
Erika menatap jam tangannya. Tadi pagi ia sudah menyiapkan menu untuk semua pasien. Melelahkan tapi ia senang melakukannya. Beberapa orang team nya sudah siap di dapur. Sedangkan ia sudah siap dengan beberapa data pasien yang sedang dirawat. Ia harus hati-hati. Setiap pasien memiliki pola makan dan jenis makanan yang bisa dimakan dan tidak. Tantangan terberat lain untuknya saat ini adalah ia harus membuat menu untuk direktur rumah sakit dan teman-teman dari beberapa rumah sakit yang datang kesini siang ini. Ia diberikan tugas untuk membuat menu sebanyak lima menu dengan gizi seimbang.
“Ready?” ucapnya.
“Ready” jawab teamnya serentak.
“Kita buat menu untuk pasien dulu. Ada 50 orang pasien. Awasi mata kalian. Jangan sampai salah kasih makanan ke pasien. Satu jam pekerjaan kita, kita harus fokus ke menu pasien. Setelah itu kita bisa fokus ke menu yang diminta dokter Toni”
“Siap!” jawab mereka.
Erika mulai mengerjakan pekerjaannya. Gara-gara ia sempat magang di rumah sakit Tokyo, sekarang ia melakukan pekerjaannya dengan disiplin ketat seperti ketika ia berada di sana. Dan untungnya teamnya bisa langsung solid. Setiap gesekan karena ia orang baru bisa diatasi dengan mudah. Ia menghargai pegawai baik yang muda maupun yang tua. Perjalanannya tidak akan mudah. Tapi ia siap dengan semua peristiwa yang akan terjadi di masa yang akan datang.
Ia berjalan ke setiap juru masak hanya untuk mengecek masakan. Ia melihat jam tangannya, sudah tinggal beberapa menit lagi. Ia merasa sedang melakukan perlombaan. Entah mengapa Ia yakin Tante Alena akan datang. Sahabat mamanya itu adalah teman baik Dokter Ivan. Dan yang lebih parah, ia belum mengetahui jika dirinya sudah bekerja tanpa bantuan Tante Alena. Bagaimana sikapnya nanti ketika bertemu dengannya? Sedangkan ia tidak sempat menghubungi ibunya karena sejak pagi pekerjannya sangat banyak.
Pintu dapur terbuka dengan kencang. Seorang suster masuk dengan tergesa-gesa.
“Bu, dipanggil dokter Ivan.” ucapnya pada Erika.
Tanpa berkata apapun, Erika langsung membuka jubah berwarna putih itu dan membuka topi serta face shield miliknya. Ia pun berjalan mengikuti suster itu yang terlihat berjalan begitu cepat. Ia sempat mendengar dari para juru masak terdahulu jika Dokter Ivan adalah orang yang perfeksionis. Apa yang dimintanya harus dikerjakan dengan sempurna. Kedua tangannya terasa dingin membayangkan hal itu.
Alena dan beberapa teman dokternya sedang melakukan pertemuan yang biasa mereka lakukan satu bulan sekali. Tapi kali ini berbeda. Sahabatnya sekaligus rivalnya ketika berada di rumah sakit ini sudah menjadi direktur. Ia teringat ketika kejadian yang menimpanya gara-gara ulah Dokter Ivan. Ia menunduk sambil tersenyum. Itu sudah lama sekali. Ia harus merasakan ketakutan untuk waktu yang cukup lama pada pria itu. Tapi ia bersyukur Dokter Ivan akhirnya bisa menemukan wanita yang didambakannya dan mereka kini berteman.
"Dok, jangan melamun!" Seru Dokter Ivan.
Alena menoleh pada dokter itu dan tersenyum. "Aku lagi inget jaman dulu."
"Tolong jangan diinget-inget. Berulang kali aku ngomong sama dokter, aku malu. Please, jangan diinget lagi." Ucap dokter Ivan memohon.
Alena tersenyum. "Ya, aku gak akan inget lagi. Tapi kalo bukan karena kejadian itu, kita gak akan jadi sahabat. Sayang Dokter Darren gak bisa bertahan lama bersama kita." Ucap nya dengan mata berkaca-kaca.
"Pergi ke daerah konflik dan menjadi salah satu korban sudah jadi keputusannya. Kamu inget dok, kata-kata terakhir dokter Darren sama kita? Teruskan perjuangan kita." Ucap dokter Ivan.
Alena mengangguk. "Kita harus bikin schedule buat pergi ke makam Dokter Darren. Perjalanan kesana agak lama."
"Ya, nanti kita bikin schedule. Ngomong-ngomong, kamu pernah nangis gini juga didepan suami kamu?" Goda Dokter Darren.
"Gak mungkin. Dia terlalu posesif. Kalo tau aku nangisin pria lain, aku gak mungkin bisa kesini lagi." jawab Alena sambil tertawa.
"Ya, kamu udah tua pun, cinta suami kamu gak luntur. Cemburunya masih banyak." Ucap Dokter Darren sambil tertawa. "Oh ya, aku mau ngenalin kamu sama ahli gizi rumah sakit ini. Kamu pasti kaget menu yang dia sajikan nanti olahan dia semua."
"Oh ya? Siapa?" Tanya Alena antusias.
"Nanti. Aku udah panggil dia. Bentar lagi dia kesini."
Erika memegang tangannya. Ia gugup karena ia akan bertemu dengan dokter-dokter hebat. Tadinya ia berfikir untuk berhenti melanjutkan mimpinya untuk menjadi ahli gizi. Tidak disangka mimpinya menjadi nyata. Ia menatap pintu yang tertutup rapat itu. Tidak terdengar suara orang-orang sedang berbincang. Iapun menarik nafas perlahan.
"Sore dok, manggil saya?" Tanya Erika.
"Erika? Kenapa kamu disini?" Tanya Alena terkejut.
"Erika ini ahli gizi dirumah sakit ini." Jawab Dokter Ivan.
"Kenapa gak pernah bilang kerja disini? Tante pikir kamu gak mau."
Erika menunduk dan berbisik. "Maaf Tante, tapi aku cuma mau kerja pake usaha aku sendiri. Kalo aku sama mama bilang sama Tante, mungkin cara aku dapet kerja disini lebih gampang."
"Seberapa dekat sih kalian?" Tanya dokter Ivan.
Alena tersenyum. "Erika ini calon menantuku." Jawab Alena
"Oh ya?" Jawab Dokter Ivan terkejut.
Erika hanya tersenyum datar ketika mendengarnya.
"Jadi ini ahli gizi yang kamu banggakan?" tanya Alena pada Dokter Ivan.
"Ya, sangat bangga. Aku beruntung bisa dapatkan Erika disini." jawab Dokter Ivan sambil tertawa.
Beberapa dokter mulai menghampiri mereka karena pembicaraan mereka mulai sedikit lebih kasual. Tidak ada rasa canggung. Erika pun mundur dan menghampiri Dokter Ivan.
"Dok, saya siapin makanan sekarang."
Dokter Ivan mengangguk dan menyuruhnya untuk segera pergi.
Erika berjalan keluar dengan cepat. Pekerjaannya sangat menyenangkan. Ia pun mulai mengeluarkan menu dari dapur. Tatapannya serius ketika dokter-dokter mulai makan. Kedua tangannya mulai berkeringat. Ia gugup. Untung saja ia menuliskan gizi di setiap menu. Sehingga dokter-dokter itu tidak memintanya untuk menjelaskan.
Ketika mereka mulai santai dan mengobrol, ia keluar dari ruangan.
"Erika!" panggil seseorang.
Erika menoleh. Tante Alena sedang berjalan menghampirinya.
"Nanti pulangnya kita bareng. Tante ada perlu sama kamu."
Erika mengangguk. Iapun keluar dari ruangan dan berjalan menuju ruangannya. Ia duduk di kursi dan mengeluarkan handphonenya. Ada panggilan tidak terjawab dari nomor yang tidak ia kenal. Iapun menghiraukannya. Ia melihat nomor telepon Andi. Sudah seminggu ini ia tidak bertemu karena Andi sedang sibuk bekerja. Iapun terkadang lupa pada Andi karena kesibukannya. Sampai sekarangpun Andi tidak tahu dimana dirinya bekerja. Andi tidak pernah bertanya tentang pekerjaannya. Iapun mencoba menghubunginya kembali tapi tidak diangkat. Ia menghela nafas dan mulai menutup mata.
Andi, kamu dimana?