
Andi melihat istrinya di balik pintu kamar mandi yang berada satu ruangan dengan kamarnya. Ia tidak berbicara sepatah katapun sejak semalam. Ketika pulang tadi malam, ia terus terdiam bahkan ketika ia diajak bercanda. Ia sempat berfikir jika istrinya marah besar kali ini. Tapi karena itulah ia meminta istrinya datang ke klinik agar ia melihat sendiri jika semuanya terjadi bukan karena kehendaknya.
“Jo.. are you ok?” tanya Andi tanpa bergerak selangkah pun.
Tidak ada jawaban dari istrinya. Ia masih berbaring. Biasanya ketika pagi hari seperti sekarang, istrinya sudah sibuk didapur untuk membuatkannya sarapan. Tiba-tiba tubuh istrinya bergerak. Ia membuka selimutnya namun masih terdiam. Iapun menghampirinya dan duduk disamping ranjang. Ia menyentuh lengan istrinya dan mengusapnya perlahan. “Are you ok? Kamu sakit?”
Erika menggelengkan kepalanya. “Aku gak apa-apa. Aku cuma kurang tidur.”bisik Erika.
“Aku pikir kamu sakit. Lebih baik kamu tidur aja. Aku harus pergi sekarang.”Ucap Andi sambil menundukkan wajahnya dan mengecup pipi istrinya. “Hubungi aku langsung kalo kamu sakit.” ucapnya sambil berdiri. Ketika berjalan ke luar kamar, ia tak henti menolehkan wajahnya untuk melihat istrinya. Tapi istrinya masih tetap pada posisinya. Ia masih berbaring sambil memunggunginya.
Selama perjalanan ke kantor, ia terus berfikir. Apakah istrinya cemburu? Sejak semalam ia jarang membuka suaranya. Ada perasaan senang di hatinya. Sepertinya kali ini cintanya terbalas. Apakah ia harus menggoda istrinya terlebih dahulu agar ia mengungkapkan perasaan yang sesungguhnya?
Erika keluar dari kamar dengan malas. Ia tidak akan pergi kemana-mana hari ini. Beberapa kali handphonenya berbunyi tapi tidak ia angkat. Ia teringat pada ucapannya ketika Andi mengajaknya untuk menikah. Ia tidak mau ada orang ketiga. Ia tidak mau ada wanita lain di kehidupan mereka yang bisa dibilang masih baru ini.
Tiba-tiba ia berfikir. Untuk apa Andi menolong perempuan itu? Dan anak itu? Kenapa Andi perhatian sekali? Memang ada hubungan apa antara ia dan anak itu?Jika ia memiliki anak. Apa Andi akan lebih perhatian padanya? Tanpa sadar ia memegang perutnya. Pikirannya benar-benar kacau. Semalaman ia tidak bisa tidur memikirkannya segala kemungkinan.
Iapun duduk dikursi malas yang ada di balkon penthousenya. Sejak dulu ia paling tidak suka mengalami hal seperti ini. Cemburu. Ya, ia cemburu pada dua orang itu. Ia cemburu sekaligus ketakutan jika saja Andi tiba-tiba lebih memilih kedua orang itu. Ia pikir ketakutannya mendasar karena peristiwa tadi malam. Mungkin Andi memang tidak mau ia merasa bersalah karena membantu dengan memintanya datang. Tapi tetap saja semuanya salah. Andi hanya miliknya. Ia tidak mau membaginya dengan orang lain. Memikirkannya saja membuatnya kesal.
Iapun beranjak dari duduknya dan berjalan ke dalam. Lebih baik ia pergi untuk menenangkan diri. Cuaca diluar terlihat sangat baik. Setelah berganti pakaian, ia mengambil kamera mini nya dan memasukkannya kedalam tas. Sebelum pergi, ia mengirim pesan pada Andi untuk tidak menghubunginya hari ini.
"Jangan hubungi aku?" tanya Andi kesal.
Viar menatapnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?"
"Ojo bilang jangan hubungi aku. Sekarang aku yakin dia marah sama aku. Dia cemburu. Sekarang aku harus cari dia kemana? Gimana kalo dia ada apa-apa? Emang gampang bikin aku khawatir." ujar Andi marah.
"Salah sendiri. Kenapa harus dateng ke klinik." jawab Viar sambil berlalu.
"Viar! bentar!" teriak Andi.
Viar melambaikan tangannya. "Aku masih harus beresin berkas buat pindahan."
Andi melemparkan berkas yang ada di mejanya ke lantai. Menggoda Ojo untuk mengutarakan perasaannya? Mustahil. Ia belum pernah se kesal ini sejak menikah.