Love Actually

Love Actually
Tamu kedua



Dua orang model tengah berjalan mencari sebuah apartemen yang tidak jauh dari tempat mereka bekerja. Karena mereka tinggi dan langsing, tentu saja mereka berdua menjadi pusat perhatian orang-orang yang melihatnya. Salah seorang melihat handphonenya untuk melihat google maps.


"Nah, gedung ini!" Seru Cilla antusias.


Serly mengerutkan keningnya. "Beneran ini? Ini kan penthouse paling mewah di London. Beberapa orang aja yang bisa beli ini. Itu juga kalo mereka bukan pengusaha terkenal dan kaya raya gak akan punya."


"Kakak aku memang kaya. Kamu belum tau aja. Waktu itu Cello mau jodohin kamu sama Kak Andi tapi kamu malah milih laki-laki lain. Sayang banget" Ucap Cilla


Serly tersenyum. "Cuma pacar aku yang nerima aku kerja gini. Dia mau nunggu aku. He's perfect for me, Cil. Kalo aku sama sepupu kamu, mana mungkin dia ijinin aku kerja. Modelling itu mimpi aku dari kecil. Gak ada yang bisa merubahnya. Bahkan pacar aku sekalipun." Ucapnya percaya diri.


"Oke, aku nunggu ketemu sama pacar kamu yang perfect itu." Ucap Cilla.


Mereka pun berjalan menaiki lift yang berada disebelah kanan. Semuanya tampak mewah. Bahkan di lift sekalipun. Cilla menekan tombol untuk menuju lantai yang akan ia datangi.


"Kak Andi bener-bener. Beruntung yang jadi istrinya." Ucapnya.


Ketika lift terbuka, ia hanya melihat satu pintu saja. Ia menatap Serly. "Satu lantai?"


"Coba kamu pijit bel pintu nya."


Cilla menekan bel pintu. Ia mendengarnya dari balik pintu. Terdengar suara musik dari dalam yang berasal dari bel pintu.


Andi membuka matanya. Hari libur begini siapa yang mengganggu istirahat mereka. "Jo, buka pintunya." Ucapnya.


Tapi istrinya tidak mau membuka matanya. ia malah semakin mempererat pelukannya.


"Jo.." panggil Andi lagi.


Erika melepaskan pelukannya dan beralih ke sisi ranjang. "Kamu yang buka." Ucapnya.


Andi pun menggeleng. Ia turun dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu depan. Ia melihat keluar, sepertinya memang sudah siang.


Ketika pintu terbuka, ia mengerutkan keningnya. "Cilla..lagi ngapain kamu disini?"


"Suruh masuk dulu dong tamunya.." ucap Cilla. Bahkan tanpa disuruh masuk pun mereka berdua langsung masuk. "Wah, Kak Andi penthouse nya gila mewahnya." Seru Cilla sambil berjingkrak-jingkrak.


Andi menghampiri Serly. "Ini temen Cilla? Sama model juga?" Tanyanya.


"Iya kak, kenalin aku Serly. Aku juniornya Cilla." Jawab Serly sambil mengangkat tangannya untuk berjabat tangan.


"Oke, sebentar aku bangunin dulu istri." Ucap Andi sambil berjalan ke kamar.


"Cil, aku kenal kakak sepupu kamu. Ternyata dunia ini sempit." Ucap Serly sambil tertawa.


"Kenal?"


Andi membuka pintu pelan. Ia menghampiri tempat tidur karena istrinya masih tidur.


"Jo, ada sepupu aku. Kembarannya Cello." Ucapnya pelan.


Erika membuka matanya cepat. "Kembaran Cello yang model itu?" Tanyanya sambil bangun.


Andi mengangkat tangannya untuk membetulkan rambut istrinya yang acak-acakan. "Iya"


"Sebentar, aku mandi dulu."seru Erika sambil berlari ke kamar mandi. Ia bahkan melupakan camisol yang biasa dipakainya.


"Halo kak.." seru Cilla.


"Hai Cilla, apa kabar?" Tanya Erika sambil duduk. Tapi ia tetap tidak dapat memalingkan wajahnya dari teman Cilla. "Kayaknya kita pernah ketemu.." ucapnya pada Serly.


Serly tersenyum. "Iya, di pernikahan kakak bulan lalu."


"Pernikahan?" Tanya Andi dan Cilla bersamaan.


"Iya aku inget. Waktu itu kamu dateng sama Vino kan? Tapi kamu datang gak lama." Ucap Erika.


Serly hanya mengangguk sambil tersenyum.


Cilla langsung menepuk bahu Serly. "Jangan-jangan kamu pulang mau ketemu pacar kamu itu, adiknya Kak Erika?"


Serly mengangguk. "Iya."


"Dunia memang sempit. Ternyata kamu pacarnya adik kak Erika." Seru Cilla sambil tertawa. "Tapi waktu itu kenapa gak ketemu Cello?"


"Aku dateng cuma bentar soalnya aku harus pulang lagi ke Paris." Jawab Serly.


"Kak, kita pertama sekaligus terakhir ketemu waktu acara pertemuan yang besar-besaran itu kan? Waktu kak Erika baru pulang dari Jepang?" tanya Cilla.


"Iya. Kenapa gak pernah pulang? Gak kangen sama mama kamu?" tanya Erika pada Cilla.


"Mama udah tau kok, ini mimpi aku. Pekerjaan ini lebih penting dari apapun. Makanya aku minta Cello buat pulang dan berbisnis disana. Sekalian nemenin mama sama papa." jelas Cilla.


"Berarti kami egois, Cil. Kamu mengorbankan Cello." seru Andi.


"Bukannya gitu kak. Aku juga udah sharing sama Cello soal ini. Kontrak aku sama manajemen udah didepan mata. Belum lagi kontrak sama produk. Aku gak mungkin ngebatalin semua. Trus kalo aku pulang, aku harus rela mengubur semua mimpi aku?" tanya Cilla sedikit kesal.


"Udah.. udah.. lebih baik kita makan. Kalian mau makan apa?" tanya Erika.


Cilla dan Serly tampak terdiam. Iapun menoleh pada suaminya kesal.


"Kita makan diluar aja yuk! mumpung libur. Kalian bisa pilih mau makan dimana. Nanti biar Kak Andi yang bayar semua" ucap Erika.


"Oke Kak." jawab Cilla dengan wajah menunduk.


Iapun berdiri dan menarik lengan Andi. Ketika berada didalam, Erika langsung mencubit lengan suaminya karena kesal.


"Apaan sih Jo? Aku salah apa?" tanya Andi kesal.


"Bukannya seneng didatengin sepupu kamu, kamu malah bikin dia kesal. Kenapa sih harus ngebahas itu didepan temennya?"


"Aku ngomong kenyataan. Buat apa ngejar mimpi aneh gitu.."


"Udah, cukup! Sekarang kamu siap-siap. Mandi, pake baju santai, bawa uang yang banyak dan siap-siap jajanin kita bertiga makanan enak."


Andi tersenyum dan merangkul Erika. "Aku gak butuh makanan enak, Jo. Liat kamu aja udah cukup buat aku..." bisik Andi.


Erika langsung mencubit pipinya. "Mau siap-siap gak? Kalo enggak aku pergi sama mereka berdua." ancam Erika.


"Oke, oke, aku mandi sekarang.." ucap Andi sambil berlari kedalam kamar mandi.