
Apa urusannya koran gosip dengan tempat ini? Kata-kata itu terus terngiang di telinganya sampai pagi ini. Ia sampai tidak berani untuk keluar tenda sejak kemarin. Bahkan kepergiannya dengan letnan Edo gagal.
"Erika!" panggil Alena.
Erika menghampiri Alena yang sedang bersiap. "Kenapa Tante?"
"Coba kamu liat berita hari ini." ucapnya.
Erika kebingungan. "Berita apa?"
"Wajah kamu ada di berita hari ini." jawab Alena sambil tersenyum. "Tante gak nyangka keberadaan kamu disini jadi perhatian media."
Erika langsung mengeluarkan handphonenya dan mencari berita pagi ini. Ia benar-benar terkejut. Semuanya diluar ketidaktahuannya. Wajahnya ada di setiap berita. Apa yang harus ia lakukan? Ia menatap Tante Alena panik.
"Gimana ini Tante? Kita baru ada disini sehari tapi aku udah bikin masalah." ucap Erika panik.
Alena tersenyum. "Harusnya itu bagus. Adanya kamu disini bisa bikin orang-orang jadi tahu tempat ini. Orang-orang banyak yang enggak tau kalo tempat ini butuh perhatian lebih. Kamu mirip Tante waktu muda. Waktu itu juga Tante sempet jadi trending." jawab Alena.
"Tapi Erika gak mau. Tante tau sendiri dari semalem Erika gak mau keluar tenda. Erika takut." ucap Erika dengan nada panik.
"Gak apa-apa. Oh ya, baru sehari disini kamu juga udah punya fans."
"Siapa?"
"Letnan Edo. Dia sampe jagain kamu diluar tenda waktu semalem. Lucu sih, tapi bisa bikin seseorang kesel." jawabnya pelan. Alena langsung teringat Andi.
Erika terus berfikir. Jika disini ia menjadi perhatian, bagaimana dengan pengungsi dan orang-orang disini? Perhatian orang-orang akan membuat acara bakti sosial ini sia-sia. Jika ia pulang, siapa yang akan mengantarnya? Tiba-tiba ia teringat Bumi. Saat ini hanya ialah yang bisa diminta bantuan.
Iapun menjauhi Alena dan mengendap-endap keluar tenda. Ketika ia mengeluarkan handphonenya, seseorang memanggilnya.
"Erika!"
Erika menoleh dan mendapati Letnan Edo sedang berdiri tak jauh darinya. Ia terlihat gagah dengan pakaian seragamnya. Wajahnya terlihat fresh. Iapun tersenyum memaksa dengan mata melihat ke kiri dan ke kanan.
"Kamu tenang aja. Gak ada wartawan disini. Semalam saya dan kawan-kawan sudah meminta mereka untuk menghentikan pantauannya sama kamu. Jadi hari ini kamu sudah aman. Tentang berita di luar, itu sudah diluar batas kami. Kami gak bisa menghentikannya." jelas Edo.
"Kalo gitu, mau saya antar ke tempat yang harus kita batalkan kemarin?"
"Iya, kita pergi sekarang." ucap Erika antusias.
Dilain tempat.
Andi melihat berita yang memunculkan wajah seseorang yang ia kenal. Ketika sarapan tadi, ia mendapatkan notifikasi dari teman-teman basketnya tentang berita pagi ini. Dan inilah alasannya ia pergi. Wajah Ojo ada di setiap berita. Tapi bukan itu yang membuatnya antusias pergi ke tempat ibunya dan Ojo berada. Ia melihat beberapa foto dimana ia dekat dengan pria setengah pelontos itu.
"4 jam perjalanan aku sanggup!" ucapnya kencang. Ia membawa mobilnya pergi menembus jalanan yang masih kosong pagi ini.
Iapun menyalakan televisi yang menyiarkan berita hari ini. Untuk kedua kalinya ia melihat wajah Ojo ada disana. Ia memukul dashboard mobilnya.
"Shit! Kenapa harus cantik gitu sih Jo? Trus siapa sih laki-laki yang deket sama kamu? Kok bisa-bisanya kamu kesana jadi perhatian orang-orang. Duh! bisa stress kalo gini!" teriak Andi.
Tidak ada yang mendengarnya. Bahkan semut sekalipun. Padahal siang ini ia ada janji dengan Jane untuk mengajaknya makan siang tapi ia malah pergi untuk menemui ibunya dan Ojo. Ada perasaan aneh ketika ia melihat Ojo di televisi. Perasaan yang akhir-akhir ini sering menghantuinya semenjak Ojo tidak dalam pengawasannya. Ia merasa tidak rela Ojo dekat dengan pria lain. Baik itu teman ataupun orang lain.
Bagaimana jika gara-gara berita ini, Ojo menjadi artis? Laki-laki yang mendekatinya akan semakin banyak. Lalu kesempatannya untuk bersama Ojo akan berkurang. Lalu bagaimana jika suatu hari nanti Ojo memiliki kekasih? Tapi iapun memiliki Jane disisinya. Seharusnya itu adil untuk mereka berdua. Lalu mengapa ia merasa tidak rela membiarkan Ojo pergi dengan pria lain? Seharusnya, Ojo juga tidak rela melihatnya pergi dengan Jane. Tapi, Ojo terlihat baik-baik saja. Lalu, kenapa ia merasa tidak baik-baik saja? Ada apa dengannya?
Erika turun dari motor yang dibawa Edo. Hampir dua jam ia melihat lokasi yang terkena banjir bandang itu. Ia prihatin melihat warga yang masih antusias membereskan puing-puing bangunan yang terkena banjir. Beberapa kali ia memutuskan untuk membantu salah satu dari mereka. Ya, pakaian dan sepatunya sudah seperti tidak berbentuk. Begitu kotor. Iapun memutuskan untuk kembali dengan Edo.
"Makasih ya do, saya jadi tahu tempat ini." ucapnya sambil turun dari motor.
"Kalau kamu mau dianter lagi, saya siap antar." ujar Edo.
Erika menggelengkan kepalanya. "Cukup. Besok mungkin saya pulang. Tapi, makasih buat semuanya. Saya bukan artis ataupun orang penting. Saya disini datang sebagai relawan. Tolong samakan perhatiannya seperti orang lain." jelas Erika.
"Oke, siap." jawab Edo.
Suara klakson mobil mengejutkan mereka berdua. Erika hampir marah-marah tapi ia urungkan setelah melihat siapa yang ada didalam mobil.
"Andi?"