Love Actually

Love Actually
Patah Hati



Andi dan Jane masih berkutat dengan makanan yang ada didepannya. Malam ini Andi membawanya kesebuah restoran mahal. Andi ingin malam ini sempurna. Ia ingin menyatakan perasaan nya tentu saja dengan sempurna. Beberapa tahun memendam baru kali ini kesempatan itu datang padanya. Ia mengeluarkan handphonenya. Ketika Jane sedang ke toilet, ia mulai membuka WhatsApp nya.


"Sorry ya para wanita cantik. Tapi kayaknya malam ini aku sold out." Bisiknya sambil tertawa. Ia mulai menghapus nama grup dan nomor telepon teman-teman wanita yang ia buat sejak kuliah dulu.


"Kenapa An?" Tanya Jane yang sudah berada dibelakangnya


Andi berbalik dan tersenyum. "Enggak. Aku baru dapet telepon." Jawabnya berbohong


"Kenapa? Kamu disuruh pulang?"


"Gak mungkin. Disini lebih penting dari acara manapun." Jawab Andi santai.


Jane tersenyum dan menunduk malu.


Ketika Jane duduk, Andi memegang tangan Jane. "Jane, ada yang mau aku omongin sama kamu."


"Tentang apa?"


"Tentang kita. Jane, aku suka sama kamu. Sejak kuliah dulu. Kamu mau jadi pacar aku?" Tanya Andi gugup. Ia paling tidak bisa berkata-kata. Hanya kalimat itu yang terus teringat di kepalanya.


Jane menunduk. "Aku juga suka sama kamu."


"Ya udah kita pacaran aja. Kamu mau kan?" Tanya Andi semangat.


Jane hanya mengangguk sambil tersenyum. Andi tidak pernah sesenang ini sebelumnya. Ia membawa tangan Jane ke bibirnya dan mengecupnya pelan.


Erika menatap langit didalam kamarnya. Ternyata dugaannya benar, Andi menyukai Jane. Tidak diragukan lagi. Sejak pertemuan mereka di restoran waktu itu, Andi berubah. Ia jarang menghubunginya. Ia juga jarang mengajaknya main. Saat itu ia sudah pasrah jika Andi harus berubah karena Jane. Tapi, kenapa airmata ini tidak mau berhenti mengalir? Ini adalah airmata pertamanya untuk seorang laki-laki. Angin malam yang masuk kedalam kamarnya membuat tubuhnya sedikit menggigil. Ia memeluk tubuhnya sendiri. Mulai esok, ia akan fokus untuk bekerja dan membantu misi yang sedang dijalankan oleh Tante Alena.


Persahabatan dengan Andi baru saja terjadi dalam hitungan bulan. Ia tidak bisa meminta lebih pada Andi. Mereka hanya berteman. Tidak lebih. Mungkin dari awal ia terlalu nyaman dengan Andi sehingga ia merasa kecewa ketika Andi memiliki kekasih. Ia sering mendengar jika pria dan wanita tidak mungkin bersahabat karena salah satunya kemungkinan akan patah hati. Jadi ini yang ia rasakan sekarang? Kenapa perasaan itu cepat sekali datang padanya? Apa mungkin karena kebersamaan mereka yang terlalu sering? Ia menyentuh pipinya dan menghapus airmatanya.


Ia mengambil handphonenya dan membuka foto-foto kebersamaan yang pernah ia lakukan dengan Andi dan menghapusnya satu persatu. Andi, ternyata ia hanya terlalu percaya diri padanya. Apa yang ia lakukan pada setiap wanita adalah sama. Pantas saja waktu itu ia diminta untuk masuk grup teman-teman wanitanya. Ia menghela nafas. Ia kecewa. Lamunannya tanpa sadar dilihat oleh seseorang dari bawah.


Sandra menatap Erika dari balkon rumahnya. Anaknya sedang melamun dan terlihat menangis. Iapun berjalan ke kamarnya.


"Ojo!" Panggil Sandra ketika ia berada didepan pintu kamar. Ia mengetuk pintu pelan.


Erika membuka pintu dan membiarkan ibunya masuk kedalam.


"Tadi Tante Alena nelpon mama. Mulai kapan kamu mau pindah?"


Erika memunggungi ibunya. "Aku gak mau tinggal di apartemen Tante Alena ma. Tolong kasih tau Tante Alena. Kalo aku sendiri yang bilang, aku gak enak"


Sandra mengerutkan keningnya. "Kenapa?"


Erika menggelengkan kepalanya.


Sandra memegang bahu Erika dan memutarnya sehingga mereka saling berhadapan. "Ada apa? Cerita sama mama. Apa kamu sama Andi berantem?"


Erika langsung menatap ibunya. Tiba-tiba matanya berkaca-kaca. "Enggak ma, kita gak berantem. Aku cuma gak mau berhubungan sama semua yang menyangkut Andi. Aku emang egois. Tante Alena temen mama, gak seharusnya dia dapet keegoisan aku."


Sandra memegang wajah Erika dengan kedua tangannya. Ia menatapnya. "Andi? Kenapa kamu gak mau berhubungan lagi sama Andi? Apa yang Andi lakukan sama kamu?"


Bulir-bulir airmata mulai menetes. "Andi punya pacar ma."


"Kamu suka sama Andi?" Tanya Sandra.


Erika menggelengkan kepalanya.


"Aku gak tau. Aku kecewa aja. Aku gak punya temen lagi selain Andi."


"Kamu merasa sakit?"


Erika mengangguk pelan.


Sandra mulai memeluknya dengan erat. "Yang kamu alami sekarang itu patah hati, sayang. Bibir kamu bisa berkata tidak. Tapi airmata itu bisa menjelaskan semuanya. Tanpa kamu sadari, kamu jatuh cinta sama Andi. Kamu kecewa karena Andi punya pacar. Kalian gak bisa pergi bareng-bareng lagi. Itu wajar. Mau mama samperin Andi?"


"Jangan ma, buat apa.." Isak Erika.


"Jadi, tetep gak mau tinggal di apartemen Tante Alena?"


"Gak mau. Aku mau cari sendiri aja."


Sandra melepaskan pelukannya. "Kalo gitu, besok mama ketemu sama Tante Alena. Udah jangan nangis. Andi gak pantes kamu tangisin. Masih banyak Andi - Andi lain diluar sana yang pantas buat kamu."


Erika hanya mengangguk tanpa menjawab ucapan ibunya. Ya, masih banyak Andi-andi lain diluar sana.


Sandra keluar dari kamar Erika. Inilah yang paling ia tidak sukai dari awal. Andi tanpa sadar menyakiti anaknya. Air mata Erika biarlah milik Andi. Tapi ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi.


Sepeninggal Sandra, Erika duduk di ranjang. Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Ia hanya menatap handphonenya. Tiba-tiba Andi menghubunginya.


"Jo!" Panggil Andi dengan nada riang.


"Hey.." jawab Erika pelan.


"Kamu udah tidur? Jo, akhirnya Jo! Jane Terima aku!" Jawabnya sambil berteriak senang.


"Oh.."


"Cuma oh?" Tanya Andi kecewa.


"Selamat. Akhirnya penantian kamu membuahkan hasil." Jawab Erika pelan.


"Thanks Jo, aku gak pernah sesenang ini." Ucap Andi


"Prince.." panggil Erika pelan


"Ya.."


"Aku harap kita gak akan ketemu lagi. Diacara manapun lebih baik kita gak perlu kenal." Ucap Erika dengan suara pelan.


"Apa maksud kamu Jo?" Tanya Andi bingung.


"Prince, ini terakhir kalinya aku manggil kamu prince. Maafin aku dan jangan tanya alasannya. Aku gak mau punya sahabat laki-laki lagi. Kita cukup tau dan kenal sekilas. Aku harap kamu ngerti." Jawab Erika sambil menutup handphonenya.


Andi menatap handphonenya yang sudah ditutup oleh Erika. Ia terdiam sejenak.


Gak mau ketemu lagi?


Gak usah kenal lagi di acara manapun?


Gak mau punya sahabat laki-laki lagi?


Andi masih bingung dengan apa yang dikatakan Erika. Tapi ia tidak peduli. Dimana pun ketika mereka bertemu nanti, ia akan tetap menganggap Erika sebagai sahabatnya. Sampai kapanpun..