
Erika melihat ibunya dari kaca depan mobil Bumi yang sedang ia kendarai. Ia masih terdiam sejak menaiki mobil tadi sepulangnya mereka dari bandara. Ia bisa merasakan keresahan yang dirasakan ibunya. Sahabat baiknya sedang diambang maut yang menimpanya. Iapun sama. Ia merasakan keresahan yang Andi rasakan. Bagaimanapun ia pernah dekat dengan pria itu. Iapun menatap kembali jalanan yang mulai sepi oleh mobil.
Ia melirik Bumi sesekali. Ia tidak menanyakan apa yang terjadi padanya. Ketika ia meminta diantar ke bandara untuk menjemput ibunya, ia dengan senang hati mengantar. Untung saja ada Bumi yang perhatian padanya. Tanpa sadar ia memegang tangan Bumi yang sedang memegang tuas kopling. Bumi menoleh padanya dan tersenyum.
"Jo, besok kamu kerja?" tanya Sandra tiba-tiba.
Erika langsung melepaskan tangannya. "Kerja ma."
"Kalo gitu mama sekarang pulang ke apartemen kamu aja." jawab Sandra.
"Oh iya ma." jawab Erika gugup.
Sandra melihatnya. Anak perempuannya itu terlihat sudah move on dari sosok Andi. Secepat itukah? Jika mengingat ia ketika dulu mengejar Calvin, rasanya ia sulit melepaskan Calvin dari bayang-bayangnya. Zaman telah berubah, pikirnya. Lalu bagaimana nanti dengan anak laki-lakinya? Siapa wanita yang mau menerima sosok Vino yang sangat dingin itu? Apakah untuk Vino, ia harus melakukan perjodohan? Sama seperti Erika? Tapi Erika jauh lebih bahagia dengan pilihannya. Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia terlalu banyak berfikir. Vino masih harus beberapa tahun lagi untuk lulus kuliah. Ia tidak boleh memikirkan hal selain pendidikannya.
"Ma, kalo Vino kapan pulang?" tanya Erika.
"Kalau sesuai jadwal minggu depan." jawab Sandra.
"Baguslah." ucap Erika.
Sandra mengeluarkan handphonenya. Pukul 9 malam. Anak laki-lakinya belum menghubunginya malam ini. Biasanya ia menghubunginya pukul 9 setiap hari.
Mobil Bumi dibelokkan ke apartemen Erika. Ia berhenti di parkiran yang ada di basement satu. Erika turun terlebih dahulu untuk membuka pintu belakang dimana ibunya duduk.
"Mama gak bawa baju ya?" tanya Erika.
"Mama nginep cuma semalem aja." jawab Sandra sambil turun dari mobil.
Merekapun melangkah menuju lift. Ketika didalam lift, Sandra melirik Bumi.
Bumi terlihat gugup. "Kita hubungan yang sehat-sehat aja kok tante. Percaya sama Bumi." jawabnya sambil tersenyum.
"Mama pertanyaannya aneh. Emangnya kita mau ngapain." seru Erika.
Sandra langsung mengerutkan keningnya. "Apa salah mama nanya gitu sama kalian? Sebagai ibu, mama berhak nanya hubungan kalian sampai mana? Kamar kalian sebelahan. Pokoknya mama gak mau denger berita buruk dari kalian. Apapun itu." ucap Sandra sedikit marah.
Erika memegang lengan Sandra. "Iya ma, maaf. Kita gak ngelakuin hal yang aneh-aneh kok.
Saat pintu lift terbuka, mereka terkejut melihat seseorang yang menatapnya dengan marah. Ia memakai topi dan jaket tebal. Koper besar berada disampingnya dan sedang ia pegang.
"Vino?" tanya Sandra sambil berlari menuju anak laki-lakinya itu. Ia langsung memeluk Vino dengan erat. "Katanya baru minggu depan pulang? Pantes mama sempet aneh, kamu gak nelepon mama malam ini."
Vino menatap pria disamping kakaknya. Iapun menatap Erika. "Buka pintunya. Cepetan! Aku udah nunggu hampir dua jam." ucapnya kesal.
Erika langsung tersenyum. Adik yang dirindukannya tiba. Ia masih dingin seperti terakhir ia melihatnya.
"Ah, Vino sayangku! Kamu marah-marah terus sih!" ejek Erika sambil mencubit pipi Vino.
Vino menolak cubitan Erika. "Aku baru turun dari pesawat tiga jam yang lalu. Aku langsung kesini karena mau kasih surprise sama mama. Tapi kamu, malah pergi sama laki-laki lain." ucap Vino tajam pada Erika.
Erika langsung memeluk Vino. "Kalo kamu marah-marah terus gak akan ada yang suka sama kamu! Welcome sayang, selamat datang di apartemen Erika Ojo." ucap Erika senang.
"Buka! Jangan welcome segala. Aku udah gak kuat pengen duduk." jawab Vino sewot.
Erika tertawa. "Oke, oke, aku bukain sekarang." jawabnya.
Merekapun masuk kedalam apartemen. Mereka melupakan seorang pria yang masih mematung didepan pintu. Tiba-tiba Erika kembali ke luar dan menarik lengan Bumi. "Ayo masuk!" seru Erika senang.