
Beberapa saat sebelumnya.
Alena dan Sandra berdiri didekat pelaminan. Mereka berdua memiliki pikiran yang sama. Kenapa pengantin belum juga keluar dari tempat mereka mengganti pakaiannya. Mereka berduapun sama-sama kebingungan melihat wajah Erika yang sejak tadi tidak terlihat bahagia. Tidak ada senyuman di bibirnya. Apakah ia menyesal menikah dengan Andi?
“Apa kamu juga berfikir sama kayak aku?” bisik Sandra. Ia memiringkan tubuhnya tapi matanya tetap ia fokuskan pada para tamu yang sudah datang. Beberapa kali ia mendengar dari tamu yang berpapasan dengannya mengatakan hal yang tidak enak tentang anaknya.
“Tentang Ojo?” tanya Alena.
Sandra mengangguk.
“Ya. Kamu ibunya. Kamu pasti lebih tau. Tapi buat aku yang penting mereka udah nikah.” ucap Alena senang.
“Aku denger semalem mereka berantem. Aku gak tau tentang apa.” Ucap Sandra.
Tiba-tiba Alena melihat Cello sedang berjalan melewatinya dengan berbagai makanan ditangannya. Ia seperti tidak kehabisan makanan karena sejak acara tadi berlangsung, ia melihat keponakannya itu sedang memakan sesuatu.“Cello!” panggil Alena sambil melambaikan tangannya.
Cello berbalik. Mulutnyapun masih penuh oleh makanan. Cello tidak sepeti Cilla yang harus menahan memakan makanan enak didepannya. Ia tidak pernah takut pada berat badan. Berbeda dengan kembarannya. Ia menghampiri Alena. “Ya, mama Al. Kenapa?”
“Kamu bawa mereka keluar. Kamu liat tamu udah mulai dateng tapi pengantinnya gak ada.”ucap Alena.
Cello kebingungan. “Mereka siapa?”
“Pengantin. Dua-duanya.”
“Oh ya, kenapa kak Erika dari tadi cemberut terus?” tanya Cello polos.
Alena langsung menatap Sandra. “Tuh, denger San. Bukan kita aja yang pikir gitu.”
Cello menyimpan piring yang berisi makanan ringan. Ia hanya cukup meminum minuman ringan untuk melancarkan makanan yang ada ditenggorokannya.
“Kalo gitu, serahkan semuanya sama Cello!” serunya.
Andi menatap Cello yang sudah berubah wajahnya menjadi ceria. Terkadang ia bingung. Sejak kapan sepupunya belajar akting? Ketika di Londonpun dulu ia sering terkena leluconnya karena yang ia lakukan seperti asli. Ia kembali melihat sekelilingTidak ada apapun diluar. Hanya sekumpulan tamu undangan yang sudah datang dan menunggu mereka. Mereka sedang menatapnya. Ia dan Erika hanya bertatapan dan bingung. Sedangkan tersangka utamanya, Cello langsung pergi meninggalkan mereka berdua sambil tersenyum. Ia seperti tidak sedang melakukan kesalahan apapun.
Erika menarik tangannya dari genggaman Andi. “Prince, aku gak biasa diliatin kayak gini..” bisik Erika
“Tenang Jo.”bisik Andi. Andi langsung mencari Daniel. Ia memutar kepalanya untuk mencari tim weddingnya. Dan pria itu terlihat. Pria itu sedang berjalan menghampirinya.
“Kapan dimulai?” bisik Andi.
“Kalian lama banget didalem. Sekarang kita mulai” jawab Daniel.
“Kenapa?” tanya Andi.
Erika menoleh dan menggelengkan kepalanya. “Gak ada apa-apa.” jawab Erika gugup.
Andi mendekatkan kepalanya. “Bilang sama aku. Kalo enggak….”
“Ada Bumi diantara undangan.”jawab Erika.
"Mantan kamu?" tanya Andi
Erika mengangguk tanpa menatap Andi.
Andi langsung menyipitkan matanya untuk mempertajam penglihatannya. Ia melihat pria itu sedang menatap mereka berdua diantara ranting pohon yang hampir jatuh. Ia datang sendiri. Sungguh gentleman setelah apa yang terjadi pada mereka lima tahun yang lalu. Tidak, ia tidak akan melepaskan istrinya apapun yang terjadi. Dan sesuai dengan janjinya pada istrinya, ia akan melakukan pembalasan pada pria itu jika ia menunjukkan batang hidungnya didepan matanya. Ia melepaskan tangan Erika dan mulai berjalan.
“Prince, jangan disamperin. Acara kita baru mau dimulai.” bisik Erika panik.
“Justru karena acaranya belum dimulai, aku mau pemanasan dulu.” jawab Andi sambil berjalan meninggalkan pelaminan.
Mata Andi terus menatap pria yang kini sedang menatap istrinya itu. Ia terlihat seperti penjahat yang siap memangsa istrinya kapan pun. Kenapa tidak ada yang mengenal pria itu? Apakah karena skandal yang diciptakannya lima tahun yang lalu karirnya hancur? Seandainya saja ia melihat kolom gosip beberapa hari ini, ia pasti tidak akan kehilangan berita tentang pria itu. Iapun mulai mendekat. Ia memasukkan kedua tangannya kedalam saku dan menatapnya sinis. Ia berdeham kencang.
Bumi berbalik dan terkejut melihat pria yang sudah menjadi suami Erika sedang menatapnya tajam. Iapun memutuskan untuk menjauh tapi kerah kemejanya ditarik dari belakang.
“Jangan harap kamu bisa pergi. Gak ada yang undang kamu!” ucap Andi marah. Ia tidak berniat untuk melepaskan kemeja Bumi.
“Lepas. Aku cuma mau liat Erika menikah.” ucap Bumi dengan nada bergetar.
Suara kencang Andi menjadi perhatian tamu. Erika pun langsung menghampirinya. Ia terkejut melihat Bumi datang ke pernikahannya tanpa membawa siapapun disampingnya. Pakaiannya pun sedikit lusuh. Wajahnya berbeda dengan ketika ia pergi ke Jepang. Apa yang terjadi pada pria itu? Dan kini, ketika ia sedang diancam seperti itu oleh Andi, ia tidak terlihat membela dirinya.
Erika langsung memegang lengan Andi. “Udah, lepasin Prince..” bisiknya.
Andi menatap Bumi tajam. “Aku lepasin kamu. Tapi ada satu hadiah dari aku yang udah aku siapin.” ucap Andi. Ia langsung melayangkan tinju dengan satu tangan pada wajah Bumi.
Oughh!
“Prince!” teriak Erika panik. Ia masih melihat Bumi bangun dan mulai meninggalkan tempat. “Prince! Ini acara kita. Tolong kamu hargai.” Isaknya. Ia terlalu malu untuk melihat para tamu yang sedang melihat mereka.
“Janji seorang pria selalu ditepati. Aku udah janji sama kamu. Aku udah tepati. Kamu bisa tenang sekarang.” bisik Andi. Ia menatap Erika dan menghapus airmatanya. "Gak pantes kamu mengeluarkan airmata."
Tanpa menunggu jawaban Erika, ia langsung memegang tangannya dan berjalan kembali ke pelaminan. Tak lama acara itupun kembali dilanjutkan. Pernikahan dengan drama yang sedikit menegangkan. Tidak ada yang mengundang pria itu datang ke pernikahannya. Sepertinya ia harus mulai waspada. Bagaimana pria itu bisa tahu jika ia dan Ojo menikah? Siapa yang telah memberitahunya? Ia akan mencari tahu.