
"Jangan asal kalo ngomong ya!" seru Erika marah. Ini adalah kedua kalinya ia bertemu dengan Sherly. Pertama ia bertemu dengan wanita itu ketika ia menikah dulu. Dan pertemuan kedua mereka membuatnya sangat marah.
Sherly menoleh pada Erika. "Oh, ada kak Ojo. Apa kabar?"
"Jangan merasa dekat dengan saya dengan panggil nama saya Ojo!" ucap Erika marah.
Sierra memegang tangan Erika dan menariknya. "Udah kak. Aku anter kakak ke parkiran dulu." ucapnya. Ia kemudian menatap Sherly. "Kita belum selesai. Aku anter ke parkiran dulu."
Sherly tersenyum sinis. Ia menatap kepergian kedua wanita yang bisa menghancurkan keinginannya untuk mendapatkan Vino kembali. Iapun masuk kedalam. Awalnya ia hanya ingin mencari udara dingin karena kebetulan cafe ini yang paling dekat dengan apartemennya. Tapi ternyata, ia bertemu dengan pesaingnya nomor satu. Ia adalah alasannya datang ke Indonesia. Ia adalah satu-satunya wanita yang merebut Vino darinya.
Ia duduk sambil menunggu wanita itu kembali. Jika ia hitung, ia belum lama berada disini. Tapi, ia merasa jalan menuju kebahagiaannya tidak akan lama lagi. Ia sudah mencari tahu tentang wanita yang merebut Vino darinya itu tadi malam. Lulusan Paris tapi sayangnya ijazah nya harus diambil oleh perusahaan ayahnya. Ia tersenyum sinis. Ternyata hidupnya menderita. Dan ia akan membuatnya lebih menderita lagi. Ia akan melakukannya karena telah mengambil Vino darinya. Ia masih menyelidiki semua hal tentang wanita itu.
"Kita bicara sekarang. Mau kamu apa?" tanya Sierra tiba-tiba.
Sherly mengangkat wajahnya dan menatap wajah Sierra. "Asli. Aku gak nyangka Vino mau sama kamu. Apa karena uang 15 milyar itu? Jadi harga diri kamu seharga itu?"
Sierra terhentak. Ia tidak tahu siapa yang membocorkan berita tentang uang 15 milyar itu. "Siapa yang bilang?" tanyanya marah.
"Kok muka kamu jadi merah? Merasa? Kalo aku kasih kamu uang tunai 20 milyar, apa kamu mau tinggalin Vino? Jadi kita berdua gak usah bikin Vino buat memilih salah satu diantara kita. Gimana?"
"Kamu bayar 100 milyar pun aku tolak. Tanpa uang 15 milyar pun, kalau memang takdir aku sama Vino harus bertemu dan menikah, kita harus menerimanya. Asal kamu tau, aku sama Vino saling mencintai. Jadi tanpa kamu suruh pun aku yakin Vino pilih aku." jawab Sierra percaya diri.
Sherly mulai merasa kesal. Ia mengepal jari-jarinya. "Oke, kita bisa buktikan nanti. Siapa yang Vino pilih." ucap Sherly.
Sierra tersenyum sinis dan berjalan menjauhi Sherly. Berdekatan dengan wanita itu membuat hatinya sakit. Ia tidak pernah bercerita dengan siapapun tentang uang itu. Siapa yang menceritakannya? Apakah Vino? Lalu bagaimana ia bisa menyelidiki tentang kehidupan masa lalunya semudah itu? Karena tidak tahan, iapun berlari untuk memanggil sebuah taxi.
Ia duduk di belakang supir untuk pergi menuju rumah ibunya. Sudah satu bulan ia tidak pergi ke rumahnya. Mumpung Vino masih pergi, ia bisa meluangkan waktu tentang banyak hal seorang diri.
Sesampainya disana, ia melihat rumah ibunya terlihat sepi. Kedua pintu tertutup rapat. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan. Siapa tahu ibunya sedang berada disamping rumahnya. Mobil usang milik ibunya masih terparkir di samping rumahnya. Tidak ada yang memakainya kecuali dirinya sendiri. Ibunya tidak bisa menyetir sejak menikah. Ia pernah bisa memakai mobil ketika masa muda dulu, tapi sejak menikah ibunya sudah melepaskan tangannya di atas stir mobil.
Ketika telepon ditutup, Sierra masuk dan menghampiri ibunya. Ia terisak.
"Ma.." panggil Sierra.
Firly menoleh dan seketika menghapus air matanya. Ia menatap Sierra dengan wajah terharu. Ia ingin menyampaikannya dengan cepat pada anaknya itu.
"Sierra..."
"Kenapa ma? Siapa yang telepon?" tanya Sierra panik.
"Akhirnya Sierra.. hutang mama sama kamu bisa terbayar. Perusahaan papa tadi telepon. Katanya hasil kamu belajar di Paris akan dikirimkan sore ini. Ijazah kamu akan dikembalikan. Setelah dilakukan penyelidikan secara menyeluruh sama risk manajemen disana, papa dinyatakan tidak sepenuhnya bersalah, sayang..." Isak Firly.
"Akhirnya ma. Kenapa bisa ma?" jawab Sierra senang. Bertahun-tahun keluarganya hidup dalam rasa bersalah dan ketakutan. Ia menghampiri ibunya dan memeluknya.
"Ada perusahaan lain yang membuang limbah itu, Sierra. Bertahun-tahun kita berjuang demi sebuah kebenaran. Akhirnya hari ini saatnya. Kamu bisa kembali mendapatkan pekerjaan yang layak. Nama baik kamu akan dipulihkan."
"Gak ada yang lebih penting daripada mama dan Vino. Sierra udah nyaman bekerja dengan Daniel. Lagipula Sierra udah menikah. Sierra mau berunding dulu sama Vino. Sierra akan ikuti semua ucapan Vino karena dia suami Sierra sekarang."
Firly hanya mengangguk.
Dilain tempat. Sherly berulang kali ingin memakan makanan yang tadi ada didepannya. Tapi sulit. Ia terus mengeluarkan makanan yang tadi dicernanya. Semuanya akibat ia terlalu sering memakan pil pelangsing. Sebagai model, ia memang diharuskan membuat tubuhnya tetap langsing.
Setelah mengeluarkan isi perutnya, ia mendapatkan telepon dari seseorang yang sangat jauh. Ia mengangkatnya. Ia terdiam ketika seseorang itu mengatakan sesuatu tentang masa lalu Sierra.
"Plagiat?" tanyanya terkejut.