu beberapa hari. Sekalian ada surprise yang mau aku kasih ke kamu."


Erika hanya tersenyum. Surprise? Surprise apa yang menunggunya saat ini?


"Jo.. please, aku mohon sama kamu. Kita memang gak terus hidup tanpa bertengkar. Suatu hari kita juga pasti mengalaminya. Tapi aku mohon sama kamu. Kemanapun kamu pergi, jangan matiin handphone kamu. Aku terlalu khawatir sama kamu. Aku gak mau kamu kenapa-kenapa." ujar Andi.


"Oke.." jawab Erika pelan.


Beberapa dokumen penting milik perusahaan sudah dikeluarkan dari rak. Viar harus melakukannya dengan bantuan Davi karena ketika mereka pindah ke Indonesia bulan depan, semua data dan dokumen untuk pengganti mereka sudah siap.


Davi pun tahu tentang kepulangannya. Ia senang sekali. Tapi ketika tadi Erika berada di apartemennya, ia tidak membahas sedikitpun tentang itu.


"Sayang, Erika udah tau tentang kepindahannya yang ini?"


"Belum. Andi bilang jangan dikasih tau."


"Cuma Ibu Clara yang tau tentang kepindahan kali ini. Andi bilang mau kasih kejutan."


Davi mengangguk. Iapun berdiri dan duduk di kursi milik suaminya. Ia melihat beberapa flyer tentang hotel yang sedang ditangani mereka. Ia melihatnya dengan serius.


"Seandainya kita bisa bulan madu ke sini, aku gak akan minta apa-apa lagi." ucap nya.


Viar berdiri dan menghampiri Davi. "Disini aja kita udah bulan madu. Memang mau kemana lagi?"


Davi melirik suaminya. "Emang dasarnya pelit, ya pelit aja. Apartemen dikasih sama Andi. Selama aku tinggal disini, apa pernah kamu ajak kamu pergi main?"


Viar tertawa. "Nanti kalo kita udah ada di Indonesia, kita planning ke Bali. mau?" goda Viar.


"Janji!" ucap Davi.


"Aku gak pernah ingkar."


Terdengar suara Erika dan Andi sedang berbincang diluar. Davi langsung berdiri dan melihat dari balik pintu. Kedua manusia yang beberapa jam yang lalu terlihat bertengkar itu sudah berbaikan dengan saling bergenggaman tangan. Sudah tidak ada wajah marah Andi dan sahabatnya.


"Enak kan kalo liat kalian udah baikan.." goda Davi.


Erika langsung melihat Davi. "Lagi apa kamu disini?"


"Aku lagi bantuin suami aku."


Erika menghampiri Davi dan masuk ke dalam ruangan Viar. Sedangkan Andi masuk kedalam ruangannya.


"Bantu apa?"


"Bantu beres-beres aja."jawab Viar cepat.


"Ruangan kamu besar ya?" ucap Erika sambil melihat sekeliling ruangan. Ia berjalan menuju meja dimana terdapat kertas berserakan. Ia melihatnya satu persatu.


"Sorry berantakan. Aku lagi beres-beres aja dibantuin Davi." ucap Viar tidak enak.


Terdengar pula Andi memanggilnya dengan kencang. "Aku ke sebelah dulu." ucapnya sambil berlari.


Erika tertarik dengan design hotel di salah satu negara yang terdapat pada flyer. Ia ingat sekali Andi pernah berkata ada satu kamar yang ia buat khusus untuknya.


"Kenapa?" tanya Davi.


Erika mengambil salah satu flyer. "Enggak.."


"Kalian udah baikan?" tanya Davi sambil menghampirinya.


"Begitulah.."


"Trus gimana?"


Erika menoleh. "Gimana apanya?"


"Kamu tetep harus hati-hati. Wanita itu masih ada disini."


"Aku tau. Aku gak akan biarin dia mendekat sedikitpun. Apalagi sama Andi." ucap Erika tegas.


Davi tersenyum. Ia memegang lengan Erika. "Kamu memang the best."