Love Actually

Love Actually
Episode 106



"Marah-marah terus.." ucap Vino kesal. Ia baru saja naik ke kantornya setelah kena marah untuk kesekian kalinya oleh Sierra. Sulitnya mendapatkan maaf dari istrinya itu.


"Kenapa lagi?" tanya Dimas yang sudah duduk di mejanya.


"Siapa lagi, aku pusing kalo Sierra cemberut terus." jawab Vino kesal.


"Masih gara-gara Sherly?"


"Siapa lagi? Aku udah jelasin dari awal kalo Sherly itu cuma mantan aku. Aku harus gimana lagi?"


Dimas tertawa. "Kamu mau tau caranya biar istri kamu gak marah lagi?"


Vino langsung menatap Dimas. "Apa?"


Dimas berbisik langsung ke Vino. "Aku biasanya gitu kalo istri aku marah." ujarnya.


"Oke, aku coba." jawab Vino. Ia berjalan ke depan jendela. Taxi sudah menunggu Sierra. Ia melihat Sierra pergi dengan membawa beberapa jinjingan tas besar. Ia pikir itu dress pengantin yang akan ia bawa ke kantornya. Seharusnya Sierra tidak perlu pergi bekerja lagi. Ia sanggup memberikan nafkah pada istrinya itu senilai pekerjaannya saat ini. Tapi, mendesign pakaian sudah menjadi hobi istrinya sejak dulu. Ia tidak mau melarangnya.


Setelah Sierra pergi, ia mulai menghubungi kakaknya.


"Halo.."


"Andi. Aku tau kamu playboy waktu dulu. Aku juga tau kamu dapetin kakak aku juga gak mudah." ucap Vino tiba-tiba.


"Bentar-bentar. Sekalinya telepon langsung ngomong gak jelas. Maksudnya apa?" tanya Andi bingung. Padahal saat ini ia sedang rapat dengan karyawannya. Tapi ia tidak bisa menolak panggilan adik iparnya itu.


"Aku perlu sesuatu. Gimana caranya kamu bisa menaklukan Kak Ojo?" tanya Vino.


"Apa?" tanya Andi lagi. Ia berdiri dan berjalan keluar meninggalkan ruang meeting.


"Restoran paling romantis ada di daerah mana?" tanya Vino lagi.


Terdengar Andi tertawa ketika mendengar Vino berbicara seperti itu.


"Gak usah ketawa. Aku minta kamu jangan bilang ke Kak Ojo soal ini." ucap Vino serius.


"Kalian masih marahan?" tanya Andi.


"Bukan urusan kamu. Cepet kirim nama restoran yang aku bilang tadi. Jangan lupa nomor teleponnya." jawab Vino cepat.


Dimas hanya bisa tertawa dibelakangnya. Vino tidak peduli. Ia tidak pernah menganggap sahabatnya itu ada. "Terlalu kaku. Ngomong aja kalo kamu mau tanya cara menaklukan wanita sama kakak ipar kamu."


Vino melirik Dimas tanpa mengatakan apapun.


"Laki-laki kalo udah jatuh cinta ya gini. Sebenernya waktu dulu itu kamu belum jatuh cinta. Waktu Sherly pergi dan mengabaikan kamu, kamu biasa aja. Sekarang, istri kamu marah karena cemburu baru beberapa hari aja udah kelimpungan." goda Dimas.


...***...


Sierra sedang berada di salah satu restoran mewah bersama dengan Daniel. Mereka baru saja melakukan pertemuan dengan calon pengantin. Beberapa kali Daniel mencoba menahan diri karena bahagia mendapatkan klien kelas atas. Pernikahan kali ini bisa dilihat oleh siapapun. Tidak akan lama lagi nama WO miliknya akan terkenal. Ia sudah tidak sabar.


Daniel melihat Sierra yang sedang mengobrol dengan calon pengantin wanita. Ia masih memegang pensil dan kertas. Sierra sedang menggambar sesuatu sambil mendengarkan dengan seksama ucapan calon pengantin wanita. Ia tahu jika Sierra bisa menggambar gaun pengantin. Tapi ia tidak tahu jika Sierra bukan hanya bisa, tapi ia terlihat seperti pernah belajar. Ia ingat ketika menerima Sierra bekerja dengannya dua tahun yang lalu. Ia diterima tanpa sebuah dokumen. Ya, waktu itu ia menerima Sierra bukan sebagai timnya. Tapi sebagai asisten admin. Tidak disangka, ia berbakat. Jika mengingag perjuangan seorang Sierra, ia sedikit kagum.


Tanpa sadar Sierra sudah mendekat.


"Kenapa?" tanya Sierra bingung.


"Kamu hebat bisa dipake sama calon pengantin. Liat gambarnya.." ucap Daniel.


Sierra tersenyum malu. Ia memperlihatkan gambarnya pada Daniel.


Daniel hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Hebat kamu. Kamu ini siapa sih sebenernya? Kamu pernah sekolah design?"


"Enggak. Ini cuma bakat terpendam aja." jawab Sierra malu.


Daniel hanya menatapnya sambil tersenyum.


"Ya udah, kita pulang ke kantor atau makan siang?"


"Makan dulu aja." jawab Sierra. Ia mengeluarkan handphonenya yang sejak tadi mati. Itulah kebiasaannya. Ketika ada meeting, ia biasa mematikan handphonenya.


Terdengar suara pesan masuk banyak sekali. Ia melihatnya. Hampir semuanya berasal dari Vino. Tanpa membacanya, ia langsung menghubungi suaminya itu.


"Dimana kamu?" tanya Vino kesal.


"Emang kenapa? Aku lagi meeting." jawab Sierra dengan nada kesal.


"Aku jemput kamu sekarang. Kirim sekarang alamat kamu" seru Vino sambil menutup teleponnya.


Sierra melihat Daniel. Ia tersenyum malu. "Maafin aku, tadi suami aku telepon katanya mau kesini."


"Gak apa-apa. Kalo gitu aku duluan.." jawab Daniel sambil berjalan meninggalkannya.


Sierra menunggu diluar restoran setelah panggilan itu di tutup. Ia melihat Daniel melambaikan tangannya. Ia pergi. Sekarang tinggal dirinya sendiri. Ia berjalan melihat-lihat restoran sambil menunggu.


"Sierra!" panggil Vino


Sierra membalikkan badannya ke belakang. Ia melihat Vino berlari mendekatinya.


"Mau apa?":tanya Sierra bingung.


"Kita makan siang." jawab Vino sambil menggandeng lengan Sierra.


"Jujur deh, kamu mau apa?"tanya Sierra.


"Udah cukup marahnya. Aku udah beberapa kali minta maaf. Tolong maafin aku. Ke depannya kita bakal terus bareng. Masa kamu masih belum maafin aku. Kalo aku lagi pusing, aku memang kadang suka marah-marah gak jelas. Maafin aku. Itu memang tabiat buruk aku. Kadang aku ngelakuinnya gak sadar." jelas Vino.


"Ini terakhir kalinya aku ngasih maaf sama kamu. Kalo kamu kayak gitu lagi, jangan harap bisa dapat maaf dari aku. Aku kabur aja daripada harus tinggal sama suami kayak kamu." ucap Sierra.


Sierra mengambil bucket bunga lavender berwarna ungu pucat. Ia tersenyum. "Buat siapa?"


Vino tersenyum. "Berhasil kan? Kamu senyum kan?"


Sierra melirik Vino. "Lavender memang bunga kesukaan aku. Darimana kamu tau?"


"Aku nebak aja. Waktu aku kasih kamu bunga mawar, reaksi kamu biasa aja."


"Thank you.." ucap Sierra gemas. Ia senang sekali.


Vino hanya bisa menatap Sierra tanpa berkedip. Jantungnya mulai berdebar dengan kencang. Ia memegang dadanya perlahan. Sierra..


"Kenapa?" Tanya Daniel beberapa hari kemudian ketika ia melihat Sierra menyimpan setengah tubuhnya dimeja. Untungnya siang ini mereka tidak banyak pekerjaan. Melihat timnya bermalas-malasan seperti Sierra tidak membuatnya marah.


"Kayaknya aku kecapean. Kemarin aku bantu suami aku pindahan kantor." Jawab Sierra lemas.


"Pulang aja. Aku gak mau team ku sakit. Minggu depan ada acara besar. Kita harus bersiap. Ini acara pernikahan anak pejabat. Dan aku cuma membutuhkan bantuan kamu. Cuma kamu yang bisa aku andalkan, Sierra." ucap Daniel memohon.


"Kalo gitu aku pulang sekarang." Jawab Sierra lemas sambil membereskan barang-barangnya.


"Biar aku telepon suami kamu. Aku khawatir liat kamu pulang sendiri."


"Jangan. Suamiku lagi sibuk. Besok dia harus ke jepang. Aku pulang sendiri saja. Banyak taxi diluar. Jangan khawatir." ucap Sierra.


"Ya udah, aku antar kamu sampai naik taxi."


Daniel membantu Sierra untuk sampai keluar kantor. Mereka menunggu taxi namun belum datang. Walaupun lemas, Sierra masih bisa membuka note nya. Minggu depan ada acara berkelas. Sedangkan ia masih belum memiliki gaun. Mili bisa membantunya kali ini. Iapun mengirim pesan pada sahabatnya itu dengan cepat.


Vino sedang membereskan berkas-berkas yang akan dibawa besok pagi ke Jepang. "Jangan sampai ada yang ketinggalan." Ucapnya.


"Vin, istriku marah. Padahal dia tahu kalau kita kesana buat presentasi."


"Salah sendiri. Dari awal aku memang gak mau bawa istri. Aku beruntung gak punya istri yang cerewet."


Dimas tersenyum. Ia tidak merasa sakit hati karena memang begitulah kenyataannya. "Sekarang kamu sering muji Sierra." godanya


Vino langsung menghentikan aktifitasnya. Ia menatapnya. "Iya?"


Dimas mengangguk. "Pulanglah, istri kamu lagi sakit. Tadi daniel nelpon aku."


"Sakit? Kenapa?"tanya Vino khawatir.


"Aku gak tahu. Daniel tadi bilang kalau seharian ini wajah Sierra merah. Mungkin dia kecapean bantu kita kemarin. Kamu jadi suami kejam. Istri kamu dikasih kerjaan sebanyak itu. Padahal dia kan lagi bantuin kita" Belum Dimas menyelesaikan ucapannya, Vino sudah berjalan keluar. Dimas hanya tersenyum.


Vino membawa mobilnya menuju rumah dengan cepat. Kalau memang Sierra sakit karena ulah nya kemarin, ia harus menggagalkan kepergiannya ke jepang. Ia ingat kemarin, ia meminta Sierra untuk memasak besar dalam waktu satu hari. Ia harus bolak balik rumah, pasar dan kantor dengan cepat. Belum lagi ia harus mendekor ruangannya agar menyenangkan. Sierra dengan sigap mengganti gorden, memilih meja, kursi dan sofa khusus untuk ruang kerja dirinya. Vino benar-benar merasa bersalah. Jika saja kemarin ia tidak meminta tolong seperti itu, mungkin Sierra tidak akan sakit.


Jarak antara rumah dan kantor tidak terlalu jauh. Tapi ia merasa waktu terasa begitu lama sekali. Ketika mobil baru saja berhenti didepan gerbang, ia berlari kedalam untuk melihat keadaan Sierra. Langkahnya terhenti ketika ia melihat Sierra sedang memasak didapur. Vino mengerutkan keningnya. Sierra terlihat baik-baik saja.


"Aku dengar kamu sakit?" Tanya Vino sambil mendekatinya.


"Pasti Daniel telepon Dimas. Aku baik-baik aja."jawab Sierra tenang.. "Kenapa udah pulang? Jadi ke Jepang besok?"


Vino terus menatapnya. Pipi Sierra terlihat bersemu merah. Apakah itu karena tubuhnya yang panas atau ia memakai kosmetik sedikit tebal? Bibirnya memakai lipstik berwarna merah sehingga ia tidak bisa melihat apaSierra sakit atau tidak. "Kamu sendiri kenapa udah pulang?"


"Tadi aku meminta ijin pada Daniel untuk pulang cepat. Aku sengaja buat makanan spesial untuk nanti malam. Besok kalian akan ke Jepang selama satu minggu."


"Empat hari dan bisa dipercepat." Jawab Vino cepat.


"Kenapa?" Sierra bingung. Ia menghentikan kegiatannya sementara dan menatap Vino.


"Seminggu itu ide Dimas. Dia pengen jalan-jalan pake shinkansen. Kalo kerjaan itu cuma butuh waktu sekitar 3 hari."


"Oh. Oke.."


"Aku masukin mobil dulu ke garasi. Aku cemas dengar kamu sakit. Tadi aku cepat-cepat masuk tapi liat kamu lagi masak, kayaknya aku lagi digodain Dimas." Ucap Vino membuat Sierra terkesan. Vino pun pergi keluar.


Setelah Vino pergi, Sierra menghembuskan nafas dengan berat. Ia memegang meja pantry. Wajahnya berkeringat. Sebenarnya ia ingin tidur. Tapi ia tahu sifat Vino. Ia takut Vino membatalkan pekerjaannya ke Jepang.


"Aku harap ini enak." Pikir Sierra tanpa mencicipi masakan yang ia buat. Percuma ia mencicipi karena masakan itu tidak ada rasanya.


Setelah beres makan dan tidak ada komplen dari Vino, Sierra berjalan ke sofa yang ada diruang tengah. Ia langsung membuka laptopnya. Setelah meminum obat tadi, ia kini merasa lebih baik. Vino yang sejak tadi mengikutinya, langsung duduk disampingnya. Ia melihat laptop Sierra karena sedikit penasaran. "Kenapa mili?" Tanyanya saat melihat email dari mili.


"Aku minjem koleksi gaun mili buat dipakai minggu depan." Jawab Sierra tenang.


"Untuk apa?"


"Acara spesial. Acara in bisa disebut sukses tidaknya WO kami."


Vino mengangguk-anggukan kepalanya. "Kalau aku modalin kamu untuk usaha sendiri, gimana? Kamu mau? Kamu buat butik sendiri."


"Lalu gak lama kemudian aku pergi ke Paris untuk berbisnis. Gimana?" Jawab sierra tenang.


"Lebih baik aku tarik modal dan membiarkan kamu terus bekerja sama si Daniel itu. Kalau kamu pergi ke Paris, aku gak yakin kamu akan pulang."


Sierra tersenyum. Jawaban itu memang sengaja ia ingin dengar. Mengingat uang yang begitu besar membuatnya teringat pada uang 15 milyar itu.


"Besok aku harus pergi pagi sekali. Kamu gak perlu bangun buat nganter aku ke bandara. Aku bawa mobil sendiri." ucap Vino


"Oke. Hati-hati dijalan dan mudah-mudahan presentasi kamu sukses."


"Cepet bales email Mili. Trus kamu bantuin aku siap-siap. Kalo aku siap-siap sendiri, buat apa aku punya istri." ucap Vino sambil berdiri.


Dengan kesal Sierra berjalan mengikuti Vino. Ia sedikit terhuyung.